RSS

Penguasaan Bahasa

Sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan orang lain dalam hidupnya karena manusia tidak akan mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu, manusia memerlukan alat yaitu bahasa sebagai sarana komunikasi antar- manusia dalam menjalin kerja sama, menyampaikan pikiran dan gagasan untuk berhubungan dengan orang lain.

            Bahasa merupakan alat komunikasi bagi manusia untuk menyampaikan pikiran dan perasaan yang dilakukan melalui proses belajar. Seseorang berbahasa tidak dapat secara tiba-tiba memiliki tata bahasa dalam otaknya lengkap dengan kaidahnya, tetapi proses belajar bahasa bagi seseorang diperoleh melalui lembaga pendidikan dan lingkungan yang mempengaruhi seseorang untuk menggunakan bahasa yang dipakai sesuai dengan kaidah-kaidah atau aturan-aturan bahasa dilingkungan pemakai bahasa tersebut. Proses belajar penguasaan bahasa  dilakukan secara bertahap melalui pengenalan terhadap benda-benda yang ada di sekitar lingkungan untuk membentuk kosakata. Penguasaan bahasa adalah sistem lambang bunyi yang abitrer dipergunakan untuk menentukan bentuk fonologis suatu kata oleh kata lain (Harimurti, 1982:165).

            Penguasaan bahasa dapat dilakukan secara aktif dan pasif. Penguasaan bahasa secara aktif adalah kemampuan untuk mengungkapkan pikiran dan gagasan dengan menggunakan bahasa yang baik melalui lisan dan tulis. Seseorang berbahasa secara aktif yaitu seseorang mampu mengungkapkan gagasan dan pikiran kepada orang lain, serta mampu memahami dan mengerti bahasa orang lain baik secara lisan maupun tulisan.

            Tahap pengusaan bahasa pada anak dipengaruhi oleh perkembangan jiwa dan usia anak. Pada waktu anak belajar berbahasa ia harus mendengarkan lebih dahulu kata-kata atau kalimat yang diujarkan orang lain (Pateda, 1994:63). Kata-kata dan kalimat yang diujarkan orang lain dihubungannya dengan proses berpikir, kegiatan, benda yang disaksikan. Ini berarti anak menghubung-hubungkan apa yang ia dengar dan ia lihat melalui proses berpikir yang kemudian diungkapkan dalam bentuk kata atau kalimat yang sederhana. Proses penguasaan bahasa bagi anak murid kelas satu Sekolah Dasar dilakukan melalui permainan yaitu menerapkan suatu teknik pengajaran pada anak yang berupa belajar sambil bermain. Anak diperkenalkan sesuatu yang ada dilingkungan disekelilingnya baik berupa benda maupun suatu kegiatan yang dilakukan seseorang dengan harapan anak mampu mengenal benda dan kegiatan yang dilakukan seorang.anak bisa menyebutkan melalui bentuk kata atau kalimat untuk memperkaya kosakata yang dimiliki oleh anak. Penguasaan kosakata pada anak dipengaruhi kondisi anak dalam belajar berbicara dan status orang tua.

            Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by pada Juni 6, 2011 in Linguistik

 

Kaitkata: ,

Kontak Bahasa dan Kedwibahasaan

1.Kontak Bahasa

             Manusia dalam hidup bermasyarakat memerlukan bahasa, karena hampir semua kegiatannya manusia memerlukan bahasa. Jika tidak mempunyai bahasa, manusia akan kehilangan kesanggupannya dalam hidup sebagai makhluk sosial. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya fungsi bahasa dalam kehidupan bermasyarakat. Komunikasi antarpemakai bahasa itulah yang dapat menimbulkan kontak bahasa.

Mackey (dalam Suwito, 1983:39) memberikan pengertian kontak bahasa sebagai pengaruh bahasa yang satu kepada bahasa yang lain, baik langsung maupun tidak langsung, sehingga menimbulkan perubahan bahasa yang dimiliki oleh ekabahasawan. Penutur yang ekabahasawan menjadi dwibahasawan, yaitu orang yang menguasai satu bahsa menjadi lebih dari satu bahasa.

