PERUBAHAN TATA NILAI BUDAYA JAWA DALAM WACANA DONGENG “TUKANG PIJET LAN BUTA TELU” KARYA HASTARAHARDJA

Nilai budaya Jawa menurut Saryono (2009) terbagi atas tiga pengertian, yaitu (a) nilai budaya yang dipangku, dipeluk, dan diikuti oleh manusia Jawa (etnis Jawa) dalam pengertian seluas-luasnya; (b) yang secara genealogis-regional tumbuh dan berkembang di wilayah (yang sekarang disebut) Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat serta wilayah-wilayah lain di luar Jawa; (c) dan yang secara historis mencakup masa sebelum Hindu-Budha sampai dengan masa Negara-bangsa Indonesia sekarang.

Kebudayaan Jawa sebagai subkultur kebudayaan nasional Indonesia, telah mengakar bertahun-tahun menjadi pandangan hidup dan sikap hidup orang Jawa. Sikap hidup masyarakat Jawa, memiliki identitas dan karakter yang menonjol yang dilandasi dengan nasehat-nasehat nenek moyang sampai turun temurun, hormat kepada sesama serta berbagai perlambang dalam ungkapan Jawa, menjadi jiwa seni dan budaya Jawa. (Sonny, 2008)

Menurut Hariawan, dkk (2005) kebudayaan Jawa mengandung unsur-unsur kebudayaan yang tidak tampak dan abstrak, yang dinamakan kebudayaan subjektif, dan unsur-unsur kebudayaan yang tampak dan konkrit itu, yang disebut kebudayaan objektif. Sebagai bagian dari kebudayaan timur, budaya Jawa bersifat tradisional agraris, yang menekankan keselarasan dengan alam. Namun manusia Jawa pada saat ini mau tidak mau harus mengakui bahwa budaya tradisional Jawa telah bergeser dan digantikan oleh budaya Jawa yang lebih modern.

Titis, (dalam Utami, 2008) staf pengajar dan pengelola laboratorium Arsitektur Jawa Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret Surakarta dalam suatu seminarnya mengatakan bahwa jika kuatnya pengaruh globalisasi dipercaya mampu menggeser nilai dan norma etika tradisional budaya Jawa yang ada, bukan berarti nilai dan norma tersebut telah tergantikan secara total. Akibat interaksi oleh generasi ke generasi, nilai dan norma tersebut mengalami negosiasi.

Budaya Jawa sebagai warisan leluhur telah banyak dilupakan bahkan ditinggalkan oleh orang Jawa. Berbagai perlambang dan ungkapan Jawa, merupakan cara penyampaian terselubung yang bermakna ‘piwulang’ atau pendidikan moral, karena adanya pertalian budi pekerti dengan kehidupan spiritual, menjadi petunjuk jalan dan arah terhadap kehidupan sejati. Dongeng Jawa berjudul Tukang Pijet Lan Buta Telu (TPLBT) karya Hastarahardja bercerita tentang perubahan tata nilai budaya masyarakat Jawa akibat globalisasi. Di dalam wacana dongeng ini diceritakan bahwa suatu hari seorang tukang pijat berhasil melumpuhkan tiga orang buta atau raksasa yang gemar memangsa manusia Jawa. tampak sekali bahwa perkembangan zaman turut menyeret manusia sehingga menjadi lebih suka mementingkan duniawi ketimbang kesadaran dirinya sebagai manusia.

Globalisasi dalam Wacana Dongeng TPLBT

Fenomena globalisasi yang datang bagaikan hantu bagi kebudayaan di daerah, termasuk pula kebudayaan Jawa yang merupakan kebudayaan dominasi di Indonesia. DSKM, (dalam Eko Suryanti) menjelaskan bahwa globalisasi adalah berkurang atau hilangnya batasan negara dalam pertukaran sukarela lintas batas dan produksi global yang semakin terintegrasi. Globalisasi diasumsi akan membawa budaya dunia menuju homogenitas. Yang lebih mengherankan lagi, daya serap masyarakat lokal lebih besar pada budaya yang dibawa dunia global, daripada daya serap terhadap nilai-nilai lokal.

