Unsur Intrinsik Drama “BAPAK”

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Drama tergolong jenis karya sastra disamping puisi dan prosa. Karya drama diciptakan pengarang berdasarkan pikiran atau imajinasi, perasaan dan pengalaman hidupnya. Drama sebagai karya sastra merupakan objek yang terikat pada pengarang, realitas, dan penikmat.

Kata drama berasal dari bahasa Yunani yang berarti action dalam bahasa Inggris, dan ‘gerak’ dalam bahasa Indonesia. Jadi secara mudah drama dapat kita artikan sebagai bentuk seni yang berusaha mengungkapkan perihal kehidupan manusia melalui gerak atau action dan percakapan serta dialog.

Drama yang termasuk dalam karya sastra adalah naskah ceritanya. Sebagai karya sastra, drama memiliki keunikan tersendiri. Dia diciptakan tidak untuk dibaca saja, namun jug harus memiliki kemungkinan untuk dipentaskan. Karya drama sebagai karya sastra dapat berupa rekaman dari perjalanan hidup pengarang yang menciptakannya. Pengarang dapat diilhami pengarang lain, disamping masyarakat, lingkungan, dan alam sekitar. Karya drama merupakan tempat kita masuk ke dalam penyatuan secara spiritual dan humanistic dengan pikiran dan kepercayaan pengarang seperti yang diungkap Selden, dalam Sudjarwadi (2005).

Karya drama merupakan karya humaniora. Karya drama merupakan objek manusia, faktor kemanusiaan atau fakta kultural, sebab merupakan hasil ciptaan manusia. Fakta drama merupakan fakta budaya. Pengalaman pribadi di dalam drama dapat dikatakan benar sebagai dasar sastra yang nyata. Seorang penulis drama memang tidak sebebas penulis karya sastra yang lain, karena dalam menulis drama pengarang harus memikirkan kemungkinan- kemungkinan agar drama itu dapat di pentaskan.

Oleh karena itu, untuk memahami suatu naskah drama seseorang harus mengetahui unsur-unsur intrinsik adan ekstrinsik naskah drama. Dalam makalah ini, mengambil contoh naskah drama yang berjudul “Bapak” karya B. Soetarto Penulis akan membahas perihal unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik naskah tersebut.

I.2 Rumusan Masalah

I.2.1 Bagaimana unsur-unsur intrinsik pada naskah drama “Bapak”?

I.2.2 Bagaimana unsur ekstrinsik pada naskah drama “Bapak”?

I.3 Tujuan Penulisan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk :

I.3.1 Mengetahui unsur-unsur intrinsik pada naskah drama “Bapak”.

I.3.2 Mengetahui unsur ekstrinsik pada naskah drama “Bapak”.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri (Nurgiyantoro, 2002). Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik sebuah drama adalah unsur-unsur yang (secara langsung) turut serta membangun cerita. Kepaduan antar berbagai unsur intrinsik inilah yang membuat sebuah drana berwujud. Atau sebaliknya, jika dilihat dari sudut kita pembaca, unsur-unsur (cerita) inilah yang akan dijumpai jika kita membaca sebuah naskah drama. Unsur yang dimaksud untuk menyebut sebagian saja, misalnya: 1) judul; 2) tema; 3) plot atau alur ; 4) tokoh cerita dan perwatakan; 5) dialog; 6) konflik; dan 7)latar.

2.1.1 Judul

Judul adalah kepala karangan atau nama yang dipakai untuk buku atau bab dalam buku yang dapat menyiratkan isi buku tersebut. Judul suatu karya (buku) drama juga merupakan kunci untuk melihat keseluruhan makna drama. Judul isi karangan selalu berkaitan erat. Drama sebagai karya sastra dan merupakan cabang sini tergolong sebagai karya fiksi. Sugiarta dalam Sudjarwadi (2004) menjelaskan, judul pada karya fiksi bersifat manasuka, dapat diambil dari nama salah satu tempat atau tokoh dalam cerita, dengan syarat sebaiknya melambangkan isi cerita untuk menarik perhatian.

Judul karangan seringkali berfungsi menunjukan unsur-unsur tertentu dari karya sastra, misalnya :

  1. Dapat menunjukan tokoh utama
  2. Dapat menunjukan alur atau waktu
  3. Dapat menunjukan objek yang dikemukakan dalam suatu cerita
  4. Dapat mengidentifikasi keadaan atau suasana cerita
  5. Dapat mengandung beberapa pengertian

2.1.2 Tema

Tema adalah ide yang mendasari cerita sehingga berperan sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya  Tema dikembangkan dan ditulis pengarang dengan bahasa yang indah sehingga menghasilkan karya sastra atau drama. Tema merupakan ide pusat atau pikiran pusat, arti dan tujuan cerita, pokok pikiran dalam karya sastra, gagasan sentral yang menjadi dasar cerita dan dapat menjadi sumber konflik-konflik.

Jika dikaitkan dengan dunia pengarang, tema adalah pokok pikiran didalam dunia pengarang. Setiap karya sastra (fiksi) telah mengandung atau menawarkan tema. Tema mengikat pengembangan cerita. Tema juga sebagai premis artinya rumusan inti sari yang merupakan landasan untuk menentukan tujuan dan arah cerita. Menurut Nurgiyantoro (1995), tema dibagi dua, yaitu tema mayor ( tema pokok cerita yang menjadi dasar karya sastra itu) dan tema minor (tema tambahan yang menguatkan tema mayor).

