PERAN KTSP DALAM MEMINIMALISIR KEKERASAN TERHADAP SISWA DI SEKOLAH

Maraknya Tindak Kekerasan di Lingkungan Sekolah

Menurut Charter, Kekerasan pada siswa adalah suatu tindakan keras yang dilakukan terhadap siswa di sekolah dengan dalih mendisiplinkan siswa. Kasus yang dialami Anarki dalam berita di atas bukan satu-satunya yang terjadi di Indonesia. Tingginya kasus kekerasan yang terjadi pada siswa di lingkungan sekolah akhir-akhir ini menunjukkan betapa ironisnya kualitas pendidikan di negeri ini. Dalam Tempo Interaktif, Minggu 14 desember 2008 diungkapkan, dari 1.926 kasus yang dilaporkan sepanjang tahun ini, 28 persen diantaranya terjadi di lingkungan sekolah. Sisanya terjadi di lingkungan keluarga, lingkungan sosial dan lingkungan pekerjaan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh UNICEF (2006) di beberapa daerah di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 80% kekerasan yang terjadi pada siswa dilakukan oleh guru.

Sebagaimana diketahui, sekolah adalah tempat mencari ilmu, dimana poros utama ada pada siswa dan ilmu pengetahuan itu sendiri. Tempat kedua setelah rumah yang diharapkan siswa mampu memberikan ketenangan. Bukan merupakan arena pembesar otot dalam adu kekuatan.

Maraknya kasus kekerasan di dunia akademik tidak hanya menyebabkan trauma dalam diri siswa, namun juga secara efektif dan kontinyu mengajarkan kepada siswa bahwa kekerasan merupakan hal yang lumrah, bahkan dianggap patut dijadikan budaya. Di Indonesia sendiri, kebanyakan guru menganggap, kekerasan merupakan hal yang wajar untuk menyelesaikan masalah.

Apapun posisi kita saat ini, kita tidak bisa sembarangan memvonis, bahwa gurulah yang menjadi akar utama terjadinya kekerasan terhadap siswa di lingkungan sekolah. Ada banyak hal yang mungkin menjadi faktor penyebab kekerasan di sekolah.

Dari Guru

Macam-macam hubungan antara guru dengan murid ditentukan oleh guru, murid, serta situasi yang dihadapi (Nasution, 1995:115). Untuk mempelajarinya, dapat berpegang pada tipe-tipe guru. Misalnya, guru yang otoriter akan menjaga jarak dengan murid, sedangkan guru yang ramah akan dekat dengan murid. Guru yang otoriter tidak mengizinkan anak melewati batas social tertentu. Akibatnya, guru tipe ini mungkin dianggap murid tidak perlu diajak dalam kegiatan santai bahkan untuk membicarakan masalah-masalah pribadi yang dihadapai siswa dalam kegiatan pembelajaran. Sebaliknya, guru yang ramah akan dekat dengan murid, namun dalam mungkin dianggap kurang berwibawa.

Sebenarnya tidak ada guru yang murni 100 persen otoriter, dan 100 persen ramah. Sebab tiap guru akan mempunyai sifat itu dalam taraf tertentu. Namun pandangan murid terhadap peranan guru merupakan faktor penentu efetivitas guru. Tipe kelakuan guru tertentu mungkin lebih efektif terhadap murid tertentu.

Melihat kasus yang dialami Anarki, dalam berita di atas diungkapkan, Rupina menghukum Anarki dan teman-temannya tidak hanya lantaran Anarki lupa membawa pekerjaan rumahnya. Namun juga dapat diperkirakan, setiap ada kesempatan.  Rupina bisa saja mengalami salah satu hal berikut:

  1. Mengalami gangguan psikologis yang menghambat proses belajar dalam kelas. Gangguan ini dapat berupa frustasi. Menurut Purwanto (1992:127), frustasi adalah keadaan batin seseorang, ketidakseimbangan dalam jiwa, suatu perasaan tidak puas karena hasrat yang tidak terpenuhi. Masalah material seperti gaji yang rendah, dan kurangnya tunjangan dari pemerintah dapat juga menjadi pemicu timbulnya frustasi pada guru.
  2. Adanya tekanan kerja berupa target yang harus dipenuhi oleh guru, baik dari segi kurikulum, materi maupun prestasi yang harus dicapai siswa didiknya sementara kendala yang dirasakan untuk mencapai hasil cukup besar.
  3. Muatan kurikulum yang berlebih, menyebabkan suasana belajar di kelas tidak nyaman dan cenderung menegangkan. Guru merasa selalu dituntut profesi menghasilkan output berprestasi.
  4. Kurangnya pengetahuan bahwa kekerasan baik fisik maupun psikis tidak efektif untuk merubah perilaku siswa, malah beresiko menimbulkan trauma psikologis pada siswa.
  5. Guru kurang memahami kepribadian siswa. Padahal guru tidak dapat melepaskan latar belakang kehidupan siswa. Sebab itu bisa saja guru menganggap, kepribadian tertentu yang dipandang rusak oleh guru pada diri siswa, segera saja diselesaikan melalui kekerasan.
  6. Hingga saat ini, banyak guru beranggapan pola otoriter cocok diterapkan dalam kegiatan belajar, dimana gurulah yang dianggap paling berkuasa dan dominan di mata siswa.

Dari Siswa

Sikap siswa tidak dapat dilepaskan dari keribadiannya sehari-hari. Ada siswa yang merasa lemah, bodoh, kurang pandai berinteraksi dengan sesama ataupun kepada gurunya, akan menunjukkan sesuatu agar orang lain memperhatikannya. Walaupun hal itu dilakukan dengan cara yang tidak sehat. Seperti memancing marah guru hingga mendatangkan hukuman kepadanya. Dengan begitu, tujuannya akan tercapai.

Dari Orang Tua

  1. Orang tua mengasuh anak dengan memanjakannya. Dengan demikian anak tidak dapat mengolah emosi dalam dirinya. Anak akan memaksa orang lain untuk memenuhi kebutuhannya, dengan cara apapun juga asalkan tujuannya tercapai. Anak juga tak memiliki rasa tanggung jawab karena kemudahan yang ia dapatkan, Anak di sekolah ingin dapat nilai bagus tapi tidak mau belajar, akhirnya mencontek, atau memaksa siswa lain memberi contekan dengan ancaman.
  2. Orang tua yang sering emosi menimbulkan pemikiran tertentu dalam anak bahwa dirinya ditekan untuk tidak menjadi anak yang bodoh, lemah, dan sebagainya. Keadaan seperti ini jika tidak mampu dilakukan, maka dalam diri anak akan timbul kekecewaan yang justru menyebabkan anak berpotensi menjadi manusia lemah dan bodoh. Emosi ini secara perlahan ditunjukkan dalam kepripadian yang menurun seperti pemurung, sedih bahkan mengancam orang lain yang lebih lemah darinya.
  3. Orang tua mengalami frustasi akibat pekerjaan. Sikapa lekas marah, tidak sabar, kurang berkomunikasi menyebabkan anak menjadi sensitif dan kehilangan semangat utama yang justru diharapkan datang dari orang tua.

Dari Lingkungan

Adanya budaya kekerasan yang hampir setiap saat siap dikonsumsi. Seperti di teve, kegiatan orientasi siswa baru, dan adanya komunitas tertentu di lingkungan anak yang mengajarkan kekerasan.

Dampak kekerasan pada siswa

Secara fisik siswa akan mengalami kerusakan pada organ tubuhnya, seperti luka dan memar. Sedangkan secara mental, siswa akan mengalami gangguan psikologis seperti rasa takut, tidak aman, dendam, menurunnya semangat belajar, daya konsentrasi, dan kreativitas, hilangnya inisiatif, serta daya tahan (mental) siswa, menurunnya rasa percaya diri, inferior, stress, depresi, dan lain-lain. Dalam jangka panjang, dampak ini bisa terlihat dari penurunan prestasi, dan perubahan perilaku yang menetap. Selain itu kekerasan juga dapat menyebabkan siswa menarik diri dari lingkungan pergaulan, karena merasa terancam dan merasa tidak bahagia berada diantara teman-temannya. Mereka juga jadi pendiam, sulit berkomunikasi baik dengan guru maupun dengan sesama teman. Bisa jadi mereka jadi sulit mempercayai orang lain, dan semakin menutup diri dari pergaulan.

Peran Kurikulum

Dalam falsafah pengajar, guru harus konsisten dengan peraturan sekolah agar dapat membimbing siswa ke arah tujuan pendidikan seperti dirumuskan dalam kurikulum. Dalam pelaksanaan kurikulum guru selalu terlibat dan karena itu memasukkan prinsipnya dalam perencanaan, organisasi dan penyampaian pelajaran.

