KEKERASAN TERHADAP TOKOH JAYA DALAM NOVEL JERMAL KARYA YOKIE ADITYO: SUATU PENDEKATAN PSIKOLOGI

Jermal

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karya sastra adalah karya seni yang berbicara tentang masalah hidup dan kehidupan, tentang manusia dan kemanusiaan yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Esten, 1990). Sejalan dengan itu, Rusyana (1982), menyatakan sastra adalah hasil kegiatan kreatif manusia dalam pengungkapan penghayatannya tentang hidup dan kehidupan, tentang manusia dan kemanusiaan yang menggunakan bahasa. Dari kedua pendapat itu dapat ditarik makna bahwa karya sastra adalah karya seni, mediumnya (alat penyampainya) adalah bahasa, isinya adalah tentang manusia, bahasannya adalah tentang hidup dan kehidupan, tentang manusia dan kemanusiaan.

Di dalam kehidupan manusia terdapat berbagai pengalaman dan permasalahan. Melalui karya sastra, manusia dapat belajar dan menghayati berbagai masalah kehidupan yang sengaja ditawarkan pengarang. Novel merupakan bentuk karya sastra yang sekaligus disebut fiksi. Kebenaran dalam dunia fiksi adalah kebenaran yang sesuai dengan keyakinan pengarang, kebenaran yang telah diyakini keabsahannya sesuai dengan pandangannya terhadap masalah hidup dan kehidupan. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi dan tidak dianggap benar di dunia nyata dapat terjadi dan dianggap benar di dunia fiksi (Andri, 2009).

Melalui karyanya, sastrawan menampilkan fenomena kejiwaan manusia melalui tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam cerita yang secara imajinatif mampu menimbulkan citra atau bayangan-bayangan tertentu di dalam benak penikmatnya. Ia mampu membangkitkan perasaan-perasaan senang, sedih, marah, benci, dendam, dan sebagainya yang tercipta bukan karena adanya persamaan atau pertautan nasib, melainkan karena pengaruh teknik pengarang bercerita, piihan kata-katanya, susunan kalimatnya, penampilan tokoh-tokoh ceritanya dan sebagainya. Dalam hal ini sastrawan telah mengedepankan aspek-aspek psikologis dalam karya sastra.

Novel Jermal karya Yokie Adityo ini terdiri atas 10 bab. Novel ini banyak menampilkan gejala kejiwaan yang dialami tokoh-tokoh cerita. Kelebihan novel ini adalah ceritanya diangkat dari kehidupan nyata. Akan tetapi, menurut penulis, yang paling menarik untuk dianalisis adalah adanya kekerasan terhadap salah satu tokoh, yaitu Jaya. Kekerasan terhadap tokoh Jaya merupakan tindak kekerasan terhadap anak-anak. Kekerasan tersebut tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara psikologis. Pemicu kekerasan terhadap tokoh Jaya antara lain ketidakmauan ayahnya untuk mengakuinya sebagai anak karena adanya masa lalu yang belum dapat dilupakan sang ayah. Kekerasan lain yang dialami Jaya adalah kehidupan keras yang harus dijalaninya di jermal, sebagai tempat penjaringan ikan yang terpencil di tengah lautan. Sedangkan Jaya sebelumnya tidak pernah menjalani kehidupan di jermal, apalagi latar belakangnya sebagai anak sekolahan berbeda jauh dengan anak-anak jermal lain yang terbiasa hidup keras dan tak pernah mengenyam pendidikan.

Selain beberapa kelebihan di atas, penulis memilih untuk menganalisis novel ini karena sepengetahuan penulis belum ada penulis lain yang mengangkat novel Jermal karya Yokie Adityo ini sebagai bahan penelitian karya tulis ilmiah. Lain itu, dengan melihat bagaimana kisah Jaya sebagi tokoh anak-anak, novel ini sangat menarik untuk dikaji. Penulis ingin mengetahui lebih jauh aspek-aspek kekerasan yang dialami tokoh Jaya yang kejadiannya merupakan cerminan dari kehidupan anak-anak pekerja keras (buruh) yang hingga kini masih banyak kita temui dalam masyarakat kita.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini sebagai berikut.

1.2.1 bagaimanakah unsur-unsur intrinsik yang membangun novel Jermal?

1.2.2 bagaimanakah aspek-aspek kekerasan terhadap tokoh Jaya dalam novel Jermal?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.

1.3.1 untuk mengetahui unsur-unsur intrinsik yang membangun novel Jermal 1.3.2 untuk mengetahui aspek-aspek kekerasan terhadap tokoh Jaya dalam novel Jermal.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Novel

Novel merupakan bagian dari prosa fiksi. Oleh karena itu, sebelum dibahas tentang novel, maka terlebih dahulu dibahas tentang prosa fiksi. Mengingat novel juga bagian lain dari genre sastra di samping puisi, cerpen, kritik, ataupun essai.

Kata fiksi atau fictum atau fiction dalam Oxford Learners Pocket Dictionary berarti tulisan mengenai sejumlah temuan orang atau peristiwa yang tidak nyata. Secara harfiah menurut Tarigan (1986:120), fiksi adalah sesuatu yang dibuat, sesuatu yang diciptakan, dan sesuatau yang diimajinasikan.

