PENGGUNAAN RAGAM BAHASA REGISTER DALAM KOMUNITAS REMAJA MASJID NURULHAQ JEMBER

Oleh: Dian Wardani N.

Bahasa merupakan hal penting dalam kehidupan manusia sehari-hari. Dengan bahasa, manusia dapat mengkomunikasikan segala hal. Bahasa dalam kehidupan masyarakat berkembang sesuai dengan keadaan yang terjadi pada saat bahasa itu digunakan. Keadaan tersebut dapat berupa profesi yang dimiliki penutur. Misalnya seorang pedagang sayur, penceramah, dan politikus tentu menggunakan bahasa yang berbeda satu dengan lainnya. Seorang pedagang sayur sering menggunakan kata bayam, kangkung, satu ikat, masih segar, penglaris, dan lainnya. Seorang penceramah agama seringkali mengungkapkan kata agama, akhlak, surga, dakwah, dan sebagainya. Pun seorang politikus, dia akan sering mengatakan politik, partai, skandal, pemerintah, rakyat, dan lain-lain.  Menurut Ira Maya dalam artikelnya(1), perbedaan bahasa dari segi pemakaian seperti inilah yang menyebabkan timbulnya ragam bahasa register.

Ragam bahasa merupakan variasi bahasa menurut pemakaian yang berbeda-bedaberdasarkan konteks antara lain topik pembicaraan, penutur, lawan tutur, orang yang dibicarakan dan medium pembicaraan (2). Ragam bahasa dalam kamus linguistik karangan Kridalaksana ini disebut juga sebagai register (register, manner of discourse, key). Register menurut Chaer dalam Ira (1) adalah variasi bahasa yang menyangkut bahasa itu digunakan untuk suatu bidang tertentu. Misalnya bidang jurnalistik, militer, pertanian, perdagangan, pendidikan, dan sebagainya. Ragam bahasa dari segi pemakaian ini yang paling tampak cirinya adalah dalam hal kosakata. Register menurut Chaedar (3), adalah ragam bahasa yang dipergunakan untuk maksud tertentu, sebagai kebalikan dari dialek sosial dan regional (yang bervarisai karena penuturnya). Register bisa dibatasi lebih sempit dengan acuan pada pokok ujaran, misalnya mengail, judi, dan sebagainya; pada media atau modus wacana mislanya bahan cetakan amat, surat elektronik; atau pada tingkat keformalan atau tingkah wacana seperti formal, santai, biasa, intim, dan sebagainya. Selanjutnya register menurut Halliday (4) merupakan konsep semantik, yang dapat didefinisikan sebagai suatu susunan makna yang dihubungkan secara khusus dengan susunan situasi tertentu dari medan, pelibat dan sarana. Register mencerminkan aspek lain dari tingkat sosial, yaitu proses sosial yang merupakan macam-macam kegiatan sosial yang bisanya melibatkan banyak orang. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa register adalah ragam bahasa yang digunakan saat ini, tergantung pada apa yang sedang dikerjakan dan sifat kegiatannya.

Di Universitas Jember terdapat banyak komunitas atau organisasi kemahasiswaan. Komunitas Remaja Masjid Nurul Haq merupakan sebuah komunitas remaja keagamaan, dalam hal ini adalah agama Islam, yang berada di lingkungan Universitas Jember. Anggota remaja masjid ini umumnya adalah mahasiswa dan nonmahasiswa. Di samping komunitas remaja masjid Nurul Haq, sebenarnya terdapat banyak komunitas dan organisasi remaja masjid lain di sekitar kampus Universitas Jember. Baik di organisasi di dalam kampus, ataupun di luar kampus.

Hal-hal yang biasanya dilakukan dalam komunitas ini adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas keislaman. Misalnya, kajian Islam mingguan, kajian Islam bulanan, dan kajian Islam temporal. Kemudian pembelajaran baca tulis Alquran, dan bahasa Arab.

Pada dasarnya setiap komunitas, pergerakan atau organisasi remaja Islam memiliki ragam register yang sama. Dibandingkan komunitas atau organisasi non-keagamaan di kampus universitas Jember lainnya, register dalam komunitas Remaja Masjid Nurul Haq Jember merupakan sesuatu yang menarik untuk diteliti. Sebagai komunitas yang beragama Islam, pada komunitas ini, para penutur menggunakan pilihan kata atau kalimat dari bahasa Arab. Register pada pembahasan ini dibatasi pada penggunaan kata dan kalimat yang digunakan dalam bahasa lisan. Wujud register bahasa lisan dalam komunitas ini tampak pada dialog-dialog berikut.

1)      A: “Ukhti, antum nanti sore bisa ke masjid?”

B: “Ada apa, ukhti?”

A: “Ada kajian.”

B: “Ya, insyaallah saya datang. Apa ini untuk ikhwan dan akhwat?

A: “bener.”

B: “Oh, ya pematerinya siapa?”

A: “ tadi kata akhi Farhan, kalo gak salah, Ustadz Ghozali.”

Dalam dialog di atas, kata yang dicetak miring merupakan bentuk register kata ganti sapaan. Kata ukhti dalam bahasa Indonesia artinya ‘saudara perempuanku’. Pembicara dan mitra bicara dalam dialog ini adalah perempuan. Kata akhi artinya ‘saudara laki-lakiku’. Kata ustadz di sini diartikan sebagai guru atau orang yang ahli agama (laki-laki). Kemudian kata ikhwan dan akhwat adalah kata ganti sapaan bentuk jamak. Ikhwan adalah bentuk jamak dari kata akhi sedangkan kata akhwat adalah bentuk jamak dari kata ukhti.