Globalisasi dalam wacana dongeng TPLBT digambarkan sebagai buta atau raksasa. Raksasa tersebut berjumlah tiga orang.

(1) Buta tetelune iki sing siji ngaku aran Rurah Budaya. Buta iki senajan wadon, nanging nyenyandhange nggegilani. Sing ditutupi mung perangan dhaha nganti pupu. Klambine pating slawir dadi ora rapet tenanan, kaya nyandhange wong edan.

Salah satu dari ketiga raksasa ini mengaku bernama “Rurah Budaya” (perusak budaya). Raksasa ini meskipun perempuan, tetapi penampilannya menjijikkan. Yang ditutupi hanya bagian dada hingga paha. Bajunya tidak karuan sehingga tidak begitu rapat, seperti pakaian orang gila.

Rurah budaya dalam wacana dongeng tersebut diibaratkan dengan perempuan. Hal ini dikarenakan penampilan perempuan saat ini ‘lebih berani’ dibandingkan perempuan zaman dahulu. Pakaian kini hanya berfungsi sebagai bagian dari tren atau mode dan tidak lagi sebagai penutup tubuh. Perempuan Jawa terkenal dengan perilakunya yang amat santun dan terkesan taat terhadap peraturan. Berbeda dengan perempuan zaman sekarang. Walaupun ada di antaranya yang tampil berani dalam artian bukan penampilannya, tetapi pemikirannya yang lebih modern dan memanfaatkan pengetahuan sebagai jalan untuk mencerdaskan dirinya. Akan tetapi lebih banyak lagi perempuan yang justru tidak sadar telah merendahkan dirinya sendiri dengan mementingkan penampilan daripada menjaga harga dirinya sebagai perempuan.

(2) Dene sing kaloro ngaku jenenge Akal Manca. Buta iki anggone nyegat karo mamerake dagangane kang gebyare mencutake.

Yang kedua mengaku bernama “Akal Manca” (akal luar negeri). Raksasa ini kerjanya menghadang orang dengan memamerkan dagangannya yang gemerlap sehingga membuat orang tertarik.

Raksasa kedua dijuluki dengan akal manca. Raksasa kedua ini terkenal dengan kemampuannya berdagang. Iklan adalah strategi dagang yang berpotensi tinggi sebagai alat promosi sebuah produk. Kehadiran iklan-iklan di media massa dan elektronik menyebabkan masyarakat Jawa berkembang menjadi masyarakat konsumtif. Iklan-iklan tersebut tentu bukan sembarang iklan hingga dikatakan membuat orang tertarik untuk membeli produk tersebut. Kualitas produk juga ditentukan oleh merk atau branded produk. Orang akan lebih merasa bergengsi jika menggunakan produk-produk Unilever dibanding produk Wings. Terkait dengan produk elektronik, orang akan lebih memilih brand LG atau Sony dibanding Maspion. Terkait dengan kendaraan bermotor, orang lebih memilih Honda daripada Yamaha. Terkait dengan makanan, orang lebih suka mi instan yang praktis juga tempat makan siap saji semacam KFC dan Pizza Hut daripada pecel Madiun, warung padang atau nasi warteg pinggir jalan yang jaminan gizinya lebih tinggi. Orang lebih merasa praktis dengan berbelanja di mall atau supermarket dibanding pasar tradisional. Umumnya kini mereka tidak terlalu suka dengan proses tawar menawar di pasar tradisional dan memilih membeli barang yang sedikit lebih mahal di mall. Padahal interaksi jual beli di mall atau supermarket justru cenderung menyebabkan tingginya faktor individualistis pada seseorang. Serta berbagai macam kebutuhan hidup yang proses mendapatkannya kini jauh dari nilai-nilai budaya Jawa.

(3) Banjur buta sing katelu, ngaku jejuluk Panglena Dhiri. Buta iki olehe nyegat karo nuduhake anggone duwe piranti warna-warna kang gunane kanggo ngegampang samubarang.