Sedangkan novel sebagai bagian dari prosa fiksi menurut Esten (1990:12) adalah fragmen kehidupan manusia dalam jangka waktu yang lebih lama dan di dalamnya terjadi konflk-konflik yang menyebabkan terjadinya perubahan jalan hidup pelakunya. Pengertian lain tentang novel yang diungkap Tarigan (1986:164) adalah sebuah eksplorasi atau kronik pengehidupan dan kehidupan, merenungkan dan melukiskan dalam bentuk tertentu, pengaruh, atau ikatan hasil atau tercapainya gerak-gerik tertentu.

Dari pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan, bahwa novel adalah bentuk prosa fiksi yang menceritakan suatu peristiwa pada rentangan waktu yang yang cukup lama, yang ditandai perubahan nasib tokoh yang terlibat dalam peristiwa-peristiwa yang disampaikan oleh pengarang.

2.2 Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri (Nurgiyantoro, 1998:15). Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik sebuah karya sastra adalah unsur-unsur yang (secara langsung) turut serta membangun cerita. Kepaduan antar berbagai unsur intrinsik inilah yang membuat sebuah karya berwujud. Atau sebaliknya, jika dilihat dari sudut kita pembaca, unsur-unsur (cerita) inilah yang akan dijumpai jika kita membaca sebuah karya sastra.

Titik Maslikah (2007), menyatakan unsur-unsur intrinsik dalam novel yaitu, judul; tema; penokohan dan perwatakan; latar atau setting; alur atau plot; sudut pandang; penundaan dan pembayangan; konflik; dan gaya bahasa. Dalam tinjauan pustaka ini, penulis hanya akan membatasi teori unsur-unsur intrinsik tersebut pada 1) penokohan dan perwatakan; 2) latar atau setting; dan 3) konflik.

2.2.1 Penokohan dan perwatakan

Tokoh merupakan unsur yang sangat penting dalam karya sastra. Tanpa tokoh cerita, karya sastra (prosa) tidak dapat berjalan, karena tokohlah yang bertugas menyampaikan cerita kepada pembaca. Sudjiman (1988:16) menyatakan tokoh cerita adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa dan perlakuan dalam berbagai peristiwa cerita

Sebagai representasi dari kehidupan nyata, setiap tokoh cerita mempunyai watak yang berbeda-beda. Tokoh cerita akan menjadi hidup jika ia memiliki watak seperti layaknya manusia. Watak tokoh terdiri dari sifat, sikap, serta kepribadian tokoh. Wellek dan Warren (1989:29) membagi watak tokoh menjadi dua, yaitu watak bulat dan watak datar. Watak bulat adalah watak tokoh yang berubah-ubah dari awal hingga akhir, istilah lainnya adalah compleks character. Watak datar adalah watak tokoh yang dari awal kemunculannya hingga akhir tidak mengalami perubahan watak. Berwatak baik terus, atau jahat terus.

Jones (dalam Nurgiyantoro, 1995) menyatakan penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Dalam modul teori sastra (UT, 2009) dijelaskan penokohan, yaitu cara kerja pengarang untuk menampilkan tokoh cerita. Penokohan dapat dilakukan menggunakan teknik (a) cakapan, (b) tingkah laku, dan (c) pikiran dan perasaan. Sedangkan cara kerja pengarang memberi watak pada tokoh cerita dinamakan perwatakan, yang dapat dilakukan melalui dimensi (a) fisik, (b) psikis, dan (c) sosial.

2.2.2 Latar

Lubis (dalam Maslikah, 2007) menjelaskan latar adalah konteks terjadinya peristiwa dalam cerita atau lingkungan yang mengelilingi pelaku. Peristiwa dalam cerita harus tergambar dengan jelas lokasi dan waktu. Dalam cerita konvensional penggambaran latar biasanya jelas, kecuali dalam karya sastra absurd yang umumnya kacau atau disamarkan

Pradopo (dalam Maslikah, 2007) membagi aspek latar berdasarkan fungsinya menjadi lima bagian, yaitu:

  • tempat terjadinya peristiwa
  • lingkungan kehidupan
  • sistem kehidupan sesuai dengan lingkungan tokoh
  • alat-alat kehidupan
  • waktu terjadinya peristiwa

Karena latar berkaitan erat dengan tokoh, dari sini dapat disimpulkan bahwa latar adalah seluruh keterangan mengenai tempat, waktu, serta suasana yang ada dalam cerita.

2.2.3 Konflik

Konflik merupakan unsur yang penting dalam cerita. Konflik akan membuat cerita lebih hidup. Konflik muncul karena perbedaan watak tokoh-tokoh cerita. Semakin banyak tokoh, interaksi dan konflik yang timbul juga semakin banyak.

Secara umum, konflik adalah pertentangan (Maslikah, 2007:56). Wallek dan Warren (1989) menyatakan konflik sebagai sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan aksi dan pembalasan. Tarigan (1984:134) membagi konflik menjadi lima macam, yaitu:

  • konflik antara manusia dan manusia
  • konflik antara manusia dan masyarakat
  • konflik antara manusia dan alam
  • konflik antara satu ide dan ide yang lain
  • konflik antara manusia dan kata hatinya (das ich)

Konflik poin 1-3 adalah konflik eksternal, sedangkan poin 4-5 adalah konflik internal.