Menurut Suwito (1983:39) pengertian kontak bahasa meliputi segala peristiwa persentuhan antara beberapa bahasa yang berakibat adanya kemungkinan pergantian pemakaian oleh penutur dalam konteks sosialnya. Peristiwa atau gejala semacam itu antara lain nampak dalam ujud kedwibahasaan dan diglosia. Pendapat Suwito ini identik dengan pendapat Kushartanti (2005:58) yang menyatakan bahwa terjadinya kontak bahasa disebabkan adannya kedwibahasaan atau keanekabahasaan.

2.Kedwibahasaan

Bahasa Indonesia pada saat ini dalam taraf pertumbuhan dan perkembangan yang memerlukan perbendaharaan kata, sehingga wajar apabila bahasa Indonesia banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur bahasa daerah, karena bahasa Indonesia belum cukup mempunyai konsep dan tanda yang dapat mewakili pengertian yang lengkap. Pengaruh  unsur bahasa Madura tersebut dapat memperkaya kosa kata bahasa Indonesia.

Kedwibahasaan timbul akibat adanya kontak bahasa ini sesuai dengan pendapat Weinreich (dalam Suwito, 1983:39) yang menyatakan bahwa kontak bahasa terjadi apabila dua bahasa atau lebih dipakai secara bergantian, sehingga mengakibatkan terjadinya tranfer yaitu pemindahan atau peminjaman unsur dari bahasa satu ke bahasa lain, sehingga dapat menimbulkan kedwibahasaan. Kedwibahasaan berkaitan dengan kontak bahasa karena kedwibahasaan merupakan pemakaian dua bahasa yang dilakukan oleh penutur secara bergantian dalam melakukan kontak sosial.

Dalam hal kedwibahasaan, dwibahasawan tidak harus menguasai dua bahasa secara aktif, tetapi dapat pula secara pasif. Penggunaan secara aktif dalam arti menggunakan dua bahasa yang sama baiknya, sedangkan secara pasif apabila dia cukup mampu memahami apa yang dituturkan atau ditulis dalam bahasa kedua.

Jenis kedwibahasaan berdasarkan tingkat pendidikannya menurut Samsuri (1994:55) ada dua macam, sebagai berikut.

a)            Kedwibahasaan Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by pada Mei 31, 2011 in Linguistik

 

Kaitkata: ,

NILAI-NILAI DALAM SASTRA

Konsep Nilai

Sehubungan dengan masalah nilai dalam penelitian ini, perlu diperhatikan berbagai batasan nilai, terutama yang menyangkut nilai budaya. Nilai budaya dalam hal ini dipahami sebagai nilai yang mengacu kepada berbagai hal (dengan pemahaman seluruh tingkah laku manusia sebagai hasil berbudaya), antara lain nilai dapat mengacu pada minat, kesukaan, pilihan, tugas, kewajiban beragama, kebutuhan, keamanan, hasrat, keengganan, daya tarik, dan hal lain yang berhubungan dengan perasaan, yang melibatkan manusia dalam hubungannya dengan manusia, hidup, kerja, waktu, dan dengan alam.

Nilai itu sendiri dapat dipahami melalui pendapat para pakar di bidang tersebut, antara lain Kluckhon (dalam Djajasudarma, 1997:10) mengatakan bahwa definisi nilai yang diterima sebagai konsep yang diinginkan di dalam ilmu sosial adalah hasil pengaruh seleksi perilaku. Pandangan ini dapat dibandingkan dengan paham yang menyatakan bahwa manusia tidak berbeda di dunia ini, semua tidak dapat berhenti hanya dengan sebuah pandangan (maksud) faktual dari pengalaman yang berlaku. Hasil pengaruh seleksi yang diungkapkan Kluckhon menunjukkan bahwa manusia tidak pernah berhenti dengan pengalaman yang berlaku dengan seleksi yang dianut malalui nilai-nilai yang berlaku bagi masyarakatnya sebagai makhluk sosial.