Raksasa ketiga, mengaku sebagai “Panglena Dhiri” (penglupa diri). Raksasa ini suka menghadang orang dengan menunjukkan berbagai perangkat berwarna warni yang berfungsi untuk memudahkan segala macam pekerjaan

Di era globalisasi dengan kemajuan teknologi, tidak ada lagi batasan ruang dan waktu. Manusia dengan sangat mudah mengakses informasi dari belahan bumi mana pun dalam waktu sangat singkat, bahkan hanya dalam hitungan detik. Berbagai fasilitas yang ada karena kemajuan teknologi justru sering digunakan untuk hal-hal negatif yang akan merusak norma-norma agama, budaya, dan sopan santun. Dampak buruk tersebut membuat budaya Jawa mengalami pergeseran nilai.

Kita ambil contoh handphone. Pertama kali muncul HP sekedar berfungsi untuk bertelepon dan mengirim pesan singkat atau sms. Kini HP yang ada, dilengkapi berbagai fitur sesuai kebutuhan manusia. Ada kamera, radio, pemutar musik, akses internet, dan sebagainya. Dampak buruk dari kelengkapan fitur tersebut menyebabkan mudahnya pergaulan bebas, juga pelalaian terhadap nilai-nilai budaya dan kewajiban sehari-hari terutama pada anak-anak dan remaja. Orang lebih suka mengirim kabar lewat sms dibanding berkunjung langsung ke rumah orang yang bersangkutan. Orang lebih suka menghabiskan waktu luang dengan mendengarkan musik dan chatting daripada membaca buku.

Belum lagi adanya internet. Situs jejaring sosial semacam friendster, twitter dan facebook memudahkan manusia bergaul dengan seluruh penggunanya di berbagai belahan dunia. Pemasukan pemikiran yang secara tidak langsung ditransfer jejaring semacam ini paling ampuh melalaikan manusia dan melepaskan jati diri mereka terutama dalam wacana ini adalah masyarakat Jawa. Kalau internet digunakan untuk mengakses informasi bernilai positif tentu bagus sekali, tetapi oleh sebagian orang justru digunakan untuk mengakses situs-situs terlarang.

Fasilitas lain yang memudahkan langkah kerja manusia adalah transportasi, semacam mobil dan motor. Transportasi seperti ini menghemat waktu manusia. Tetapi juga menyebabkan tingginya tingkat polusi udara.

Peralatan elektronik rumah tangga seperti televisi, bisa diperkirakan 90% penduduk Indonesia memiliki TV. Pada zaman sekarang ini, program televisi didominasi oleh program yang kurang jelas arahnya dan kurang berkaitan dengan pendidikan. Sinetron-sinetron yang ditayangkan banyak menampilkan kekerasan, gaya hidup konsumtif, pornoaksi, dan sebagainya. Sangat sedikit yang punya muatan pendidikan, padahal banyak anak-anak dan ibu rumah tangga yang betah menonton TV sepanjang hari.

Peralatan elektronik lain seperti mesin air, rice cooker, blender, dan lain-lain memudahkan kerja manusia. Masyarakat Jawa zaman dahulu, memenuhi bak air dengan menimba dari sumur atau mengangkatnya dengan timba dari sungai, menanak nasi dengan berulang kali proses yang jelas tidak semudah menggunakan rice cooker, atau juga menumbuk bumbu tidak lagi menggunakan alat semacam cobek, tetapi dengan blender meskipun hasilnya lebih lembut, namun ada juga yang menyatakan bahwa bumbu yang ditumbuk secara manual, memiliki cita rasa yang lebih kuat.

Kemajuan teknologi tersebut dalam wacana dongeng ini disebut sebagai raksasa dengan sebutan Penglena Dhiri. Hal ini dikarenakan alat-alat tersebut memang dapat melalaikan manusia.

(4) Karana tetelu iku, mula nduweni sipat kang padha yaiku seneng mangan manungsa.

Ketiganya mempunyai sifat yang sama yaitu senang memangsa manusia.

(5) Awit srana anggo mayokake dagangane lan ngelar ngrembakane cara uripe, pancen kudu mangan manungsa.

Sebagai jalan untuk membuat dagangannya laku dan untuk mempertahankan hidupnya memang harus memakan manusia.