2.3 Pendekatan Psikologis Sastra

Sastra dan psikologi merupakan gabungan ilmu yang mempelajari kejiwaan orang lain. Yang membedakan antara psikologi dan sastra adalah di dalam psikologi gejala-gejala tersebut riil atau nyata, sedangkan dalam sastra gejala-gejala tersebut bersifat imajinatif. Menurut Semi (dalam Ermawati, 2008) psikologi sastra adalah suatu disiplin yang mengandung suatu karya sastra yang memuat peristiwa kehidupan manusia yang diperankan oleh tokoh-tokoh yang imajiner yang ada di dalam atau mungkin diperankan oleh tokoh-tokoh faktual. Hal ini,merangsang untuk mengetahui lebih jauh tentang seluk-beluk manusia yang beraneka ragam.

Psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sastra sebagai aktivitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa dan karsa dalam berkarya. Begitu pula pembaca, dalam menanggapi karya juga tidak lepas dari kejiwaan masing-masing. Bahkan sebagaimana sosiologi refleksi, psikologi sastra pun mengenal karya sastra sebagai pantulan kejiwaan. Pengarang akan menangkap gejala kejiwaan kemudian diolah ke dalam teks dan dilengkapi dengan kejiwaannya (Endraswara, 2003: 96).

Ratna (2007:342) menjelaskan secara definitif, tujuan psikologi sastra adalah memahami aspek-aspek kejiwaan yang terkandung dalam karya sastra. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa analisis psikologis sastra sama sekali terlepas dengan kebutuhan masyarakat. Sesuai dengan hakikatnya karya sastra memberikan pemahaman kepada masyarakat secara tidak langsung, melalui pemahaman tokoh-tokohnya. Siswantoro dalam Ermawati (2008) mengemukakan psikologi sastra mempelajari fenomena kejiwaan tertentu yang dialami oleh tokoh utama dalam karya sastra ketika merespon atau bersaksi terhadap diri dan lingkungannya, dengan demikian gejala kejiwaan dapat tertangkap lewat tokoh dalam sebuah karya sastra.

Dari berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pendekatan psikologi sastra adalah suatu pendekatan yang bertujuan untuk mengetahui aspek-aspek kejiwaan dalam suatu karya sastra. Aspek-aspek kejiwaan tersebut dituangkan pengarang dalam karyanya yang secara simbolik diintegrasikan melalui bahasa pengarang.

2.4 Kekerasan Terhadap Anak

Dewasa ini fenomena anak yang disiksa atau ditelantarkan orang tua makin sering kita dengar beritanya, entah karena frekuensi peningkatan kasus atau karena era keterbukaan hingga berita apapun diangkat ke permukaan, atau memang karena keduanya. Penelitian Murray Straus (dalam Fitri, 2009) seorang sosiolog dari University of New Hampshire yang melakukan survei terhadap 991 orang tua menemukan, 90% orang tua mengaku melakukan bentuk-bentuk agresi psikologis saat dua tahun pertama usia anak. Dalam survei tersebut membentak dan mengancam adalah bentuk paling umum dari agresi yang dilakukan orang tua. Dibandingkan tindakan yang lebih ekstrem lagi, seperti mengancam, memaki, dan memanggil dengan kasar dengan panggilan bodoh, malas, dan sebagainya, maka membentak paling banyak dilakukan. Tindak kekerasan terhadap anak ini merupakan salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia.

Pada awalnya terminologi tindak kekerasan atau child abuse berasal dari dunia kedokteran. Sekitar tahun 1946, seorang radiologist Caffey (dalam Ibnu Anshori, 2007) melaporkan kasus berupa gejala-gejala klinik seperti patah tulang panjang yang majemuk pada anak-anak atau bayi disertai pendarahan tanpa diketahui sebabnya. Menurut Sutanto (dalam Ibnu Anshori, 2007), kekerasan anak adalah perlakuan orang dewasa/anak yang lebih tua dengan menggunakan kekuasaan terhadap anak yang tak berdaya yang seharusnya menjadi tanggung jawab, yang berakibat penderitaan, kesengsaraan, cacat atau kematian.

James Vander Zanden (dalam Jacinta F. Rini, 2008) menyebutkan definisi abuse (kekerasan / penyiksaan) sebagai serangan fisik (bisa menyebabkan luka) dan dilakukan dengan sengaja oleh orang yang seharusnya sangat menyayanginya. David A Wolfe dalam bukunya Child Abuse, mengatakan bahwa salah asuh terhadap anak bisa berbentuk penyiksaan fisik, penyiksaan emosi atau mental, penyiksaan seksual, termasuk juga pengabaian. Pengabaian dapat diartikan sebagai ketiadaan perhatian baik sosial, emosional dan fisik yang memadai, yang sudah selayaknya diterima oleh sang anak. Para psikiater yang terhimpun dalam Himpunan Masyarakat Pencegah Kekerasan Pada Anak di Inggris (1999) berpendapat, bahwa pengabaian terhadap anak juga merupakan tindak kekerasan namun lebih bersifat pasif. Efek dari penyiksaan maupun pengabaian terhadap anak sama-sama mendatangkan akibat yang buruk.

