Tanyaku pada Tuhan

Tanyaku pada Tuhan suatu hari. Tuhan, kenapa Kau hidupkan saya di jaman ini? Jaman yang (sering kali) saya benci setengah hati. Tentu setengah hati sebab kalau sepenuh hati, saya pasti sudah ada di sisiMu sebelum menuliskan huruf2 ini. Jaman ini. Bukan lagi jaman untuk berkasih hati. Berkasih hati semacam ketika otak saya masih murni di waktu bayi. Sebab kini, yang disebut manusia pun bukan lagi sebentuk makhluk yang memiliki hati. Tak ada hati. Hanya uang. Jadi mati.
Saya, Tuhan. Kata saya suatu hari. Kadang mengakui kalu saya adalah bagian dari dilatasi agungMu itu. Saya, Tuhan. Kata saya hari ini. Berulang kali ingkar kepadaMu. Tentang janji yang terpatri. Hambaku, kata Tuhan padaku setiap waktu. Lewat tafsir para kyai dan pemakmur rumahNya yang kudatangi seminggu tiga kali, dan dari langit2 hati. Percayai Aku, niscaya kau tak kan menyesal. Ikuti firmanKu dan kau kan jadi bagian yang terselamatkan.
Alladziina yu’minuuna bil ghoiib…
[barusan saya tutupi tulisan ini. Ada teman mengintip. Jadi malu? Malu?]
Ada nyamuk, jenisnya bukan penyebab DBD kok. Besar. Menggigit jempolku, au! Sakit. Tapi keburu mati. Lantaran tangan kanan saya yang sedang menulis, menempelengnya. Nyamuk. Klenger. Saya kerjap2kan mata. Saya amati. Saya tengok batang perutnya. Seperti balon yang belum ditiupi angin. Kempes.
Seorang mbah,pengemis sepertinya. Uluk salam di depan pintu UPPL depan gedung bahasa. Tangannya ditengadahkan. Mulutnya komat-kamit. Bukan ucap mantra tentu. Tapi semacam nyuwun sa’paring2…sebentar kemudian (entah ikhlas atau tidak; atau tampang merengutnya itu lho…) sambil saya intip tak sengaja di balik jendela, Bapak kumis yang saban hari pulang pergi naik Harley itu memberi beberapa receh. Ya, saya tau itu receh. Bukan karena mengintip saja, tapi tau karena saat si mbah menengadahkan tangannya, tiba2 ‘dolar2’ itu tercecer di lantai. Krincing-krincing. Lalu mbah itu berkmat-kamit lagi. Yang berupa akhirul kalam. Ditambah doa. Dan pak Kumis berucap balik. Nggih mbah, amiiiin. Daun2 dari pohon2 besar di depan gedung bahasa jatuh. Gugur satu-satu. Berbarengan. Dan saya teringat musim gugur di negeri tetangga.
[gedung bahasa FKIP 211107]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s