Ketiga wujud globalisasi tersebut dalam wacana dongeng TPLBT ini mempunyai tujuan yang sama yaitu, mereka ‘memangsa’ manusia Jawa karena memang bertujuan agar barang-barang mereka laku sekaligus sebagai cara mempertahankan diri mereka (globalisasi). Masyarakat Jawa secara umum dikenal sebagai masyarakat yang mudah sekali tergoda dengan segala hal yang memudahkan hidup mereka, juga dengan hal-hal yang menurut mereka akan dapat menaikkan gengsi mereka. Dalam hal ini masyarakat Jawa kini secara tidak langsung berkiblat kepada kehidupan masyarakat eropa yang memang terkenal hedonis dan konsumtif.

Nilai-nilai Budaya Masyarakat Jawa dalam Wacana Dongeng TPLBT

Dalam wacana dongeng TPLBT, diceritakan, ketika tiga raksasa bertanya pada sang dukun pijat tentang mengapa mereka tidak diperkenankan memangsa orang Jawa, dukun Marsudi menjelaskan bahwa orang Jawa merupakan tipikal yang taat dan selalu waspada.

(6) “Awewatone ngene: Kajatene wong Jawa iku duwe ceciren mituhu ing kautaman tur tansah ora ninggal kawaspadan.”

Dasarnya seperti ini: sejatinya orang Jawa mempunyai ciri-ciri taat pada kewajiban agama atau pedoman hidup (Jawa) dan selalu waspada.

Menurut R.Soenarto (dalam Rohmawati) dalam bukunya yang berjudul Serat Sasangka Jati, menguraikan mengenai sikap hidup orang Jawa serta pandangan hidup orang Jawa yang terdiri dari dua pedoman yakni Trisila dan Pancasila. Trisila merupakan pedoman pokok yang harus dilaksanakan tiap hari oleh manusia dan merupakan tiga hal yang harus dituju oleh budi dan cipta manusia dalam menyembah Tuhan, yaitu eling, sadar, percaya, dan mituhu atau setia melaksanakan perintah. Yang dimaksud Eling atau sadar adalah selalu berbakti kepada Tuhan Yang maha Esa. Dengan selalu sadar terhadap Tuhan yang Maha Esa maka manusia akan bersifat hati-hati hingga mampu memisahkan yang benar dan yang salah, yang nyata dan yang bukan, yang berubah dan yang tidak berubah.

Sikap hidup orang Jawa yang etis dan taat pada adat-istiadat warisan nenek moyang serta selalu mengutamakan kepentingan umum atau masyarakat ketimbang kepentingan pribadi; secara jelas tergambar dalam pedoman-pedoman hidupnya; seperti aja dumeh dan anjuran untuk menghindari aji mumpung. Aja dumeh adalah ajaran mawas diri bagi semua orang jawa yang sedang dikaruniai kebahagiaan hidup oleh Tuhan Yang Maha Esa. Aja dumeh adalah suatu peringatan agar seseorang selalu ingat kepada sesamanya. Aji mumpung adalah salah satu pedoman mengendalikan diri dari sifat-sifat serakah dan angkara murka apabila seseorang diberi anugrah kesempatan untuk hidup di “atas”. Orang Jawa percaya bahwa hidup manusia didunia ini telah diatur oleh-Nya sedemikian rupa, sehingga putaran hidup manusia itu seperti halnya roda kereta.

Ketaatan dan sikap waspada masyarakat Jawa merupakan bagian dari budaya Jawa yang dapat dinilai sebagai budaya dogmatis. Hal ini ditunjang dengan keberadaan sistem sosial yang begitu diyakini kuat dan tidak menimbulkan adanya satu peluang untuk mempertanyakan atau memperoleh klarifikasi rasional.

Perubahan Tata Nilai Budaya Jawa Dalam Wacana Dongeng TPLBT

Wujud-wujud perubahan tata nilai budaya Jawa Dalam wacana dongeng TPLBT terbagi dalam tiga hal, yaitu (1) perubahan identitas kejawaan; (2) perubahan fungsi pengajaran moral; dan (3) perubahan dari sisi bahasa.

