Hidup Bebas dengan Total?

Puih…ujian akhir udah di depan mata. Hampir saban hari belajar jadi rutinitas yang bener2 mengikat. Arrrgggghhh!! I wanna free… Gak mikir sekolah! Gak mikir UNAS! Bebas…bebas…bebas! Kayak adek bayi, kayak kakek, kayak ayam, kayak burung. Mereka semua gak perlu pusing kayak aku. Hiks…bisa gak sih hidup tanpa ikatan memusingkan kayak gini? Apa mentang2 aku masih pelajar, gitu? Tuz, bisa gak kalo hidup cuma buat fun aja…?

Keluhan itu kayaknya gak cuma dilontarkan oleh seorang adik kelas saya yang kini duduk di bangku akhir sebuah madrasah aliyah. Keluhan tentang hidup bebas seperti di atas –dengan sedikit leterlek berbeda- pasti juga pernah dilontarkan hampir setiap manusia di bumi yang kini semakin tua ini.

Bebas. Ada gak sih di antara kita yang mau hidupnya gak bebas? Yakin deh, pasti gak ada satupun yang mau, bahkan untuk sekedar angguk2. Well sebelum ngomongin kebebasan, ada yang tau gak, pengertian bebas secara umum? Hm…terkait makna kebebasan, gak ada yang bisa pastiin dengan benar berapa totalnya. Ada lho, yang mengatakan lebih dari dua ratus makna! Bebas dalam KBBI bermakna antara lain: 1) lepas sama sekali (tidak terhalang sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat dengan leluasa); 2) lepas dari (kewajiban, tuntutan, rasa takut, dsb); 3) tidak dikenakan (pajak, hukuman, dsb); 4) tidak terikat atau terbatas oleh aturan; 5) merdeka (tidak dijajah, diperintah negara lain); 6) tidak terdapat lagi.

Bebas, menurut takrif atau pendapat Ayatullah Misbah Yazdi dalam kitab Jamia wa Tarikh (sebagai takrif dengan standar Islam) adalah tiada yang menghalangi jalannya, tiada yang merintangi geraknya, tiada yang menahan kemajuannya. Kemudian berkata lagi, “Setiap maujud yang hidup yang ingin melintasi jalan kesempurnaan salah satu kebutuhannya adalah kebebasan.”

Oleh itu, kebebasan artinya tiadanya halangan. Manusia yang bebas adalah manusia berjuang menghilangkan segala hambatan dan rintangan untuk kesempurnaannya tujuannya. Manusia bebas adalah manusia yang tidak menyerah dengan adanya hambatan dan rintangan ini untuk mencapai kesempurnaan hidupnya. Jadi bebas itu ya gak ada halangan dari dan untuk sesuatu dalam hidup. Intinya sih, kebebasan itu adalah nilai asasi setiap manusia. Mulai dari rakyat mpe pejabat, gak ada satu manusia pun yang gak tertarik dengan kebebasan, bener kan?

Bebas bersumber dari kehendak yang berada dalam diri kita yang merespon untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan. Di sinilah letak titik kebebasan. Kehendak tersebut berdasarkan pandangan Islam, terkait dengan penciptaan manusia, semua itu diciptakan oleh Allah sebagai Dzat yang Maha Menciptakan dan Mengetahui kehendak manusia. Karena kita tidak hanya sebagai makhluk individu, tetapi sekaligus makhluk sosial,  pasti ada aturan atau batasan tertentu dimana kita boleh berbuat bebas dan tidak boleh berbuat bebas. Bebas dalam Islam syaratnya ada dua. Satu, sepanjang gak ganggu kebebasan orang lain (konsep ini juga dianut orang barat, lho) dan dua, menjamin kebahagiaan manusia.