Jacinta F. Rini (2008) menjelaskan bentuk-bentuk kekerasan anak, antara lain; 1) Kekerasan Fisik, yaitu, perbuatan orang tua kepada anaknya yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka baik ringan maupun berat. 2) Kekerasan Psikis, yaitu, perbuatan orang tua yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan penderitaan psikis berat pada anak, 3) Kekerasan Seksual, yaitu, Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetapkan dalam lingkup hidup rumah tangga tersebut; pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial atau tujuan tertentu, dan 4) Penelantaran Anak, yaitu, menelantarkan anak dalam lingkup rumah tangganya, membatasi atau melarang anak untuk beraktivitas yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga anak berada di bawah kendali orang tua dan timbul ketergantungan penuh pada orang tua.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kekerasan terhadap anak adalah segala bentuk perlakuan baik secara fisik maupun psikis yang berakibat penderitaan terhadap anak. Kekerasan tersebut dapat berbentuk penyiksaan fisik, penyiksaan emosi atau mental, penyiksaan seksual, termasuk juga pengabaian.

2.5 Faktor-faktor kekerasan terhadap anak

Jacinta F. Rini (2008) menjelaskan faktor Penyebab kekerasan terhadap anak yaitu, 1) Pola asuh yang tidak sehat; 2) Karakter tidak dewasa orang tua; 3) Problem emosional; 4) Penggunaan obat terlarang; 5) Masalah kejiwaan orang tua; 6) Masalah perkawinan; 7) Problem pribadi lainnya

Rakhmat (2003) membagi faktor sosial antara lain: 1) Norma sosial, yaitu tidak ada kontrol sosial pada tindakan kekerasan pada anak-anak; 2) Nilai-nilai sosial, yaitu hubungan anak dengan orang dewasa berlaku seperti hirarkhi sosial di masyarakat.; 3) Ketimpangan sosial. Banyak ditemukan bahwa para pelaku dan juga korban child abuse kebanyakan berasal dari kelompok sosial ekonomi yang rendah. Kemiskinan, yeng tentu saja masalah sosial lainnya yang diakibatkan karena struktur ekonomi dan politik yang menindas, telah melahirkan semacam subkultur kekerasan. Karena tekanan ekonomi, orangtua mengalami stress yang berkepanjangan. Ia mudah marah sehingga terjadilah kekerasan emosional.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan kekerasan pada anak yaitu; 1) Faktor internal (keluarga), dan; 2) faktor eksternal atau faktor sosial.

BAB 3. PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan dibahas mengenai unsur-unsur intrinsik novel Jermal karangan Yokie Adityo yang dibatasi pada 1) penokohan dan perwatakan; 2) latar atau setting; dan 3) konflik. Selanjutnya akan dibahas mengenai bentuk kekerasan dan faktor-faktor penyebab kekerasan terhadap tokoh Jaya dalam novel Jermal.

3.1 Unsur-unsur intrinsik

3.1.1 Penokohan dan perwatakan

Bocah itu diam saja. Seperti dirinya. Namun, setidaknya sang bocah tidak bisu. Hanya mungkin sedang berusaha menahan gundah, berusaha tegar walau tidak mampu. Terlihat dari sudut mana pun. Mata sayu itu menggambarkan kehampaan jiwa yang dalam. Kesendirian dan keterasingan dari hiruk pikuk pelabuhan meski ada sinar harapan di sana. (Jermal, 2009:1)

Bandi membuat kesimpulan dalam hati. Bocah merana dihadapannya ini hendak ke jermal karena terpaksa. Johar kini satu-satunya anggota keluarga yang masih ada. Di jermal, Jaya ingin mendekat pada bapaknya. (Jermal, 2009:4-5)

Kau bisa apa?

“Aku bisa mengoperasikan komputer.”

Bandi tertawa seperti tidak pernah tertawa sebelumnya. Bocah ini pintar sekaligus bodoh, pikirnya. (Jermal, 2009:5)

Namun benarkah ia tangguh?

Ia berpikir ulang saat lengan kurus itu menyadarkannya dari lamunan tentang kekuatan dirinya. Memboncengi teman saat bersepeda saja ia kesulitan. Ia bukan tipikal anak yang mengandalkan otot. Ia anak biasa yang masih mengandalkan orangtua. (Jermal, 2009:8)

Magrib menjelang dan Jaya masih berdiri di sana dengan tangan tetap dijulurkan ke atas, mengangkat bendera putih setinggi-tingginya tanpa kenal lelah. Pegal dan keram tidak dihiraukan. Jaya ingin total dalam bekerja. Ia ingin menunjukkan dirinya berguna. (Jermal, 2009:42)

Ia letakkan barang-barangnya di depan pintu sebelum masuk dan berjalan menuju orang asing yang disebut-sebut sebagai ayahnya. Pintu tertutup. Johar tidak bergerak. Jaya memperhatikan Johar yang tampak kasar dan kuat, tidak seperti dirinya, anak kecil yang tampak seperti murid baik-baik. …(Jermal, 2009:26)

3.1.2 latar atau setting

  • tempat terjadinya peristiwa

Kau tahu apa itu jermal?

Bandi menulis di atas sebuah tisu, kurang jelas, tetapi bisa terbaca. Ia sodorkan itu pada Jaya.

“Tidak tahu,” sambut Jaya.

Tapi, kau tahu bapakmu di sana?

“Tahu dari Ibu.”

Jermal adalah tempat penjaringan ikan di tengah laut.

Jaya coba berimajinasi, namun fantasinya tak sampai. Dua belas tahun ia habiskan di darat. Tempat favoritnya adalah insektarium atau paling-paling di kamar, bukan laut atau pantai, bukan pula pelabuhan meski ia tinggal tidak jauh.