1) Perubahan Identitas Ke-Jawa-an

Dalam wacana dongeng TPLBT, meskipun dukun Marsudi telah menjelaskan kepada tiga raksasa tentang larangan memangsa orang Jawa, namun ketiganya masih tetap memangsa orang Jawa. Ketika sang dukun mengkonfirmasi, salah satu raksasa menjelaskan bahwa orang Jawa yang mereka mangsa bukan lagi sebagai ‘orang Jawa’ menurut ketiganya. Raksasa tersebut menjelaskan bahwa identitas Jawa pada orang tersebut hanyalah pakaian dan KTPnya.

(7) Sing dipangan dhisik dhewe perangan uteg lan atine banjur liyan-liyane nganti entek. Sing dingengeh mung sandhangan kejawen karo KTP sing nuduhake deweke kuwi wong Jawa.

Yang dimakan dahulu adalah otak dan hatinya baru bagian tubuh lainnya hingga habis. Yang ditinggal hanya pakaian Jawa dan KTP yang menunjukkan bahwa dia adalah orang Jawa.

Menurut si raksasa, orang yang dimangsanya, selama ini ‘mengaku’ sebagai orang Jawa sebatas memudahkan kebutuhan hidupnya. Orang tersebut tidak mau memikirkan bagaimana sejatinya orang Jawa.

(8) “Senajan dheweke kuwi wong Jawa, nanging sak ngertiku sing Jawa mung sandhangane lan KTPne. Awit sing dipikir lan dirasa dening wong iku, mung murih dheweke kuwi dianggep wong Jawa. Temah tansah kapenak uripe. Karana dening wong akeh tansah dijaga supaya awet ing kalungguhane iya marga dianggep anggone jawane. Dene bab uripe, lan ngrembakane wong Jawa, dheweke ora mikirake!”

Meskipun dirinya adalah orang Jawa, namun sepemahamanku yang ‘Jawa’ adalah pakaian dan KTPnya. Yang dipikir dan dirasakan orang tersebut hanya agar dirinya dianggap sebagai orang Jawa. Agar hidupnya mudah. Sebab agar kedudukannya sebagai orang Jawa diketahui dan dijaga oleh kebanyakan orang. Sedangkan tentang kehidupan dan bagaimana sejatinya orang Jawa tidak dipikirkannya.

Dalam wacana tersebut tampak adanya Jawanisasi pada masa sekarang. Jawanisasi adalah proses penjawaan yang dilakukan oleh seseorang sebagai cara membentuk suatu identitas Jawa (Taruna, 1985: 141).  Jawanisasi berlaku sekedar sebagai simbol yang ditunjukkan seseorang yang meskipun orang tersebut terlahir sebagai keturunan Jawa, namun tidak memahami apalagi menerapkan nilai-nilai budaya Jawa,  semangat, serta pandangan hidup Jawa.

Senada dengan penjelasan Emprit (2009) bahwa banyak orang mencari Jawa dengan datang ke Yogyakarta, katanya di Jogja suasana Jawa masih dapat dinikmati. Mungkin karena melihat penampakan luar atau fisik yang terlihat dari bangunan tradisional keraton, pakaian surjan dan blangkon, fasilitas tradisional seperti andong, sepeda onthel, dan sebagainya masih menyimbolkan etnis Jawa. Warga masyarakatnya pun khas dengan senyum ramah, sapaan, dan pemakaian bahasa Jawa sehari-hari. Kesan ini juga disebabkan karena Jogja dikemas sebagai kota budaya, Daerah Istimewa Yogyakarta. Walaupun kemodernan yang ada di Jogja juga sudah meluas namun tradisionalnya masih diperlihatkan dan dilekatkan ke dalam tampilan modern itu. Misalnya mall atau hotel yang merupakan konsep modern dan megah tetapi barang, bentuk bangunan, atau namanya berbau tradisional pula. Akan tetapi, bagaimana dengan daerah di luar Jogja? Nyatanya dalam hal ini transformasi modern menyebabkna hilangnya batas-batas kultural lokal.

