Amal yang DiterimaNya

Manusia hidup di muka bumi ini tidak terlepas dari aktivitas dalam kehidupannya, dalam arti semua yang hidup pasti melakukan suatu aktivitas atau yang biasa disebut amal. Dalam satu hari saja, entah sudah berapa banyak amal yang kita lakukan mulai dari bangun tidur, makan, masak, belajar, mengkaji ilmu islam, sholat, membaca Alquran, bersedekah, diskusi, kerja, dsb, yang masih banyak lagi kalau dihitung satu persatu.

Namun, dari sekian banyak amal yang kita lakukan itu, apakah benar-benar berkualitas? Atau jangan-jangan kita melakukan amal yang sia-sia yang tidak ada maknanya sama sekali di hadapan Allah Swt. Jikalau demikian, lantas apa bekal yang nanti akan kita bawa ketika menghadap Allah? Apa yang nantinya dapat kita pertanggungjawabkan di yaumil akhir jika selama ini amal-amal yang kita lakukan tidak ada artinya di hadapan Allah?

Memang terkadang kita tidak sadar bahwa setiap kita melakukan aktivitas atau amal, sebenarnya kita berhubungan dengan Allah, tidak hanya dengan manusia atau diri kita saja. Sehingga sering dalam beramal kita ngawur, tidak memperhatikan apakah amal yang kita lakukan itu benar atau justru salah dan keluar dari apa yang diperintahkan oleh Allah dan rasulNya.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (Q.S  Al Israa’ 9).

Seorang ulama yaitu Al Fudlail bin ‘Iyad menjelaskan firman Allah dalam Q.S Al Mulk;2, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,”

Beliau mengatakan “Yang terbaik amalnya adalah yang terikhlas dan terbenar amalnya”. Ketika ditanya; “Wahai Abu’Ali apa yang terikhlas dan terbenar?” Dia menjawab:” Sesunguhnya amal yang benar tetapi tidak dilakukan dengan ikhlas, tidak akan diterima. Dan sebaliknya jika dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak dengan cara yang benar, maka juga tidak akan diterima.

Hasannya ama-amal itu dengan niat. Dan satiap orang dinilai dari niatnya” (H.R Bukhari, Muslim).

Dari Sa’id bin Zubair ia berkata:”Tidaklah diterima suatu perkataan melainkan diiringi amal, dan tidak akan diterima perkataan dan amal kecuali disertai dengan niat, dan tidak akan diterima perkataan, amal dan niat kecuali disesuaikan dengan sunnah Nabi Muhammad SAW.”

Jadi, jelas bahwa diterima tidaknya suatu amal yakni ketika kita melakukannya dengan ikhlas dan benar (showab), itulah yang disebut dengan ikhsanul amal. Makna ikhlas sendiri adalah menjadikan tujuan satu-satunya hanyalah kepada Allah SWT yang Maha benar. Artinya, semua apa yang kita lakukan hanyalah semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah bukan mengharap pujian orang lain atau mengambil hati orang lain. Sedangkan benar atau showab hanya bisa didapatkan tatkala amal tersebut mengikuti apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW, bukan selainnnya.

Misalnya: kita melakukan suatu amal sebut saja, mencuri, berzina, larung sesaji, tidak menutup aurat, menelantarkan anak, menghardik anak yatim, dsb, sekalipun kita ikhlas untuk melakukannya (tidak ada beban sama sekali dalam melakukan itu) tetapi hal tersebut tidak dapat dikatakan ikhsanul amal atau amal yang baik karena hanya ada unsur ikhlas tanpa disertai unsur showab (benar). Atau sebaliknya tatkala kita melakukan amal yang benar seperti kita bersedekah, sholat, membaca Alquran, puasa, namun jika tidak dilandasi rasa ikhlas, bisa jadi semua yang kita lakukan bernilai nol ‘0’ di hadapan Allah.

Dalam salah satu hadist syarif : “Barangsiapa yang belajar ilmu agar dia bisa bersaing dengan ulama, atau supaya dapat membodohi (mempermainkan) orang-orang bodoh, dan memalingkan pandangan manusia kepadanya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka”.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Q.S  An Nuur 55).

Hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya bagi seorang mukmin adalah tatkala amal yang dia lakukan bernilai di hadapan Allah. Suatu amal akan diterima serta diperhitungkan oleh Allah ketika memenuhi dua unsur yaitu ikhlas dan benar (showab). Seberapapun banyak amal (perbuatan) yang kita lakukan, namun bila tidak berharga di hadapan Allah maka itu semua hanya sia- sia belaka. Penting bagi kita memperhatikan amal yang kita lakukan. Bukan hanya sebatas kuantitas saja (banyaknya amal) yang dilakukan tapi  apakah amal tersebut benar-benar berkualitas di mata Allah Swt.

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang yang saleh.” (Q.S Al ‘Ankabuut:9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s