Nikah yuuuk!

Satu persatu teman-teman dan tetangga saya berlari menuju garis hidup baru yang sering kita sebut sebagai pernikahan. Sebagian teman SMA, SMP, apatah SD. Akhir pekan ini ada teman SMA saya dari Banyuwangi yang mengundang saya di resepsinya.

Tetangga-tetangga saya, padahal usianya semua di bawah saya. Kebanyakan sepantar dengan adik yang lulus SMP,eh, menikah juga. Bahkan yang seangkatan kuliah dengan saya 4 orang telah menikah. 2 diantaranya baru melahirkan. 1 orang sedang hamil 7 bulan. 2 atau mungkin 3 teman lain, statusnya juga sudah tunangan.

Ada juga memang yang sudah ‘lewat’ usia tapi belum juga menikah. Dikatakannya belum siap materi. Lha, memangnya ada ukuran ekonomi sehingga seseorang baru boleh menikah setelah mencapai standar itu? Ah, masa? Tentu jika demikian, tetangga saya yang cuma jualan kayu bakar itu tak layak menikah. Lagi pula banyak juga yang sudah berpenghasilan tinggi. Punya rumah dan kendaraan sendiri, punya jabatan tinggi, masih banyak juga yang lajang. Gak percaya? Lihat saja acara ‘cari jodoh’ ala Take Me Out atau Take Him Out di Indosiar. Pesertanya mayoritas adalah kalangan d’have, bukan?

Menikah adalah sesuatu yang alami. Kodrati juga. Kita tahu bahwa Islam tak pernah main-main dengan pernikahan. Melaksanakannya adalah wujud ibadah. Sabda Rasulullah, “Hai pemuda-pemuda, barangsiapa yang mampu diantara kalian serta berkeinginan, hendaklah dia menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu akan memejamkan matanya terhadap orang yang tidak halal dilihatnya. Dan akan melindunginya dari godaan syahwat. Dan barangsiapa tidak mampu menikah, hendaklah ia berpuasa. Karena dengan puasa, hawa nafsunya akan berkurang.” (al-Jama’ah). Seorang ‘keponakan’ semasa SMA, seringkali menulis status di Facebook bertema ‘nikah’. Kalau tidak salah, ada satu berbunyi: hai prend yang beriman, tw dong NIKAH itu nyempurnain sebagian agama, so, nikah yuuuk…. Ha…ha…
As a moslem, Harusnya kita lebih paham lagi, jika pernikahan itu bukan sekedar menghalalkan yang haram dari lawan jenisnya. Ada aturan yang pasti di sini. Sebagai bagian dari ibadah, menikah memiliki aturan yang telah dibuat Allah dan wajib ditaati oleh umatnya yang ngaku beriman. Tak peduli laki-laki atau perempuan. Syariat atau aturan mengenai nikah ini, dapat kita pelajari lebih lanjut dalam ilmu Fiqih, di bab Nikah. Pasti lah, masa di bab Haji. Ha…ha. rukun pernikahan ada 3, yaitu adanya akad nikah; adanya wali; dan minimal 2 orang saksi laki-laki. Jelasnya, calon pengantin harus baligh. Sudah tau standar baligh, kan? Pelaksanaan ibadah yang sesuai syariat Islam, tak akan melahirkan kasus KDRT, apalagi kawin cerai yang hingga kini jadi ‘tren’ di masayarakat.

Sudah kewajiban kita untuk mempelajari dan menjalankan Islam secara kaffah. Terkait masalah pernikahan, sebagian kaum muslimin di manapun berada, terutama laki-laki, boleh dikatakan ‘suka’ memaknai firman Allah dalam QS. Annisa: 3 yang berbunyi, “Maka bolehlah kamu menikahi perempuan yang kamu pandang baik untuk kamu, dua atau tiga atau empat, jika kiranya kamu takut tidak dapat berlaku adil diantara mereka, hendaklah kamu nikahi seorang saja.” , sebagai ‘permisivisme agar mereka dapat menikah lebih dari 1 kali. Tentu pemahaman ayat ini tidak berhenti sampai disini. Akibat pemahaman yang separuh-separuh, para muslimahnya pun ‘koar-koar’ anti poligami. Beginilah jika Islam tidak berjalan dengan sempurna. Nah, jika setelah membaca tulisan ini anda berniat segera menikah, alangkah baiknya, jika kita menyempurnakan dulu pemahaman tentang Islam. Kuncinya, tentu saja banyak belajar Islam. [nDien]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s