(Jermal, 2009:5)

Jermal serupa dengan anjungan minyak lepas pantai mini, terdiri dari balok dan papan kayu yang diikat jadi satu. Sebuah gubuk terbuat dari seng tua diatasnya. Di selat Malaka terdapat sekitar 150 panggung lepas pantai seperti itu, berukuran tidak lebih besar dari lapangan temapt apel sekolah setiap Senin pagi.

(Jermal, 2009:7)

  • lingkungan kehidupan

Dan keterkucilan adalah hal yang akan anak-anak dalam perahu ini hadapi di jermal sana berbulan-bulan. Andai mereka dapat bekerja di darat, tentu mereka tidak di sini. Mereka siap bekerja, berharap agar adik-adik mereka tidak mengalami nasib serupa, menjadi buruh kasar. Upah mereka nantinya berkisar Rp 250.000,00 sebulan, dipakai untuk membayar uang sekolah adik. Anak-anak di bawah umur terus diperas tenaganya. Jermal, tempat bekerja siang malam.

(Jermal, 2009:7)

Banyak bisik-bisik mengenai adanya penindasan dan penyiksaan di atas jermal, termasuk soal pelecehan seksual. Kebakaran, pencurian, dan badai adalah ancaman harian yang konstan. Banyak jermal rapuh, lalu roboh karena tidak ada peralatan keamanan.

(Jermal, 2009:8)

  • sistem kehidupan sesuai dengan lingkungan

Tiap beberapa jam, anak-anak pekerja jermal bekerja keras memutar roda kayu besar untuk menarik jaring ikan ke atas. Mereka bangun untuk bekerja di tengah malam. Bangun kembali sekitar pukul dua pgi. Dan, pukul tiga lebih sedikit. Juga saat Subuh. Di malam yang sibuk mereka bisa bangun dan bekerja sampai tujuh kali, jauh dari ayah dan ibu, sekitar delapan kilometer lepas pantai Sumatera Utara.

(Jermal, 2009:11)

  • alat-alat kehidupan

Jaya bergegas mengekor di belakang Bandi sambil membawa dan menyeret barang-barangnya. Seperti akan piknik, selain tas pada punggung lelahnya, ia membawa satu kotak berukuran sedang berisi buku-buku sekolah dan benda-benda pribadi, sebuah kotak mungil dengan jangkrik burik di dalamnya, dan sebuah papan koleksi serangga diapit lengan.

(Jermal, 2009:17)

Pada sebuah dek di tepian jermal, terdapat susunan roda-roda yang dipakai untuk menarik jaring-jaring dari bawah jermal. Serangkaian jaring akan mengarahkan ikan-ikan menuju jermal. Ikan-ikan itu akan dijebak dalam sebuah jaring besar di bawah jermal.

(Jermal, 2009:10)

  • waktu terjadinya peristiwa

“Kutuliskan soal yang kau tanyakan waktu itu. Nah, ini dia. Rahasia yang kusimpan terlalu kelam. Betul, aku sudah membunuh orang, tapi tak seperti yang kau bayangkan. Waktu aku masih sama ibumu, aku banyak mengajar di desa lain, sering tak pulang. Aku tak tahu apa-apa lalu datanglah dia.”

“Ini,” tunjuk Johar “Waktu itu ku tahu ibumu punya kekasih, aku gelap mata.”

Jaya tertegun. Ia tak percaya.

(Jermal, 2009:128)

3.1.3 konflik

  • konflik antara manusia dan manusia

Tanpa pernah diarahkan, mata Jaya menangkap Bandi yang berjalan menyerahkan sepucuk surat pada Johar. Johar tidak sempat menoleh kepada Jaya, ia asyik merokok, lantas ia pergi tak acuh. Begitu saja dilewatkan. Tidak mudah bagi ayah dan anak itu untuk menerima kenyataan dan menyesuaikan diri dengan situasi baru ini.

(Jermal, 2009:17)

Buka suratnya! Terlantun dalam bahasa isyarat.

“Tak perlu!” tegas Johar.

Bandi menepuk bahu Johar sekali lagi.

Yang satu ini mesti kau buka! Isyaratnya denagn tangan.

“Kenapa? Sama saja dengan yang lain,” ucapnya sambil tersenyum kecut. (Jermal, 2009:19)

Katanya kau punya anak.

“Aku tak kenal siapa-siapa di pelabuhan dan jelas aku tidak punya anak.”

Kau mau lihat anaknya?

Johar semakin terganggu. “Tak usah. Aku tak mau jumpa siapa-siapa!”

Provokasi Bandi gagal. Di sisi lain ia menatap Johar layaknya gunung es.

“Apa?” tembak Johar

“Kirim dia balik!” Johar muali tak sabar.

Pulang ke?

“Terserah mau pulang ke mana!”

Bandi merobek kertas lagi, berbalik, dan menulis cepat-cepat. Dia hadapkan tulisannya pada seorang ayah yang tidak mau mengakui anaknya. Tertulis tegas di situ: kalau dia pulang, dia bicara! Kau ditangkap! (Jermal, 2009:21)

……

“Pak?”

Johar seperti mati berdiri. Jiwanya jauh mengembara.

“Pak?” kali ini Jaya berucap keras.

“Bapak?” Jaya kembali berbisik.

Kini Jaya yang terdiam. Ia heran, bingung, gundah, campur jadi satu. Tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dengan lembut, atau takut, Jaya berkata, “Sebelum ibu meninggal ia bilang….”

