Menajamkan Arah Pengembangan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia

Berkembangnya sumber daya manusia (SDM) pada sebuah negara tidak dapat dilepaskan dari keberhasilan pengelolaan pendidikan di negara tersebut. Dengan berkembangnya SDM, maka seluruh elemen di sebuah negara bisa dipastikan ikut berkembang. Tidak hanya dalam bidang ekonomi, kehidupan politik, namun juga perkembangan teknologi dan kesejahteraan sosial masyarakat negara tersebut. Meskipun dalam perjalanannya, keseluruhan bidang tersebut tidak dapat dipisahkan karena saling terkait dengan sistem yang dianut oleh si negara.

Bagaimana sebuah pendidikan berkembang pesat, tentu tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab negara secara keseluruhan. Sebab dalam hal ini, negaralah yang mempunyai wewenang penuh untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan rakyat. Pendidikan jugalah, sebagai salah satu kebutuhan rakyat yang harus dipenuhi, yang nantinya menjadi sarana utama mewujudkan sebuah bangsa menjadi mandiri dan berdaya saing tinggi.

Profesor Mohammad Ali, dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Untuk Pembangunan Nasional, menyatakan langkah strategis dari fungsi pendidikan masih belum terlihat hasilnya secara aktual. Kualitas kehidupan dan martabat manusia Indonesia di kancah dunia internasional masih terpuruk. Begitulah adanya, karena undang-undang yang ada, tidak dijalankan dengan benar. Entah itu berupa undang-undang dasar 1945, sistem pendidikan nasional, dan lain-lain.

Beliau menambahkan, dilihat dari segi tujuan pendidikan nasional membangun manusia Indonesia seutuhnya, lulusan pendidikan saat ini memiliki kecerdasan dan kompetensi. Namun, mental dan kecerdasan emosional serta spiritualnya masih kurang terbina. Tentu salah satu penyebabnya adalah ketidakmampuan masyarakat sendiri dalam mengahadapi persaingan denagn dunia luar, serta derasnya arus globalisasi yang masuk ke Indonesia.

Mengenai kesetaraan dan keadilan, banyak warga negara Indonesia yang belum mengenyam pendidikan karena keadaan ekonomi. Pendidikan berkualitas cenderung hanya dinikmati oleh orang-orang yang mampu. Pendidikan yang ada tidak diberiakn secar merata kepada seluruh masyarakat di pelosok Indonesia. Karena itu, seluruh kenyataan ini adalah wujud tidak efektifnya sistem yang diterapkan pemerintah sekarang.

Realitas lain dalam buruknya pengelolaan pendidikan di negeri ini adalah kurikulum yang disusun kurang memerhatikan perkembangan peserta didik dan kesesuainnya dengan lingkungan. Pengetahuan yang diberikan di setiap instansi pendidikan kurang tepat dengan kebutuhan masyarakat. Buruknya, lembaga pendidikan ikut andil dalam memperbanyak jumlah pengangguran intelektual. Tentu bukan ini yang dicita-citakan hati murni bangsa ini.

Terkait dengan seluruh hal di atas, guru sebagai faktor penting berjalannya pendidikan, kini dituntut lebih mandiri dalam memberikan pengabdiannya kepada bangsa. Meskipun kenyataannya, saat ini banyak lulusan perguruan tinggi, utamanya sebagai calon guru, memilih menjadi guru hanya untuk mendapatkan tunjangan berupa segelintir materi, yang tentunya tidak seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan yang harus mereka berikan pada bangsa ini.

Tantangan utama mereka, seperti yang diungkapkan Dr Anita Lie dalam sebuah rubrik pendidikan di media massa adalah bagaimana menjalankan pendidikan untuk putra-putri bangsa mengingat pendidikan ini tidak terjadi di ruang hampa, melainkan berada dalam realita perubahan sosial yang sangat dahsyat. Tentu tidak cukup jika guru hadir di depan kelas sekedar berbekal ijazah, sertifikasi, dan buku ajar. Sebab di lapangan akan banyak dijumpai berbagai macam fenomena pendidikan yang mungkin tidak mereka pelajari ketika masih berstatus calon guru. Entah terkait dengen latar budaya, sosial, ataupun letak geografi anak-anak tersebut berkembang juga instansi pendidikan yang ditempati guru. Inilah salah satu hal yang nantinya dibutuhkan bangsa ini sebagai wujud pemerataan pendidikan di Indonesia.

Melihat kenyataan tersebut, seharusnya Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Jember, sebagai program studi urgen yang menghasilkan calon guru di tingkat satuan SMP, SMA dan SMK mulai meningkatkan kualitas pembelajarannya. Tidak melulu menjejali calon guru dengan materi-materi yang justru banyak tidak dipahami dan sekedar menjadi formalitas dengan angka-angka yang mereka dapatkan ketika ujian. Sehingga nantinya calon guru yang dihasilkan, tidak menjadi produk-produk yang instan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s