Kata-kata tersebut sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Kata antum arti kata sebenarnya adalah ‘kamu’ (laki-laki dan perempuan lebih dari dua), sedangkan pada dialog tersebut, orang yang di ajak bicara hanya ada satu, yaitu perempuan, tidak ada lagi lawan bicara lain. Menurut kaidah, seharusnya pembicara atau mitra bicara menggunakan kata anti yang artinya ‘kamu’ (perempuan satu). Akan tetapi, sepengetahuan peneliti, komunitas ini menggunakan kata ‘antum’ untuk penghormatan kepada mitra bicara tidak peduli laki-laki atau perempuan.

Adakalanya, jika mitra bicara adalah perempuan (lebih dari dua), pembicara menggunakan kata antunna artinya kamu (perempuan lebih dari dua). Selain itu, dalam komunitas ini tidak ditemukan kata ganti sapaan dalam bahasa Arab yang menunjukkan tingkatan usia para anggotanya (adik atau kakak). Jadi sesama anggota saling menganggap satu sama lain sebagai saudara (seagama).

2)      A: “Ukhti, afwan jiddan, saya sedang sakit. Jadi nanti sore tidak bisa  mengisi ta’lim di masjid.”

B: “kalo gitu, ganti hari aja ustadzah.”

A: “bisanya antum hari apa?”

B: “saya Sabtu pagi bisa, kok.”

A: “ya, sudah, kita ketemu sabtu jam delapan. Syukron katsir.”

B: “ma’asyukri”.

Pada dialog di atas, afwan jiddan berarti ‘mohon maaf sekali’. Komunitas ini lebih memilih kata afwan dari pada kata ‘maaf’ dalam bahasa Indonesia, karena dalam bahasa Arab, kata afwan adalah bentuk direktif, berarti ‘berilah maaf’. Kata ta’lim berarti ‘menuntut ilmu’. Kata ini sebenarnya dapat diganti dengan kata tadris artinya belajar. Namun komunitas ini mengartikan kata ta’lim dengan maksud yang lebih khusus, yaitu untuk menuntut ilmu Islam.

Kata Syukron katsir berarti ‘terimakasih banyak’. Kata ini merupakan bentuk ucapan terimakasih dalam bahasa Arab. Sedangkan kata ma’asyukri adalah kata responsif dari kata syukron katsir berarti ‘terimakasih kembali’. Adakalanya untuk mengucapkan terimakasih, dalam komunitas ini juga didapati kalimat jazakumullah khoiron katsier atau jazakillah khoiron katsier. Kalimat ini berarti ‘semoga Allah memberikan atau mengembalikan kebaikan yang banyak padamu’. Kalimat pertama diucapkan jika mitra bicara adalah laki-laki sedangkan kalimat kedua adalah untuk perempuan.

3)      A: “Oh, ya untuk rakord pleno penutupan kepanitiaan Ramadhan, saya minta seluruh staf datang.”

B: “maksudnya aqod untuk Rabu besok?”

A: “bener. Tapi amirnya bukan saya, nanti insyaalah akhi Iqbal.”

B: “kita jadi rihlah ke Taman Botani?”

A: “rencananya begitu, tapi nanti kita bicarakan lagi di forum.”

Pada potongan dialog di atas, kata-kata yang ditulis miring merupakan istilah teknis dalam sebuah kepanitiaan dalam komunitas ini. Kata rakord, staf, pleno berasal dari bahasa Indonesia. Kata rakord adalah kependekan dari rapat koordinasi. Kata aqod berarti ‘janji’ atau ‘kesepakatan’. Kata ini sering digunakan jika antar anggota melakukan kesepakatan terhadap sesuatu. Sedangkan kata amir berarti pemimpin, yang dimaksud di sini adalah pemimpin rapat. Selain kata amir, biasanya juga dipakai kata rois yang artinya ‘ketua’ atau juga kata C.O (koordinator).

Kemudian kata rihlah berarti ‘rekreasi’. Komunitas ini biasanya melakukan rihlah setiap beberapa bulan sekali. Adakalanya acara ini merupakan sub paket sebuah kepanitiaan. Pada saat rihlah, juga tedapat pemberian tausiah (ceramah agama untuk refleksi diri). Rihlah biasanya lebih banayk dilakukan di tempat rekreasi umum denagn maksud tadabbur alam yaitu untuk mengagumi ciptaan Allah.

Dari berbagai potongan dialog-dialog di atas, kita mengetahui, bahwa ragam register dalam komunitas remaja masjid Nurul Haq adalah register yang terkait dengan komunitas yang berkecimpung daalm bidang keagamaan. Sebenarnya masih banyak pembahasan terkait dengan register komunitas ini. Akan tetapi dalam pembahasan di atas hanya dibatasi wujud register dalam kata ganti sapaan dan istilah keteknisan dalam sebuah kepanitiaan.

(1)   Harimurti Kridalaksana. 1982. Kamus Linguistik. PT. Gramedia: Jakarta.

(2)   A.Chaedar Alwasilah. 1993. Pengantar Sosiologi Bahasa. Angkasa: Bandung.

(3)   M.A.K Halliday & Ruqaiyya Hasan. 1994. Bahasa, Konteks, dan Teks. Gajah Mada University Press: Yogyakarta.

3 thoughts on “PENGGUNAAN RAGAM BAHASA REGISTER DALAM KOMUNITAS REMAJA MASJID NURULHAQ JEMBER

  1. gara gara ayahku aku jadi tau kata itu .. soal.nya ada temen ayah yang sms syukron katsir .. thanks for your article to me , its very useful … and i think you add my word ..
    thanks again

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s