Johar kalap. Kegamangannya terhapus saat mendengar perkataan Jaya. Ia berteriak “Keluar! Keluar kataku!”

Jaya berjalan lunglai menuju pintu, Johar memastikan satu hal dengan berkata perlahan di telinga Jaya, “Aku bukan bapakmu.”

Lalu pintu kayu itu ditutupnya dengan sekali hempasan. Kasar sekali hingga bersuara keras. Menumbuk hati yang kosong, melukainya. (Jermal, 2009:26)

…..

Berdiri di luar ruangan, Jaya terpaku, atau lebih tepatnya terpana dengan pengertian negatif. (Jermal, 2009:27)

Alam pikirannya mengembara melewati laut lepas. Ia tidak mampu menjalani hari-hari berikut jika harus seperti ini lagi. Jermal tidak sama seperti apa yang dia imajinasikan. Johar tidak seperti bapak yang ia bayangkan. Harapan itu kini benar-benar kosong. (Jermal, 2009:46)

Jaya terus memandangi Johar. Kekesalan Johar malah membuat kebencian Jaya meradang dan hal itu mulai terlihat di sana, pada wajah Jaya.

“Kau di sini untuk kerja. Sama kayak anak-anak yang lain.” Johar ketus sekali.

“Aku mau pulang!” tuntut Jaya.

Johar kehilangan kesabaran, “Tak boleh!”

Jaya mulai melawan. “Kenapa aku tak boleh pulang?”

Pada momen ini Johar kalap sehingga mendaratkan tangan besarnya pada wajah Jaya. Jaya tertegun. Ditatapnya Johar dengan lemah.

“Keluar!”

Jaya meninggalkan kamar. Jaya meninggalkan bapaknya yang kini dianggapnya telah mati. (Jermal, 2009:73)

  • konflik antara manusia dan masyarakat

Selagi ia menunggu, Dadang lewat membawa seember penuh ikan, sementara Gion mengikutinya dari belakang. Mereka awalnya tidak peduli dengan apa yang sedang Jaya lakukan di depan gubuk Johar, tetapi timbul juga niat iseng salah satu dari mereka untuk mengganggu si anak baru. Gion berhenti beberapa langkah dari tempat Jaya mengintip Johar. Mereka, Gion dan Dadang, saling pandang sebentar. Gion mengambil satu ikan dari ember dan melemparkannya ke arah kepala Jaya. Lemparan itu tidak tepat sasaran. Hanya mengenai baju Jaya. Jaya terkejut lalu menjerit jijik.

Gion mengeluarkan pisau yang dicucuknya dengan beberapa ikan di ember. Diusapkan ikan itu pada pipi Jaya. Bau amis bercampur keringat ngeri. Jaya tiba-tiba diserang rasa mual. (Jermal, 2009:25)

Di tengah riuh olok-olok anak-anak jermal, Jaya terus meronta menggeliat sampai benar-benar lepas dari cengkeraman Dadang. Dia berlari menuju gion yang sedang membawakotak jangkriknya.

“ Apa kau liat-liat heh?” Jaya menggelengkan kepala, bungkam. Gion mendorong dada Jaya dengan telunjuknya. (Jermal, 2009:33)

“Woi, bangun!” anak-anak yang lain mulai menyoraki Jaya, coba membangunkannya dengan paksa karena Jaya enggan untuk bangun. Bergerak pun tidak.

“Pake gincu dia!” komentar Topan.

“Wanita!”

“Banci!”

“Payah!”

“Profesor lemah!”

“Profesor kok pekak? Bisu pula!”

Anak-anak yang lain mulai menendangi Jaya yang masih terlentang kesakitan. Mereka mengasari Jaya. Mereka tidak peduli, menginjak-injaki meski Jaya mulai menangis, mulai menjerit-jerit juga. (Jermal, 2009:35)

  • konflik antara manusia dan alam
  • konflik antara satu ide dan ide yang lain
  • konflik antara manusia dan kata hatinya (das ich)

Giliran Jaya untuk naik. Ia didorong Bandi. Jaya terpaksa menangkap tali yang turun dihadapannya dan melihatnya dengan cemas. Keraguan membesar. Para bocah menontonnya dari atas. (Jermal, 2009:15)

Jaya tidak melawan Gion. Darah pengecutnya keburu menguasai dirinya.

(Jermal, 2009:33)

3.2 bentuk-bentuk kekerasan

Tokoh Jaya dalam novel ini mengalami banyak tindak kekerasan. Kekerasan tersebut antara lain:

  • Kekerasan Fisik

Jaya merupakan anak baru di jermal. Tubuhnya kecil dan lemah sehingga mudah sekali anak-anak jermal lainnya menyakitinya.

……

“Woi, bangun!” anak-anak yang lain mulai menyoraki Jaya, coba membangunkannya dengan paksa karena Jaya enggan untuk bangun. Bergerak pun tidak.

“Pake gincu dia!” komentar Topan.

“Wanita!”

“Banci!”

“Payah!”

“Profesor lemah!”

“Profesor kok pekak? Bisu pula!”

Anak-anak yang lain mulai menendangi Jaya yang masih terlentang kesakitan. Mereka mengasari Jaya. Mereka tidak peduli, menginjak-injaki meski Jaya mulai menangis, mulai menjerit-jerit juga.