Pendapat lain yang mendukung bahwa nilai itu termasuk ke dalam seleksi tingakah laku manusia yang menyangkut baik dan buruk adalah pandangan dari Pepper (dalam Djajasudarma, 1997:11) yang menyatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu tentang yang baik dan buruk. Rumusan luasnya adalah seluruh perkembangan dan kemungkinan unsur nilai dan rumusan nilai secara sempit diperoleh dari bidang tertentu. Perry (dalam Djajasudarma, 1997:11) menyatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu yang menarik bagi manusia sebagai subjek. Pendapat ini menyatakan bahwa manusia itu sendiri yang menentukan nilai, dan manusia sebagai pelaku (penilai) dari kebudayaan yang berlaku pada zamannya.

Melalui rumusan nilai yang diungkapkan para ahli tersebut, dapat dipahami bahwa nilai merupakan sesuatu yang dipentingkan manusia sebagai subjek, menyangkut segala sesuatu yang baik dan buruk sebagai abstraksi, pandangan, atau maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi perilaku yang ketat.

Nilai Kultural dalam Sastra

Sebagai kompleksitas nilai, kebudayaan memuat bermacam-macam jenis nilai. Kebudayaan sebagai kompleksitas nilai oleh Bakker (1984:37) disebut kebudayaan subjektif. Kebudayaan subjektif yaitu kebudayaan aspiratif dan fundamental yang ada pada diri manusia yang berupa nilai batiniah, misalnya: kebenaran, kebajikan, dan keindahan. Read the rest of this entry »

 
4 Comments

Posted by pada Mei 24, 2011 in sasindo

 

Kaitkata: ,

Aspek-aspek Tutur

Leech (1993:19) membagi aspek situasi tutur ataslimabagian, yaitu: (1) penutur dan lawan tutur; (2) konteks tuturan; (3) tindak tutur sebagai bentuk tindakan; (4) tujuan tuturan; dan (5) tuturan sebagai produk tindak verbal.

  1. Penutur dan Lawan Tutur

Penutur adalah orang yang bertutur, yaitu orang yang menyatakan fungsi pragmatis tertentu di dalam peristiwa komunikasi. Sementara itu, mitra tutur adalah orang yang menjadi sasaran sekaligus kawan penutur di dalam pentuturan. Di dalam peristiwa tutur peran penutur dan mitra tutur dilakukan secara silih berganti, yang semula berperan penutur pada tahap  tutur berikutnya dapat menjadi mitra tutur, demikian sebaliknya. Aspek-aspek yang terkait dengan komponen penutur dan mitra tutur antara lain usia, latar belakang sosial, ekonomi, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat keakraban, dan sebagainya.

  1. Konteks Tuturan

Istilah konteks didefinisikan oleh Mey (dalam Nadar, 2009:3) sebagai Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada Mei 19, 2011 in Linguistik

 

Kaitkata: ,

Nilai-nilai Pendidikan

Pengertian Nilai

Pepper (dalam Soelaeman, 2005:35) mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu tentang yang baik atau yang buruk. Sejalan dengan pengertian tersebut, Soelaeman (2005) juga menambahkan bahwa nilai adalah sesuatu yang dipentingkan manusia sebagai subjek, menyangkut segala sesuatu yang baik atau yang buruk, sebagai abstraksi, pandangan atau maksud dari berbagai pengalaman dalam seleksi perilaku yang ketat.

Darmodiharjo (dalam Setiadi, 2006:117) mengungkapkan nilai merupakan sesuatu yang berguna bagi manusia baik jasmani maupun rohani. Sedangkan Soekanto (1983:161) menyatakan, nilai-nilai merupakan abstraksi dari pengalaman-pengalaman pribadi seseorang dengan sesamanya. Nilai merupakan petunjuk-petunjuk umum yang telah berlangsung lama yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, nilai dapat dikatkan sebagai sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan manusia. Persahabatan sebagai nilai (positif/baik) tidak akan berubah esensinya manakala ada pengkhianatan antara dua yang bersahabat. Artinya nilai adalah suatu ketetapan yang ada bagaimanapun keadaan di sekitarnya berlangsung.

