GENERASI MUDA DAN TEKNOLOGI TERKINI

 

genWarna – warni Indonesia itu indah. Suatu kesatuan Negara Republik Indonesia yang terdiri dari banyak bahasa. Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri, pada tahun 2004 terdapat sebanyak 7.870 pulau yang memiliki nama dan sebanyak 9.634 pulau belum ada namanya. Dari 17.504 pulau hanya sebanyak 6.000an yang sudah berpenghuni. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan Sensus Penduduk 2010 adalah sebanyak 237.556.363 jiwa yang terdiri dari 964 etnik. Indonesia merupakan suatu wilayah yang terdiri dari beribu-ribu pulau. Yang termasuk ke dalam tanah air adalah pulau-pulau yang tersebar di Indonesia yang merupakan bagian dari tanah air Indonesia. Hakikatnya dari beribu-ribu pulau yang ada membentuk satu kesatuan negara yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa satu nusa adalah satu tanah air yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Satu Bangsa yang jelas digambarkan dengan adanya semboyan yang tertulis dalam lambang negara yaitu “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi satu juga. Perbedaan ini meliputi beda suku bangsa, agama, bahasa, dan adat istiadat. Makna dari satu bangsa adalah satu keturunan atau satu asal, biarpun mereka berada di pulau yang berbeda dan bertempat tinggal di daerah yang berbeda, namun mereka merasa satu bangsa yaitu bangsa Indonesia. Karena Indonesia terdiri dari berbagai macam suku dan pulau maka bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari pun berbeda disetiap daerah, bahasa itu disebut dengan bahasa ibu atau bahsa induk. Keanekaragam bahasa di Indonesia merupakan kekayaan alam yang tidak ternilai dan tidak dimiliki oleh bangsa lain. Oleh karena itu, keanekaragamaan bahasa perlu dilestarikan sehingga tidak akan dilupakan oleh generasi yang akan datang.

Meskipun tiap daerah mempunyai bahasa daerah sendiri-sendiri, tapi setiap suku bangsa di Indonesia menyadari bahwa mereka bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, dalam berkomunikasi antarsuku, mereka menggunakan satu bahsa yaitu bahasa Indonesia. Keanekaragaman bahsa bukanlah hambatan untuk berkomunikasi dengan suku lain karena kita mempunyai bahasa persatuan yaitu bahasa indonesia.

           Mengingat Indonesia pernah dijajah oleh bangsa asing lebih dari 350 tahun. Dengan perjuangan para pahlawan mempertaruhkan jiwa dan raga, akhirnya Indonesia bisa memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Perjuangan dari berbagai golongan dan dengan berbagai jalur baik politik maupun bertempur di medan perang. Tak luput bagi golongan pelajar muda untuk turut andil dalam meraih kemerdekaan RI. Ini diwujudkan dengan munculnya organisasi pemuda dipelopori oleh organisasi Trikoro Dharmo. Trikoro Dharmo didirikan pada tanggal 9 Maret 1915. Beranggotakan anak – anak sekolah menengah yang berasal dari Jawa dan Madura. Atas inisiatif pemuda seperti Satiaman, Kadarman, dan Sunardi yang dipimpin oleh Satiman Wirjosanjoyo.

          Pada tahun 1918 Trikoro Dharmo melakukan kongres yang pertama tepatnya di Surakarta. Dalam kongres itu, nama Trikoro Dharmo diganti dengan Jong Java. Hal ini mendorong berdirinya organisasi pemuda diberbagai daerah. Seperti Jong Cilebes, Jong Sumateranen Bond, dan Jong Minahasa.  Semua organisasi itu masih bersifat kedaerahan. Para pemuda yang tergabung dalam berbagai organisasi itu mendambakan adanya persatuan Nasional. Hingga berdirilah Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang merupakan peleburan dari organisasi – organisasai guna mendorong tumbuhnya persatuan diantara organisasi pemuda daerah. Atas prakarsa PPPI diselenggarakan Kongres Pemuda I di Jakarta yang menghasilkan 2 keputusan :