(Jermal, 2009:35)

……

“Geledah badan!”

Tiba-tiba Gion muncul dari belakang diikuti anak-anak lain. Mereka menyerbu Jaya. Mendekat, merangsek, mengelilingi Jaya. Gion melepaskan Jaya, mendorongnya ke sudut, dan membiarkan anak-anak lain melompat ke arah Jaya. Menerkam dengan buas. Jaya berusaha melawan, berteriak, bergumul. Namun tak ada daya. Ia tidak mampu melawan delapan anak sekaligus.

(Jermal, 2009:59)

……

Jaya bergegas menarik saringan ikan menuju tempat yang ditunjuk Gion. Ia menyeretnya karena tidak kuat mengangkat. Lantai kayu itu dibuatnya berdecit. (Jermal, 2009:55)

…..

Gion menunjuk titik yang ia ludahi. Jaya dengan patuh atau terpaksa, atau memaksa diri, datang dan membersihkan ludah tersebut. (Jermal, 2009:56)

…..

Dari kutipan-kutipan di atas dapat diketahui bahwa Jaya terus-menerus menerima kekerasan dari anak-anak jermal. Jaya menerima olok-olokan dan juga kekasaran dari mereka. Walaupun Jaya kesakitan sampai menangis, mereka tidak peduli.

……

Di atas dek, Jaya terlihat sibuk dengan roda-roda penarik jaring. Ia mengenakan seragam sekolahnya karena tak ada pilihan lain. Tiba-tiba tangan Jaya tergelicik dan roda berputar deras ke arah berlawanan hingga jaring kembali turun. Jaya berusaha menghentikan roda itu dengan tangan, tetapi gagal dan malah melukai tangannya hingga berdarah. Jaya terjerembab ke belakang.

(Jermal, 2009:61)

……

Jaya bekerja terpisah dari kelompok anak-anak lain. Ia bekerja lebih keras dari siapapun di jermal. Ia membersihkan dek, tiang bendera, menjemur ikan, sampai mencuci pakaian anak-anak. Jaya tampak makin lelah serta makin hitam dan kering akibat dehidrasi.

(Jermal, 2009:76)

…….

Pada kutipan di atas Jaya sempat terluka ketika berusaha menghentikan roda jaring. Peristiwa itu termasuk kekerasan fisik yang dialami Jaya ketika bekerja di jermal. Selain itu perlakuan terhadap Jaya di jermal bahkan lebih keras dan di luar kekuatannya.

Ketika beradu mulut dengan Bapaknya, Jaya ditampar. Sehingga dia menganggap tak lagi punya orangtua.

…..

“Kau di sini untuk kerja. Sama kayak anak-anak yang lain.” Johar ketus sekali.

“Aku mau pulang!” tuntut Jaya.

Johar kehilangan kesabaran, “Tak boleh!”

Jaya mulai melawan. “Kenapa aku tak boleh pulang?”

Pada momen ini Johar kalap sehingga mendaratkan tangan besarnya pada wajah Jaya. Jaya tertegun. Ditatapnya Johar dengan lemah.

“Keluar!”

Jaya meninggalkan kamar. Jaya meninggalkan bapaknya yang kini dianggapnya telah mati.

(Jermal, 2009:73)

…..

“Apa lagi yang orang-orang itu bilang? Apa lagi!”

Johar mendorong Jaya ke dinding. Johar memukul Jaya. Membentur-benturkan kepala Jaya pada dinding pondok.

“Kau pikir aku pengkhianat?”

Johar tidak bisa berhenti memukuli Jaya. Anak-anak yang lain hanya diam memperhatikan. Sesaat kemudian Bandi muncul dengan tampang kebingungan, tidak mengerti apa yang sedang berlangsung dihadapannya. Ia buru-buru menarik Johar menjauhi Jaya. Johar tertarik ke belakang, tetapi maju kembali, merangsek, mengulangi ucapan-ucapan pada Jaya, menghempaskan Bandi hingga terpental.

(Jermal, 2009:90)

……

Johar kembali keluar. Didorongnya bahu Jaya. Jaya sontak berdiri dan secara refleks memukul Johar. Johar menghindar. Mereka saling menatap, tidak bergerak. Johar akhirnya mencengkeram lengan Jaya dan menariknya ke kotak penuh air tempat dia membasuh wajah. Jaya menggeliat-liat melepaskan diri tetapi terlalu lemah untuk melawan. Johar membuka penutup kotak, lalu mendorong kepala Jaya ke dalam air. Tubuh Jaya menggelepar-gelepar. Johar menarik kepala Jaya keluar. Jaya terbatuk-batuk.

(Jermal, 2009:107)

…..

Dari kutipan-kutipan tersebut diketahui, tamparan yang diberikan Johar pada Jaya termasuk kekerasan fisik yang dialami Jaya. Selain itu Johar tak segan-segan memukuli Jaya. Johar juga memperlakukan Jaya sama seperti pekerja jermal lainnya walaupun Jaya adalah anak Johar.

  • Kekerasan Psikis

Akibat diperlakukan kasar oleh Johar dan anak-anak jermal lainnya, Jaya merasakan itu sehingga pikirannya lelah.

…..

Ia sungguh capek. Sangat capek. Bukan capek karena habis-habisan dikerjai anak-anak jermal, melainkan capek karena turun naiknya perasaan dalam satu hari ini.