Pengembang kurikulum harus menyadari kemungkinan adanya berbagai macam falsafah para pengajar. Kurikulum atau pelaksanaannya yang didasarkan atas salah satu aliran filsafat akan berbeda bila dipakai aliran filsafat yang lain (Nasution, 1989:21).

Kurikulum dibentuk untuk memudahkan proses pembelajaran dan pengorganisasian ilmu di sekolah. Seharusnya dalam pembuatannya tidak boleh dilepaskan dari hambatan-hambatan yang memang harus dicari pemecahannya. Kekerasan yang dilakukan guru seperti terungkap pada berita diatas, adalah salah satu hambatan kegiatan belajar di sekolah. Dimana guru secara langsung menunjukkan posisi dirinya sebagi otoriterian dan orang yang paling berkuasa dalam kegiatan belajar di sekolah. Hal ini menunjukkan ketidakfleksibelan suatu kurikulum yang dijalankan di institusi tersebut. Pada suatu ketika, Rupina menghukum Anarki dan temannya lantaran mereka lupa membawa pekerjaan rumahnya. Lalu benarkah memukul siswa adalah tindakan yang dibenarkan dalam dunia pendidikan. Tentu tidak. Apalagi dalam kasus tersebut, Anarki masih berusia SD. Sekalipun Anarki duduk di bangku SMP atau SMU, pemukulan atau tindak kekerasan lainnya tidak patut diterapkan di sekolah. Proses pemberian hukuman terhadap siswa yang lupa membawa tugasnya tentunya dapat dilakukan dengan cara lain yang lebih mendidik.

Satu dari sepuluh prinsip pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar yaitu menumnbuhkan kesadaran sebagai warga Negara yang baik dan bertanggung jawab (Muslih, 2007:26). Guru adalah salah satu sumber yang mampu membentuk siswa berkepribadian seperti itu. Sekali lagi, sekolah adalah wadah untuk menghasilkan generasi bangsa yang berkualitas tidak hanya dalam pola pikir, namun juga pola sikap.

Pada sebuah artikel yang berjudul Kurikulum Beridentitas kerakyatan dijelaskan, dalam sejarah pendidikan di Indonesia, pada rentang waktu tahun 1945-1949 dikeluarkan Kurikulum 1947. Tahun 1950-1961, ditetapkan Kurikulum 1952. Kurikulum terakhir pada masa Orde Lama adalah Kurikulum 1964.

Masa Orde Baru lahir empat kurikulum. Kurikulum 1968 ditetapkan dan berlaku sampai tahun 1975. Selanjutnya muncul Kurikulum 1975. Pada tahun 1984 dibuat kurikulum baru dengan nama Kurikulum 1975 yang Disempurnakan dengan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Pada tahun 1994 dikeluarkan kurikulum baru, yakni Kurikulum 1994. Kurikulum itu menjadi kurikulum terakhir yang dikeluarkan oleh rezim Orde Baru.

Pada era reformasi muncul Kurikulum 2004 yang dikenal dengan nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang pada tahun 2006 dilengkapi dengan Standar Isi dan Standar Kompetensi (Sisko) yang memandu sekolah menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Apabila dicermati, penyusunan kurikulum yang silih berganti di Indonesia itu menunjukkan betapa kekuasaan yang berlaku sangat dominan dalam penentuan isi kurikulum. Kurikulum yang berlaku dalam suatu negara, termasuk Indonesia, sering digunakan sebagai sarana doktrin terselubung dari suatu sistem kekuasaan. Umumnya para pendidik dan masyarakat luas tidak menyadari apa sebenarnya peranan kurikulum di dalam proses pembelajaran peserta didik.

Dunia pendidikan memang sering kali menganggap bahwa kurikulum adalah soal teknis belaka. Namun, sebenarnya, berbicara tentang kurikulum adalah berbicara tentang sumber-sumber kekuasaan dalam dunia pendidikan. Kurikulum adalah program dan isi dari suatu sistem pendidikan yang berupaya melaksanakan proses pendistribusian ilmu pengetahuan antargenerasi dalam suatu masyarakat.