Identitas global oleh masyarakat Jawa kini dianggap sebagai wujud modernitas yang berderajat tinggi. Pemahaman ini ditanamkan dari stereotip bahwa seseorang yang masih mengunggulkan identitas lokalnya (dalam hal ini adalah identitas Jawa) akan dianggap sebagai golongan desa yang terkesan sebagai golongan miskin, tertinggal, tidak tahu perubahan zaman, kolot,  dan terlalu ruwet dengan berbagai ritual yang dianggap tahayul oleh orang ‘kota’. Nilai-nilai kejawaan pun dengan sendirinya akan menghilang seiring dengan kegiatan migrasi atau urbanisasi masyarakat pada wilayah yang telah termakan oleh nilai-nilai universal. Meskipun demikian, pada beberapa daerah pedesan di Jawa, pertanian masih menjadi karakteristik masyarakat tersebut. Walaupun demikian penampilan fisik di masyarakat pedesaan tersebut sudah tidak lagi dapat dilihat atau diidentifikasikan dari pakaian, rumah, dan sebagainya. Identifikasi Jawa masih dapat dilihat dalam struktur tindakan, cara pandang, perilaku, dan kelas sosial dalam masyarakat Jawa di pedesaan.

Hilangnya identitas kejawaan pada masyarakat Jawa juga tampak sekali ketika tempo hari terdapat kasus klaim beberapa hasil kebudayaan Jawa. Klaim yang dilakukan negara tetangga tersebut antara lain seperti kain batik, Reog Ponorogo, musik gamelan, dan lain-lain. Ketidakmampuan masyarakat Jawa dalam mempertahankan identitasnya lebih karena disebabkan pengaruh globalisasi sehingga budaya barat masuk dan menyatu dengan budaya lokal. Padahal identitas kejawaan tidak hanya berwujud materi semacam contoh di atas, namun lebih kepada nilai-nilai budaya Jawa, sebagai bentuk immateri yang lebih dahulu luntur.

2) Perubahan Fungsi Pengajaran Moral

(9) “Senajan dheweke kuwi wong Jawa tur guru sisan, nanging sak ngertiku sing Jawa mung lambene. Awit senajan wicarane dheweke iku njawani, nanging patrap sarta laku kanggo nuladhani anak-anake lan para muride lelawan banget karo piwulang luhur Jawa!”

Meskipun dirinya orang Jawa, bahkan seorang guru, namun sepemahamanku yang ‘Jawa’ hanya mulutnya. Meskipun cara bicaranya sangat ‘Jawa’, namun tingkah dan lakunya untuk meneladani anak-anak dan muridnya berlawanan dengan pengajaran luhur Jawa.

Dalam wacana dongeng TPLBT selanjutnya dijelaskan bentuk-bentuk perubahan nilai-nilai budaya Jawa, yaitu pada seorang guru yang mengajarkan nilai-nilai Jawa kepada muridnya namun dirinya sendiri justru jauh dari nilai-nilai Jawa yang sering dibicarakannya. Secara harfiah, banyak guru-guru mata pelajaran Jawa di sekolah-sekolah yang sekedar mengajarkan pelajaran ’Jawa’ sebagai muatan lokal tetapi tidak disertai dengan mendidik para muridnya dengan keadiluhungan nilai-nilai budaya Jawa. Guru yang demikianlah yang dikatakan menjadi mangsa  ‘raksasa globalisasi’.

Dalam masalah pendidikan, banyak pelajaran kejawaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesopanan budaya Jawa. Djatmika, dalam artikelnya yang berjudul Keprihatinan Verbal dan Moral Pengajaran Sastra Jawa di SD Kelas 1 menjelaskan bahwa sastra Jawa, sebagai alat untuk merangsang perkembangan kognitif anak, banyak disisipi pelanggaran moral. Salah satu karya sastra yang dicontohkannya berjudul Kancil Karo Asu Belang. Di dalamnya tampak jelas terdapat penggunaan kata-kata kasar dan pemilihan nama atau istilah yang tidak berterima dengan pengajaran terhadap anak-anak. Sehingga dikatakan bahwa sastra tersebut, sebagai alat pendidikan, berlawanan dengan konsep kesopanan dan pendidikan Jawa.