(Jermal, 2009:46)

…..

Alam pikirannya mengembara melewati laut lepas. Ia tidak mampu menjalani hari-hari berikut jika harus seperti ini lagi. Jermal tidak sama seperti apa yang dia imajinasikan. Johar tidak seperti bapak yang ia bayangkan. Harapan itu kini benar-benar kosong.

(Jermal, 2009:46)

…..

Mendadak Johar menarik Jaya menjauhi kotak airnya. Punggung lemah itu dicengkeramnya keras sekali dan dibawanya Jaya menjauhi kotaknya.. dibiarkannya Jaya terhempas hebat. Johar tidak ingin berbagi air pribadinya. Ditatapnya dalam-dalam mata hitam Jaya. Ia mentransfer energi kebencian pada bocah itu. Ia ingin menunjukkan rasa bencinya pada Jaya. (Jermal, 2009:51)

…..

Dari kutipan diatas, dapat diketahui perlakuan keras yang Jaya terima di jermal membuat Jaya putus asa menjalani kehidupan jermal.

  • Kekerasan Seksual

Selain diperlakukan keras secara fisik dan psikis, Jaya juga sempat mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh anak-anak jermal.

……

“Telanjangi…telanjangi!”

“Terus!”

“Tarik…tarik!”

Jaya ditarik ke dalam gencetan anak-anak jermal. Ia ditelanjangi. Dihina. Pasrah direndahkan seperti binatang. Dilepas baju dan celananya semua.

(Jermal, 2009:60)

……

Kutipan di atas menunjukkan kekerasan seksual yang diterimanya mengakibatkan Jaya hanya mampu pasrah karena bingung dan ketakutan karena telah diperlakukan buruk.

  • Penelantaran Anak

Mulai kedatangannya pertama kali di jermal, Jaya tidak diperhatikan oleh Johar. Keadaan tersebut menyebabkan Jaya diacuhkan atau merasa ditelantarkan oleh Johar.

……

Bandi memicingkan mata pada si pembawa surat. Entah kaget atau takjub. Ia tak pernah tahu kalau temannya si Johar, si mandor jermal, memiliki anak. Ia hanya tahu kalau Johar beristri dan mandul. Seperti yang selalu Johar utarakan sebagai alasan satu-satunya mengapa ia tidak lagi mencintai istrinya dan memilih untuk pergi. Kejam memang.

(Jermal, 2009:2)

…..

Tanpa pernah diarahkan, mata Jaya menangkap Bandi yang berjalan menyerahkan sepucuk surat pada Johar. Johar tidak sempat menoleh kepada Jaya, ia asyik merokok, lantas ia pergi tak acuh. Begitu saja dilewatkan. Tidak mudah bagi ayah dan anak itu untuk menerima kenyataan dan menyesuaikan diri dengan situasi baru ini. (Jermal, 2009:17)

…..

Diam-diam Johar menyaksikan semuanya, tepat di depan pintu. Tubuh besarnya disandarkan. Namun ia tidak melakukan apapun untuk menghentikan penggencetan itu. (Jermal, 2009:35)

..…

“Pak?”

Johar seperti mati berdiri. Jiwanya jauh mengembara.

“Pak?” kali ini Jaya berucap keras.

“Bapak?” Jaya kembali berbisik.

Kini Jaya yang terdiam. Ia heran, bingung, gundah, campur jadi satu. Tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dengan lembut, atau takut, Jaya berkata, “Sebelum ibu meninggal ia bilang….”

Johar kalap. Kegamangannya terhapus saat mendengar perkataan Jaya. Ia berteriak “Keluar! Keluar kataku!”

Jaya berjalan lunglai menuju pintu, Johar memastikan satu hal dengan berkata perlahan di telinga Jaya, “Aku bukan bapakmu.”

Lalu pintu kayu itu ditutupnya dengan sekali hempasan. Kasar sekali hingga bersuara keras. Menumbuk hati yang kosong, melukainya.

(Jermal, 2009:26)

 

Katanya kau punya anak.

“Aku tak kenal siapa-siapa di pelabuhan dan jelas aku tidak punya anak.”

Kau mau lihat anaknya?

Johar semakin terganggu. “Tak usah. Aku tak mau jumpa siapa-siapa!”

Provokasi Bandi gagal. Di sisi lain ia menatap Johar layaknya gunung es.

(Jermal, 2009:35)

3.3 faktor-faktor penyebab kekerasan

Faktor Penyebab kekerasan terhadap anak yaitu, 1) Pola asuh yang tidak sehat; 2) Karakter tidak dewasa orang tua; 3) Problem emosional; 4) Penggunaan obat terlarang; 5) Masalah kejiwaan orang tua; 6) Masalah perkawinan; 7) Problem pribadi lainnya

Faktor sosial antara lain: 1) Norma sosial, yaitu tidak ada kontrol sosial pada tindakan kekerasan pada anak-anak; 2) Nilai-nilai sosial, yaitu hubungan anak dengan orang dewasa berlaku seperti hirarkhi sosial di masyarakat.; 3) Ketimpangan sosial.

BAB 4. PENUTUP

Dari novel Jermal karangan Yokie Adityo ini dapat disimpulkan

Selanjutnya kesimpulan tema mayor dari novel ini adalah setiap orang akan menjadi dewasa setelah dia belajar dari pengalaman hidup bersama orang lain yang berbeda dengan dirinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s