Dalam sebuah masyarakat yang homogen, masalah kurikulum tidak terlalu merisaukan. Namun dilihat dari konteks masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, kurikulum adalah pertarungan antarkekuasaan yang hidup dalam suatu masyarakat. Kelompok masyarakat yang dominan akan mempertahankan kurikulum untuk mempertahankan dominasinya melalui sistem persekolahan.

Sampai sejauh ini pendidikan di Indonesia menggunakan satu kurikulum, yaitu Kurikulum Nasional yang dipakai sebagai acuan tunggal. Semua lembaga pendidikan formal di negeri ini, baik di kota besar, pelosok gunung, maupun di pinggiran pantai, punya kurikulum sama.

Dengan demikian, proses pendidikan yang diterapkan adalah dalam upaya membentuk keseragaman berpikir. Melalui proses pendidikan nasional, generasi muda Indonesia dibentuk oleh sistem pendidikan yang mengacu kepada politik etatisme.

Melalui Kurikulum Nasional, pendidikan di Indonesia telah menjalani proses yang amat berlainan dengan perkembangan kebudayaan sehingga pendidikan di Indonesia bukan lagi sebagai persoalan kebudayaan, melainkan lebih sebagai kepentingan politik di satu sisi, dan kepentingan ekonomi di sisi lain.

KTSP dalam meminimalisir kekerasan pada siswa di sekolah

Menurut seorang pakar pendididian, Lukman Bastomi, munculnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tampaknya menunjukkan bahwa politik kebijakan pemerintah dalam pengembangan dan operasionalisasi kurikulum mulai desentralistis, akomodatif, dan terbuka. Meskipun demikian, efektivitas perubahan politik kebijakan tersebut dalam menjawab problem fungsional kurikulum masih harus dibuktikan.

Melalui kebijakan KTSP, sekolah-sekolah diberi kebebasan menyusun kurikulum sendiri sesuai dengan konteks lokal, kemampuan siswa, dan ketersediaan sarana-prasarana. Kebebasan semacam itu tentu dilatari semangat pembaruan dalam bidang pendidikan yang selama ini dinanti.

Lebih lanjut, Lukman menjelaskan Pemberian kebebasan kepada sekolah dan guru ini bukan tanpa persoalan. Umumnya para guru yang memang tidak dipersiapkan untuk menyusun kurikulum, tidak cukup memiliki kompetensi dan kreativitas dalam menyiapkan kurikulum dan segenap perangkat pembelajaran. Belum lagi masih ada tuntutan ujian nasional di tengah persaingan mutu, kualitas guru, dan sarana-prasarana belajar yang tinggi antardaerah.

Menurut seorang pakar pendidikan dari Malang, T Raka Joni, ketersampaian pesan pada kurikulum bukan bergantung pada materi pesan yang ingin disampaikan, melainkan lebih pada cara menyampaikan pesan. Dampak proses penyampaian pesan itulah yang dimanfaatkan untuk menyampaikan sisi-sisi pesan pendidikan lain—humanisme, kerakyatan, nasionalisme, kebangsaan —yang juga penting dalam kerangka tujuan utuh pendidikan.

Akan tetapi, ini justru tidak tepat apabila disampaikan hanya dalam kerangka pikir pembelajaran materi. Sebaliknya, sasaran-sasaran pembentukan seperti kebiasaan bekerja secara sistematis, kepekaan sosial, dan tanggung jawab harus diwujudkan sebagai dampak pengiring dari keterlibatan siswa dalam berbagai kegiatan dan peristiwa pembelajaran yang dialami siswa.

Berdasarkan dampaknya kepada siswa, kurikulum dibedakan menjadi lima tataran, yaitu kurikulum ideal, formal, instruksional, operasional, dan eksperiensial. Kurikulum eksperiensial adalah makna dari pengalaman belajar yang terhayati oleh siswa sementara mereka terlibat dalam berbagai kegiatan dan peristiwa pembelajaran yang dikelola oleh guru dan sekolah. Oleh karena itu, kurikulum eksperiensiallah yang membuahkan dampak, dalam bentuk perubahan cara berpikir dan bertindak para siswa yang bersangkutan.

Oleh karena itu, dilihat dari sudut pandang keberdampakan kurikulum terhadap tingkah laku siswa, pada dasarnya yang patut hanyalah kurikulum lokal-yang tertuang dalam KTSP- yang berupa pengalaman belajar yang digelar oleh guru dari hari ke hari. Ini berarti, kurikulum formal tidak banyak turut andil tanpa aplikasi yang benar di lapangan.

