PILIH ROKOK ATAU AKU?

Rokok, benda yang satu ini selalu identik dengan batangnya yang berwarna putih, dengan asap yang pasti muncul dari pembakaran. Beberapa waktu lalu saya iseng mengganti cover timeline akun facebook saya dengan sebuah foto. Kebetulan karena memang agak jengah dengan asap rokok di tempat kerja yang hampir setiap hari tercium hidung. Foto itu saya peroleh dari browsing di gugel. Hanya sebuah citra dari sebatang rokok yang tengah menyala. Sisa pembakaranya memanjang membentuk serangkaian manusia. Mulai dari siluet laki-laki kantoran, lansia, seorang wanita, hingga anak-anak yang tampak ceria dalam bekas pembakaran. Di bagian atas batang rokok terdapat sebuah pernyataan dalam bahasa arab, yang kira-kira artinya adalah ‘bakarlah dirimu dan negaramu’. Tak lama setelah foto itu terpasang, beberapa teman mulai komentar, ‘ih, medeni…(menakutkan-red.) gak segitunya juga kale mbak…, kan yang kubakar cuma batangnya doang, bukan negara’. :) saya hanya tersenyum dengan pernyataan teman saya.

Sebenarnya sudah ada ribuan artikel, bahkan lebih yang membahas rokok dari berbagai sudut pandang. Kesehatan, ekonomi, sosial, budaya, bahkan yang senantiasa menjadi kontroversi adalah dari sudut agama. Sekedar share saja. Saya termasuk pembenci asap rokok, ingat, hanya asapnya, bukan perokoknya. Hehehe. Sering sekali berdebat dengan teman-teman juga saudara yang perokok. Tetapi apapun mosi saya, sepertinya sama sekali tidak berlaku untuk mereka.😦 kebencian saya bukan tanpa alasan. Saat di tahun kedua SMP saya sempat tiga kali opname dalam setahun lantaran flek di paru-paru kanan. Saya pikir wajar saja, karena memang sejak TK saya tinggal dengan paman yang ‘menikah’ dan ‘setia sampai mati’ dengan bebagai jenis rokok.

Lucunya, di tempat kerja saya sekarang yang didominasi kaum adam, nyatanya gertakan pimpinan tentang ‘pengaharaman’ rokok tidak ngefek sama sekali pada mereka. Selalu saja main kucing-kucingan saat ingin ‘merdeka’, begitu istilah mereka. Karena lembaga kami adalah sekolah, pimpinan ingin sekali sekolah bebas asap rokok 24 jam. Seorang di antaranya bukannya tidak paham dengan rokok yang 100% mudharat baik secara Islam ataupun kesehatan. Namun, mengutip pernyataan di sebuah artikel, bahwa perokok merokok adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan asupan nikotin untuk otak mereka. Orang merokok kebanyakan adalah karena tekanan hidup, masalah pekerjaan, masalah keluarga, kemiskinan, psikologis dan sedikit sekali yang merokok untuk sekedar mengikuti tren selain remaja yang baru lulus SD atau SMP. Dalam pengamatan saya justru orang-orang yang mampu menjaga mood, orang yang kehidupan ekonominya mapan, memiliki status social yang bagus malah hampir tidak ada yang merokok.

Suatu siang, saya sedikit ngambek dengan seorang teman kerja. Kebetulan saat itu dia berniat menyulut rokok bermerek terkenal. Seketika saya ambil dua batang terakhir di kotak rokoknya. Untungnya kami sudah biasa bercanda, jadi dia hanya cengar-cengir ketika saya melakukan hal itu. Rokok itu saya letakkan di saku. Sampai di rumah, rokok itu langsung saya buang di got belakang rumah. Tanpa sengaja hingga berganti hari saya sempat mencium saku seragam saya. Herannya, bau rokok yang kemarin saya simpan di situ belum juga hilang. Hem, padahal ini di saku. Material yang terbuat dari kain. Ketika ada bau, masih dapat dihilangkan dengan detergen dan pewangi. Namun bagaimana ya, jika itu merupakan asap yang nangkring di paru-paru para perokok? Ternyata sebuah penelitian menunjukkan, detoksifikasi pada perokok aktif baru bisa dinyatakan negative nikotin setelah 20 tahun detoks! Jadi, misalnya sekarang anda adalah perokok berusia 26 tahun, kemudian mulai sekarang berhenti merokok secara total, maka, paru-paru anda baru dinyatakan steril dari berbagai zat berbahaya dalam rokok  setelah anda berusia 46 tahun!

Para perokok aktif umumnya juga cuek dengan asap rokok yang mereka buat. Padahal asap tersebut lebih berbahaya jika terhisap orang-orang di sekitarnya yang bukan perokok.  Jadi, wajar saja misal ada pernyataan bahwa perokok aktif adalah orang yang sedang membakar dirinya sendiri dan juga negaranya. Inilah salah satu alasan saya mengapa saya sulit berkompromi dengan perokok aktif. Tidak adakah niat di hati mereka untuk berhenti merokok demi orang-orang yang mereka sayangi? 31 Mei ini seharusnya bukan menjadi hari antitembakau, tetapi menjadi hari kasih sayang sedunia.🙂

P.S: ditulis spesial untuk orang-orang tercinta di dekat saya yang ingin berhenti merokok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s