Jadi, karena manusia adalah makhluk yang full keterbatasan, bener dong kalo kebebasan mutlak dan total itu sesungguhnya gak ada. Mustahil kalo ada! Kalo kita berbuat bebas secara mutlak, gak mungkin jika itu gak ganggu orang lain. Nah, kalo itu ganggu orang lain, berarti kita menghalangi kebebasan orang lain. Pusing ya? He…he… Contohnya nih, mentang-mentang kita mau bebas, pas kita lagi lapar, trus kita liat orang jualan gorengan di pinggir jalan. Kita langsung nyamperi orang itu dan maen comot gorengannya seenak kita. Abis gitu, kita langsung nyelonong tanpa bayar. Ow…ow…ow. Kalo yang jualan punya mbah kita sih, suka-suka. Tapi kalo itu punya orang lain, emang kita mau dipentung orang banyak gara2 ngutil gitu? He…gak banget toh.

Contoh lainnya, karena bentar lagi ujian akhir, kita maunya gak usah belajar dan gak ikut ujian. Tapi kita mau lulus dengan nilai sempurna. Atau kita tetep ikut ujian, tapi pas di hari H, kita keliling-keliling kelas nyontek jawaban temen atau maksa temen kasih jawabannya ke kita. How come? Ya, gak bisa lah…

Sebagai muslim yang percaya bahwa Allah adalah pencipta kita, maka sudah tentu satu-satunya yang berhak membatasi perbuatan kita adalah hukumNya. Nah, Islam sebagai agama kita adalah wujud bagaimana aktivitas kita dibatasi oleh aturan atau hukum syara’ buatanNya. Ingat, kita bukan hewan atau benda mati layaknya jam dinding yang setelah diciptakan, dibiarkan jalan sendiri ma pembuatnya. Kita adalah hamba Allah yang hidup dengan kebebasan bersyarat yang telah ditetapkanNya. Jangan mengartikan batasan-batasan ini sebagai kungkungan. Sebab tujuan hidup umat Islam yang utama adalah untuk beribadah pada Allah. Seperti firman Allah berikut. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS. Adz Dzariaat: 56)”

Kita termasuk umat Islam, bukan? Jadi, kita perlu yang namanya kebebasan untuk mencapai kesempurnaan dalam ibadah kita. Dan Allah telah bermurah hati memfasilitasi kita dengan seperangkat kebebasan sejak lahir untuk beribadah. Toh, ibadah itu gak ada ruginya, kan? Rewardnya aja pahala dan surga. Malah anjurannya adalah untuk menjadi manusia yang paling terbaik di mata Allah. Sayang banyak dari kita tak tahu jelas apa, kenapa dan bagaimana  tujuan kita hidup. Jadi, maunya ya hidup bebas tanpa syarat, tanpa perlu pusing dengan ibadah-ibadah macam orang-orang barat atau orang-orang yang tak beriman pada Allah. Kalian gak gitu kan? Ato malah gak salah? He…he. Jangan dong ya…

Salah seorang orientalis, Marcell Boisard, yang cukup fair menilai pandangan ini berkata bahwa, “Dalam agama Islam, kebebasan dan kesetaraan manusia merupakan sebuah hak yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Dan pendelegasian hak ini kepada manusia ini tidak berada dalam kekuasaan manusia lainnya sehingga manusia harus berhutang-budi kepadanya. Seluruh manusia harus mentaati dustur Ilahi dan menghormati kebebasan manusia lainnya.”

Semoga dari sini kita mampu memahami makna bebas yang sesungguhnya. Jelasnya, karena kita orang Islam, maka, makna bebas itu pun wajib sesuai dengan Islam. Masih ngeyel mau bebas yang total? Ya, sutra lah…bukannya hidup ini juga sebuah pilihan? Seperti dalam QS. Al Balad: 10,  : “Dan kami Telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”

Yang dimaksud dengan dua jalan ialah jalan kebajikan dan jalan kejahatan. Seorang teman pernah berkata, pilihan berbanding lurus denagn konsekuensi. So, gak boleh gegabah buat nentuin. Betul, betul, betul?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s