Piwulang moral Jawa yang harusnya diajarkan oleh guru atau orang tua pada diri mereka dan generasi mudanya terwujud melalui ungkapan-ungkapan yang menyimbolkan moral tertentu. Keyakinan masyarakat Jawa dalam menjalani kehidupannya diwujudkan dalam sebuah sistem sosial yang mengakar dan turun-temurun dalam bentuk tabu. Tabu adalah sistem kepercayaan yang dikenal menguasai cara hidup masyarakat tradisional. Dalam tabu dikandung seperangkat aturan sosial “serba tidak boleh” yang diterima validitasnya secara turun-temurun dalam suatu masyarakat. Dengan begitu, sifat tabu adalah mutlak. Tabu memiliki daya-daya khusus yang mengikat warga masyarakat dan menjadi semacam rumus bagi sukses dalam kehidupan mereka. Tabu mewujudkan satu sistem hukum tertentu yang apabila dilanggar, maka seseorang diyakini akan mengalami kegagalan-kegagalan dalam kehidupannya. (Sutrisno, 2001)

Bentuk konkrit dari pelaksanaan tabu dalam masyarakat Jawa adalah dikenal dengan istilah “ora ilok” sebagai satu rambu-rambu tindakan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. “Ora ilok” ini adalah seperangkat aturan “serba tidak boleh” yang menjadi satu patokan, supaya dalam bertindak seseorang jangan sampai melanggarnya. Sayangnya, stressing moral semacam ini kini tidak lagi berlaku bagi masyarakat Jawa modern. Salah satu sebabnya adalah aspek-aspek rasionalitas yang menurut masyarakat sekarang lebih jelas diajarkan tanpa melalui ungkapan lagi.

3) Perubahan Sisi Bahasa

Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.(www.wikipedia.com)

Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

(10)“Senajan dheweke kuwi wong Jawa, nanging sak ngertiku sing Jawa mung buku-buku lan asiling pangothak-atike. Dene bab laku Jawa ora katon babar pisan ing urip padinane. Kajaba kuwi, dheweke malah ora krasa yen njalari sing isih padha enom-enom banjur padha ngasorake Jawa. Awit yen pinuju sesorah, dheweke asring kandha lan nganggep menawa istilah manca iku basa sing mentereng! Umpamane dheweke mung kok kandha yen nganggo basa menterenge…banjur nirokake tembung manca.”

Meskipun dirinya orang Jawa, namun sepemahamanku yang ‘Jawa’ hanya buku-buku dan hasil olahannya. Sedangkan kelakuan Jawanya tidak tampak sama sekali dalam kehidupannya sehari-hari. Selain itu, dia malah tidak merasa jika menulari yang muda-muda dengan merendahkan nilai Jawa. Dia sering mengatakan jika istilah luar negeri adalah bahasa yang ‘keren’. Seumpama jika dia berkata-kata, dia akan menggunakan bahasa luar negeri.

Perubahan bahasa dalam wacana dongeng TPLBT bahwa seorang intelektual (pada wacana ini tersimbolkan melalui kemampuan orang tersebut mengeksplorasi buku yang merupakan simbol keluasan berpikir) tampak merendahkan bahasa Jawa dan malah gemar menggunakan bahasa dan istilah asing.

Bahasa Jawa merupakan bahasa yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa (www.wikipedia.com). Pada bahasa Jawa, gaya bahasa secara sosial dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu ngoko, madya, dan krama. Dengan memakai kata-kata yang berbeda dalam sebuah kalimat yang secara tata bahasa berarti sama, seseorang dapat mengungkapkan status sosialnya terhadap lawan tutur dan isi tuturan, serta tingkat kesopanan penutur yang disesuaikan pula denagn lawan tutur dan konteks tuturan.

Akan tetapi, kini sedikit sekali masyarakat Jawa yang menguasai ketiga gaya bahasa Jawa tersebut dengan baik dan benar. Hal ini disebabkan pengaruh bahasa asing yang memberikan label ke-modern-an dan intelektualitas pada pemakainya. Demikian pula, pada akhirnya masyarakat Jawa  lebih memilih menggunakan bahasa asing dibanding bahasa  Jawa.

Menurut Baskara, Hal-hal yang berlaku dan diyakini dalam masa modern ini, seperti ungkapan “funky”, “gaul”, “trendy”, atau apapun istilahnya telah begitu menyatunya dalam kehidupan sehari-hari. Seakan-akan hal tersebut menjadi suatu “pakem” dalam menjalani kehidupan modern dan menjadi suatu gaya hidup yang harus diikuti pada masa kini. Padahal bila diturut secara lebih dalam, tidak ada unsur substansial yang bisa diangkat menjadi satu titik tolak untuk mengambil penjelasan secara rasional dan kritis.