Dari beberapa pendapat tersebut di atas pengertian nilai dapat disimpulkan sebagai sesuatu yang positif dan bermanfaat dalam kehidupan manusia dan harus dimiliki setiap manusia untuk dipandang dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai di sini dalam konteks etika (baik dan buruk), logika (benar dan salah), estetika (indah dan jelek).

Pengertian Pendidikan

Pendidikan secara etimologis berasal dari bahasa Yunani “Paedogogike”, yang terdiri atas kata “Pais” yang berarti Anak” dan kata “Ago” yang berarti “Aku membimbing”. paedogogike berarti aku membimbing anak Hadi (dalam Amalia, 2010). Purwanto (dalam Amalia, 2010) juga menyatakan bahwa pendidikan berarti segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan. Hakikat pendidikan bertujuan untuk mendewasakan anak didik, maka seorang pendidik haruslah orang yang dewasa, karena tidak mungkin dapat mendewasakan anak didik jika pendidiknya sendiri belum dewasa. Adler (dalam Amalia, 2010) mengartikan pendidikan sebagai proses dimana seluruh kemampuan manusia dipengaruhi oleh pembiasaan yang baik untuk untuk membantu orang lain dan dirinya sendiri mencapai kebiasaan yang baik.

Berdasarkan dari beberapa pendapat di atas dapat dirumuskan bahwa nilai pendidikan merupakan batasan Read the rest of this entry »

 
3 Comments

Posted by pada Mei 19, 2011 in sasindo

 

Kaitkata: , , , ,

Fungsi Tindak Ilokusi

Tindak ilokusi mempunyai beraneka ragam fungsi. Menurut Leech dalam Tarigan (1986:44) fungsi ilokusi dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis sesuai dengan hubungan fungsi-fungsi tersebut dengan tujuan-tujuan sosial berupa pemeliharaan perilaku yang sopan dan terhormat. Adapun fungsi tindak ilokusi yaitu, (1) kompetitif, (2) konvivial, (3) kolaboratif, dan (5) konfliktif. Fungsi-fungsi tersebut akan dijelaskan sebagai berikut.

  1. Kompetitif (Bersaing)

Fungsi kompetitif adalah tuturan yang tidak bertatakrama (discourteous), misalnya meminta pinjaman dengan nada memaksa, sehingga di sini melibatkan sopan santun. Tujuan ilokusi bersama dengan tujuan sosial. Pada ilokusi yang berfungsi kompetitif ini, sopan santun mempunyai sifat negatif dan tujuannya mengurangi ketidakharmonisan; misalnya memerintah, meminta, menuntut, dan mengemis.

  1. Konvivial (Menyenangkan)

Fungsi konvivial atau menyenangkan adalah tuturan yang bertatakrama. Tujuan ilokusi sejalan dengan tujuan sosial. Pada fungsi ini, sopan santun lebih positif bentuknya dan bertujuan mencari kesempatan untuk beramah tamah; misalnya menawarkan, mengajak atau mengundang, menyapa, mengucapkan terima kasih, dan mengucapkan selamat.

  1. Kolaboratif (Kerja Sama)

Fungsi kerja sama adalah tidak melibatkan sopan santun karena pada fungsi ini sopan santun tidak  relevan. Tujuan ilokusinya tidak melibatkan tujuan sosial; misalnya menyatakan, melaporkan, mengumumkan, dan mengajarkan.

  1. Konfliktif (Bertentangan)

Fungsi bertentangan tidak mengandung unsur sopan santun sama sekali karena fungsi ini pada dasarnya bertujuan menimbulkan kemarahan. Tujuan ilokusi bertentangan dengan tujuan sosial; misalnya mengancam, menuduh, menyumpahi, dan memarahi.