1. Menyiapkan pelaksanaan Kongres pemuda II

2. Menyerukan persatuan berbagai organisasi pemuda dalam satu organisasi pemuda Indonesia.

          Maka pada tanggal 26 – 28 Oktober 1928 dilaksanakan Kongres pemuda II yang salah satu isinya yaitu kesepakatan para pemuda mencetuskan ikrar. Ikrar itu dikenal dengan nama Sumpah Pemuda. Isi Sumpah Pemuda adalah :

1. Kami putra – putri Indonesia mengaku bertanah air yang satu , Tanah Air Indonesia

2. Kami putra – putri Indonesia mengaku berbangsa satu, Bangsa Indonesia

3. Kami putar – putri Indonesia mengaku berbahasa persatuan, Bahasa Indonesiantang

          Dapat disimpulkan dalam suatu slogan yang sejak lama Bangsa Indonesia pakai yaitu ” Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa “. 28 Oktober 1928 hari dimana dimulailah sejarah akan hari Sumpah Pemuda yang selalu menyebut-nyebut bahwa Indonesia “SATU”. Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa dan stu yang lainnya. Intinya menyebutkan bahwa Indonesia itu selalu SATU tapi entah benar atau salah. Selama ini bangsa kaya akan SDA ini mengaku bahwa negaranya kompak SATU HATI. Dari mulai pejabat tinggi, pegawai, pengangguran, anak sekolah, bahkan anak kecil sekalipun. Mereka mengaku dengan menyanyikan lagu “Satu Nusa Satu Bangsa”. Tapi sayangnya para pahlawan dahulu hanya bisa gigit jari saja. Sedang mereka bernyanyi dengan suara lantang. Lupa dengan perjuangan mati – matian para pahlawan demi kemerdekaan RI. Masyarakat yang hanya menyanyikan dimulut saja tanpa menghiraukan serta meyakini dalam hati dan melakukan dikehidupan sehari – hari.

Lirik L. Manik Satu Nusa Satu Bangsa

Satu nusa
Satu bangsa
Satu bahasa kita

Tanah air
Pasti jaya
Untuk Selama-lamanya

Indonesia pusaka
Indonesia tercinta
Nusa bangsa
Dan Bahasa
Kita bela bersama

          Itu pun dari survei yang telah saya lakukan pada 10 guru SMK Perikanan dan Kelautan Puger. 5 guru hafal 100 %, 2 guru hafal 80 %, dan 3 guru hanya hafal 50 % saja. Sekolah berbasis semi militer tidak dapat dijadikan acuan bahwa seluruh anggota sekolahnya benar-benar peduli terhadap bangsa. “Saya bangga menjadi warga Negara Indonesia” tegas Andika Robby H (XI NKPI 2) ketika ditanya banggakah ia menjadi warga Negara Indonesia. Tidak dipungkiri 98 % dari jumlah taruna – taruni SMK Perikanan dan Kelautan Puger akan menjawab yang sama ketika diajukan pertanyaan yang sama pula. Namun bagaimana cara kita membuktikan rasa bangga kita pada tanah air?. Ini sama halnya dengan mereka yang mengaku Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa namun hanya di bibir saja tanpa melakukan apa yang mereka katakan. Pemimpin yang seharusnya dicontoh pun malah keenakan tuk tidak bertindak. Memang benar pemimpin dan rakyat adalah satu bangsa, satu bahasa, dari negara yang sama pula.

          Faktanya selama ini masyarakat menilai bahwa yang dianggap ” Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa ” hanyalah merupakan persamaan dari negara, bangsa, bahasa saja. Masyarakat tidak pernah berpikir bahwa yang dimaksud adalah kita sebagai Nusa, Bangsa dan memiliki bahasa persatuan yang sama harus juga mempunyai tujuan kongkrit (jelas & nyata) yang sama dan memang terbentuk dari hati yang tulus dari semua masyarakat.