Demikian, pada akhir wacana dongeng ini terdapat pernyataan retorik, yaitu jika orang Jawa tidak lagi mampu memahami nilai-nilai budaya Jawa, sudah tentu mereka akan mudah dilahap globalisasi yang dalam dongeng ini berwujud tiga raksasa.

(11) Yen wong Jawa padha ora tumemen anggone njawani, apa ora bakal klakon terus cures dimangsa dening Rurah Budaya, Akal Manca apadene Panglena Dhiri?”

Jika orang Jawa tidak bersungguh-sungguh menjadi orang Jawa, apa tidak mungkin mereka akan terus dimangsa oleh perusak budaya, akal luar negeri dan pelupa diri.

Era globalisasi menawarkan banyak kepraktisan, kemudahan, kebebasan yang memiliki daya tarik besar bagi generasi muda. Kebudayaan Jawa dianggap memiliki kaidah-kaidah yang justru menjauhkan diri dari pendukung-pendukungnya. Padahal kebudayaan Jawa telah diakui oleh dunia internasional. Fenomena globalisasi bukanlah sesuatu yang baru. Justru adanya globalisasilah yang membuat budaya semakin beragam seraya berkembang dan mengisi satu dengan yang lainnya. Mereka yang membela keotentikan budaya biasanya menganggap batas-batas budaya otentik sama dengan batas-batas territorial. Seperti yang dijelaskan oleh Palmer, budaya yang hidup selalu berubah, proses perubahanlah yang menjadikan budaya sebagai budaya. Sejarah telah membuktikan bahwa persentuhan antara budaya satu dengan yang lainnya justru memperkaya dan melengkapi kebudayaan lokal. Demikian pula dengan budaya Jawa. Ada harapan besar jika penerapan nilai-nilainya mampu menjadi bentuk pertahanan dari segala macam gempuran globalisasi.

Kesimpulan

Realita sejarah telah membuktikan bahwa kebudayaan Jawa bukanlah kebudayaan asli yang berdiri sendiri di ‘negerinya’, tetapi merupakan ramuan dari berbagai kebudayaan yang telah dielaborasikan ke dalam seluruh aspek kehidupan berbudaya di tanah Jawa. Kebudayaan Jawa telah sedemikian rupa dimanifestasikan dalam niali-nilai budaya yang berbentuk seni pertunjukan, seni rupa, bahasa, seni suara, seni sastra, adat istiadat, filosofi, seni bangunan, dan sebagainya.

Bangsa Eropa bangkit dari masa kegelapan dengan tidak membuang mitos, namun mengkaji mitos untuk menemukan nilai-nilai nalar (logos). Nilai itulah yang menjadi dasar bagi munculnya ‘renaisans’ atau kebangkitan kembali Eropa. Pembongkaran pemikiran itu sekaligus perlu disertai usaha untuk membumikan niali-nilai budaya Jawa menjadi dasar bagi kemajuan peradaban masyarakat. (visitbanyumas.com)

Ketika kebudayaan lain tersebut justru mengancam peradaban masyarakat lokal, apa kita perlu menyambut dan merangkul dunia global atau justru kita mengisolasi diri dengan budaya lain Gempuran budaya luar yang lebih kuat daripada ketahanan budaya masyarakat lokal tentu akan membahayakan eksistensi budaya lokal. Kalau masyarakat Jawa sendiri sudah tidak memiliki daya saring dan daya tahan agar budaya lokal tetap eksis, mungkinkah kebudayaan Jawa mampu bertahan dua puluh lima tahun yang akan datang? Akankah kebudayaan Jawa menjadi tamu asing masyarakat Jawa di ruang budayanya sendiri? Sebab, bukannya tidak mungkin jika seluruh identitas dan nilai-nilai budaya Jawa suatu ketika akan musnah akibat homogenisasi budaya global.

2 thoughts on “PERUBAHAN TATA NILAI BUDAYA JAWA DALAM WACANA DONGENG “TUKANG PIJET LAN BUTA TELU” KARYA HASTARAHARDJA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s