KTSP sangat berpeluang untuk meminimalisir tindak kekerasan yang dilakukan guru kepada siswa. Karena pada dasarnya KTSP dibentuk sesuai otoritas masing-masing satuan pendidikan. Sehingga perjalanannya dinyatakan sesuai dengan kebutuhan setempat.

Solusi Untuk Mengatasi Kekerasan pada siswa di Sekolah

Sangat penting bagi semua pihak, baik guru, orang tua dan siswa untuk memahami bahwa kekerasan bukanlah solusi atau aksi yang tepat, namun semakin menambah masalah. Generasi penerus kita merupakan generasi yang sehat secara fisik dan psikis. Oleh karena itu, kekerasan yang terjadi pada siswa di sekolah perlu ditangani karena mengakibatkan dampak negatif bagi siswa. Diperlukan kerjasama dari berbagai pihak dalam mengatasi kekerasan pada siswa di sekolah, yaitu:

  1. 1. Sekolah

Sekolah perlu menanamkan pendidikan tanpa kekerasan di sekolah. Dalam hal ini guru dapat melakukannya dengan menjalin komunikasi yang efektif dengan siswa, mengenali potensi-potensi siswa, menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran, guru memberikan kebebasan pada siswa untuk berkreasi dan guru menghargai siswa sesuai dengan talenta yang dimiliki siswa.

Hukuman yang diberikan, berkorelasi dengan tindakan anak. Ada sebab ada akibat, ada kesalahan dan ada konsekuensi tanggung jawabnya.Dengan menerapkan hukuman yang selaras dengan konsekuensi logis tindakan siswa yang dianggap keliru, sudah mencegah pemilihan / tindakan hukuman yang tidak rasional.

Sekolah perlu mengembangkan dan membekali guru baik dengan pengetahuan, kesempatan untuk punya pengalaman baru, dan untuk mengembangkan kreativitas mereka. Selain itu, sekolah juga bisa memberikan pendidikan psikologi pada para guru untuk memahami perkembangan anak serta dinamika kejiwaan secara umum. Dengan pendekatan psikologi, diharapkan guru dapat menemukan cara yang lebih efektif dan sehat untuk menghadapi anak didik.

Bukan hanya siswa yang membutuhkan konseling, tapi guru pun mengalami masa-masa sulit yang membutuhkan dukungan, penguatan, atau pun bimbingan untuk menemukan jalan keluar yang terbaik. Sekolah yang ramah bagi siswa merupakan sekolah yang berbasis pada hak asasi, kondisi belajar mengajar yang efektif dan berfokus pada siswa, dan memfokuskan pada lingkungan yang ramah pada siswa.

  1. 2. Bagi Orangtua

Orang tua perlu secara efektif menyeleksi sekolah untuk pendidikan anaknya. Selain itu orang tua perlu menjalin komunikasi tidak hanya dengan anaknya namun juga dengan orang tua murid lainnya dan pihak sekolah. Orang tua juga perlu menerapkan pola asuh yang megedepankan apresiasi dibandingkan hukuman. Segera saja mencari jalan keluar dari setiap permasalahan entah yang dialami sendiri atau yang dialami anak.

  1. 3. Bagi siswa yang mengalami kekerasan

Siswa diharapkan segera memberitahu orang tua akan kekerasan yang telah menimpa dirinya agar secara langsung, dapat ditangani dampak fisik ataupun psikis yang dialaminya.

Daftar Pustaka

Bastomi, Lukman. 2007. Kurikulum Beridentitas Kerakyatan. [serial on line]. [24 Desember 2007].

Chiedink. 2008. Kekerasan Pada Siswa di Sekolah. [serial on line]. http://chiedink.multiply.com/journal/item/22/Kekerasan_Pada_Siswa_di_Sekolah. [24 Desember 2008].

Muslich, Mansur. 2007. KTSP, Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.

Nasution, S. 1989. Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Nasution, S. 1999. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Purwanto, M. Ngalim. 2000. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Susanti, Reh A. 2008. Penyelesaian Damai untuk Guru Anarkis Terhadap Anarki. [serial on line]. http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2008/12/14/brk,20081214-150964,id.html. [24 Desember 2008].

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s