 
Leave a comment

Posted by pada Mei 19, 2011 in Linguistik

 

Kaitkata:

YANG IMUT TAPI BIKIN GAK CUTE

Lihat deh gambar di atas, imut dan lucukan? Eh, tapi siapa sangka ternyata itu hanya penampilan luarnya aja. Gara-gara si imut dan teman-temannya yang lain, jutaan manusia di bumi ini jadi korbannya. Yups, si imut itu gak lain adalah famili narkoba. Pasti akrab kan dengan kata ini? Beberapa bulan yang lalu beritanya cukup gencar lagi setelah beberapa artis dan public figure di negeri ini tertangkap polisi lantaran ‘make’ si imut dan teman-temannya.

Peredaran narkoba (narkotika dan obat-obatan terlarang) dari tahun ke tahun ternyata makin tidak baik. Bahkan di Jember,kotayang warganya mayoritas pendatang dari luarkotaini,plus dengan penduduk yang didominasi oleh lingkungan pesantren, ternyata di tahun 2010 kasusnya naik 25 %. Seperti diberitakan Soka Radio Jember (20/12), Operasi Anti Narkoba (ANTIK) yang dilakukan Satuan Reserse Narkoba Polres Jember menunjukkan data yang mengerikan. Operasi yang dilakukan selama Desember ini berhasil mengungkap 12 kasus yang terdiri atas 2 kasus jenis ganja, 1 shabu-shabu, dan sisanya jenis Trex, Double L. dan Dextro. Kasus narkoba selama 2010 yang berhasil diungkap mencapai 50 kasus atau meningkat 25 % dibandingkan tahun 2009.

Kasus ini hanya di Jember, yang notabenenya masih dalam lingkupkotakecil. Lalu bagaimana dengan kota-kota besar lain di Indonesia? Jangan kaget dengan data yang ditemukan di Bekasi. Masih pada tahun yang sama, sebanyak 95 siswa SD dikotatersebut murni diketahui sebagai pemakai narkoba. Sungguh hal yang memprihatinkan.

Sebenarnya jika ditanya satu persatu, pasti setiap orang di negeri ini Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada April 29, 2011 in Cerita Griya

 

Kaitkata: , ,

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA PADA BULETIN ANNISA EDISI 1 TH.6/ JANUARI 2008 SAMPAI DENGAN EDISI 6 TH. 6/ Juni 2008

Analisis Kesalahan Berbahasa

Berikut ini beberapa contoh kesalahan penggunaan bahasa beserta perbaikan dan penjelasannya. Contoh-contoh berikut saya ambil dari kolom Renungan Redaksi Buletin Annisa edisi 1 th.6/ Januari 2008 sampai dengan edisi 7 th.6/ Juni 2008.

  1. Assalamu’alaikum Wr Wb

Kalimat (1) merupakan salam pembuka yang berasal dari bahasa Arab. Kesalahan kalimat tersebut terletak pada proses peneyarapan bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Huruf ‘s’ pada kata ‘assalam’ cukup ditulis satu saja. Kemudian tanda petik satu atau apostrophe (‘) pada kalimat tersebut, seharusnya tidak usah disertakan. Lalu penyingkatan Wr dan Wb seharusnya cukup menggunakan huruf kecil yang ditutup dengan tanda titik (.).Perbaikan atas kalimat (1) adalah sebagai berikut.

Asalamualaikum wr. wb.

  1. Setelah beberapa waktu sempat tidak bertandang ke hadapan anda. (An-Nisaa’ Edisi 1 th.6/ Januari 2008)

Kalimat (2) tidak mempunyai subyek sehingga tidak jelas siapa yang bertandang ke hadapan anda. Mungkin yang dimaksud subyek dalam kalimat (1) adalah ‘Buletin An-nisaa’’.

Kata setelah tidak dapat diletakkan di awal kalimat seperti pada kalimat (2) karena merupakan kata keterangan waktu. Jika kata setelah tetap diletakkan di awal, maka kalimat (2) lebih tepat dikatakan sebagai penanda keterangan waktu karena tidak mempunyai inti kalimat. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada April 15, 2011 in Linguistik

 

Kaitkata: , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.