          Jika setiap masyarakat mengimani seboyan tersebut seperti diatas, pastilah tidak akan ada masalah seperti halnya demo yang menyebabkan saudara – saudara kita terluka, tidak akan ada tawuran antar pelajar hingga memakan korban jiwa. Contoh lagi, pengakuan negara lain atas yang kita miliki. Pemuda jaman sekarang kebanyakan malu mempelajari kebudayaan daerah contohnya seni Reog dari Ponorogo, mereka lebih memilih update status setiap jam di akun facebooknya. Namun ketikan kesenian itu diakui oleh negara lain, maka mereka akan marah dengan memaki negara asing lewat akun facebooknya. Apa itu cara melestarikan budaya bangsa?

          Disisi lain,kemajuan teknologi pun ikut andil. Jaman yang semakin modern, membawa dampak yang ada kaitannya dengan semboyan ” Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa ” yang menurut pribadi saya seakan – akan tidak relevan lagi. Akses informasi yang begitu cepat, media televisi mau pun internet yang tlah mampu menjangkau pelosok negeri. Bak jamur dimusim penghujan. Para remaja yang seharusnya mempelajari budaya bangsa malah asik berlomba meniru boy band girl band dari negeri tetangga mulai dari cara berpakaian, gaya bicara, gaya hidup, sampai cara mereka berjalan .

          Tak heran banyak remaja putri saat ini yang tak bisa memakai sanggul. Dan jarang ditemukan baju adat dalam almari mereka. Hal ini membuktikan bahwa kehidupan generasi muda saat ini telah banyak meninggalkan warisan budaya leluhur. Sedang Jokowi dalam Indonesiaxpost mengungkapkan pemuda adalah masa depan bangsa sehingga untuk menciptakan masa depan bangsa yang baik, pemuda harus menyatukan visi dan misi mereka dalam membangun bangsa.

          Indonesia juga dalah salah satu negara perokok terbesar didunia. Cakupan yang sangat besar, kita dapatkan untuk peringkat yang tak seharusnya kita dapatkan. Nama perokok dikenal sebagai seseorang yang gemar membakar uang dan menggadaikan dirinya hanya untuk kesia – siaan belaka. Peringkat ketiga perokok di dunia, adalah hal yang sebenarnya kita malu mendapatkannya. Terkecuali jika peringkat tiga yang didapatkannya adalah peringkat ekonomi terbaik. Ini meupakan salah satu bukti bagi bangsa indonesia yang selama ini mengaku “SATU”, bahwa sebenarnya semua itu belum tercapai. Coba jika masyarakat mempunyai tujuan tulus dari hati yang ikhlas, pasti persoalan sosial yang banyak terngiang di telinga akan dapat terselesaikan denagn persatuan dan kesatuan yang asli, bukan semu belaka seperti sekarang ini. Mengingat begitu kerasnya para pejuang hingga akhirnya kita dapat menikmati kemerdekaan dan melanjutkan perjuangan paa pahlawan terdahulu dengan cara kita yang harus lebih baik lagi.

           Maka dapat disimpulkan bahwa saat ini semboyan ” Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa ” seakan – akan tidak relevan dengan dunia modern seraya munculnya banyak fakta yang cukup mencengangkan bagi Indonesia. Mengingat sejarah panjang akan perjuangan para pahlawan demi kemerdekaan RI. Namun kita sebagai generasi penerus bangsa harus selalu berkiblat pada dasar negara untuk kembali satukan hati, satukan jiwa, bersama menemukan tujuan kongkrit untuk membangun bangsa yang  selama ini ada dalam fatamorgana. Samakan nahkoda, tentukan bersama haluan kita.

Tugas Bahasa Indonesia Oleh : Nengdiyah Febrini (angkatan X) dikutip dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s