2.1.3 Plot atau alur

Menurut Sudjarwadi (2005), plot atau alur dalam drama tidak jauh berbeda dengan plot atau alur dalam prosa fiksi. Dalam drama juga mengenal tahapan plot yang dimulai dari tahapan permulaan, tahapan pertikaian, tahapan perumitan, tahapan puncak, tahapan peleraian, dan tahapan akhir. Hanya saja dalam drama plot atau alur itu dibagi menjadi babak-babak dan adegan-adegan.

Babak adalah bagian dari plot atau alur dalam sebuah drama yang ditandai oleh perubahan setting atau latar. Sedangkan adegan merupan babak yang ditandai oleh perubahan jumlah tokoh ataupun perubahan yang dibicarakan.

2.1.4 Tokoh cerita dan perwatakan

Tokoh cerita adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa dalam berbagai peristiwa cerita. Tokoh cerita dapat berupa manusia, binatang, makhluk lain seperti malaikat, dewi-dewi, bidadari, setan atau iblis, jin, setan, sikuman, roh, dan benda-benda yang diinsankan. Tokoh dalam karya sastra memiliki perwatakan. Adanya watak yang berbeda-beda menyebabkan timbulnya peristiwa atau konflik yang membuat cerita semakin menarik. Berdasarkan segi peran atau tingkat pentingnya tokoh dalam suatu cerita dibedakan menjadi dua bagian. Yaitu central character (tokoh utama) dan peripheral character (tokoh tambahan). Ada dua macam tokoh, yaitu tokoh utama dan tokoh bawahan. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penderitaannya dalam suatu karya sastra (drama).

Ada tiga kriteria untuk menentukan tokoh utama, yaitu :

  1. Mencari tokoh yang paling banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh lain.
  2. Mencari tokoh yang paling banyak membutuhkan waktu penceritaan
  3. Melihat intensitas keterlibatan tokoh dalam peristiwa yang membangun cerita (tema)

Berdasarkan fungsinya dalam drama, tokoh cerita ada empat macam, yaitu tokoh protagonis, antagonis, tritagonis, dan peran pembantu. Ada pula pendapat lain, bahwa ada tiga macam tokoh cerita, yaitu tokoh utama, tokoh pendamping, dan tokoh tambahan. Berdasarkan wataknya, tokoh cerita dibedakan menjadi dau jenis, yaitu flat character (tidak mengalami perubahan) dan round character (mengalami perubahan).

2.1.5 Teknik Dialog

Teknik dialog sangat penting di dalam drama. Dialog merupakan ciri khas suatu karya drama. Adanya teknik dialog secara visual membedakan karya drama dengan yang lain, yaitu puisi dan prosa. Dialog ada juga di dalam puisi dan prosa, tetapi tidak semutlak di dalam drama. Dialog di dalam drama tidak boleh diabaikan karena pada dasarnya drama merupakan dialog para tokoh cerita. Dialog adalah percakapan tokoh cerita. Dalam struktur lakon, dialog dapat ditinjau dari segi estetis dan segi teknis. Dari segi estetis, dialog merupakan faktor literer dan filosofis yang mempengaruhi struktur keindahan lakon. Dari segi teknis, dialog biasanya diberi catatan pengucapan yang ditulis dalam tanda kurung. Dialog melancarkan cerita atau lakon. Dialog mencerminkan pikiran tokoh cerita. Dialog mengungkapkan watak para tokoh cerita. Dialog merupakan hubungan tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Dialog berfungsi menghubungkan tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Dialog juga berfungsi menggerakan cerita dan melihat watak atau kepribadian tokoh cerita.

Ada dua macam tenik dialog, yaitu monolog dan konversi (percakapan). Ada juga teknik dialog dalam bentuk prolog dan epilog. Prolog berarti pembukaan atau peristiwa pendahuluan yang diucapakan pemeran utama dalam sandiwara. Epilog berarti bagian penutup pada karya drama untuk menyampaikan atau menafsirkan maksud karya drama tersebut.

2.1.6 Konflik

Konflik adalah pertentangan. Tokoh cerita dapat mengalami konflik, baik konflik dengan diri sendiri, dengan orang / pihak lain, maupun dengan lingkungan alam. Seperti halnya biasa, tokoh cerita dalam drama juga mengalami konflik. Konflik dapat membentuk rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan kausalitet. Konflik di dalam karya drama dapat menimbulkan atau menambah nilai estetik. Tanpa konflik antar tokoh cerita, suatu karya drama terasa monoton, akibatnya pembaca atau penonton drama menjadi bosan.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa konflik dibagi menjadi dua bagian, yaitu konflik eksternal dan internal. Ada juga pendapat lain yang menyatakan bahwa konflik ada tiga macam, yaitu konflik mental (batin), konflik sosial, dan konflik fisik. Konflik mental (batin) adalah konflik atau pertentangan antara seseorang dengan batin atau wataknya. Konflik sosial adalah konflik antara seseorang dengan masyarakatnya, atau dengan orang / pihak lain. Konflik fisik adalah konflik antara seseorang dengan kekuatan diluar dirinya, misalnya dengan alam yang ganas, cuaca buruk, lingkungan yang kumuh, pergaulan yang salah. Konflik merupakan kunci untuk menemukan alur cerita. Dengan adanya konflik, maka cerita dapat berlangsung. Konflik berkaitan dengan unsure intriksik yang lain, seperti tokoh, tema latar, dan tipe drama. Konflik dapat menggambarkan adanya tipe drama.

2.1.7 Latar

Latar merupakan unsur struktural yang sangat penting. Latar di dalam lakon atau crita drama harus mendukung para tokoh cerita dan tindakannya. Pengarang tentu membuat latar membuat latar yang tepat demi keberj\hasilan dan keindahan struktur drama. Penggunaan latar yang berhasil juga menentukan keberhasilan suatu karya drama. Penyaji latar yang tepat dapat menciptakan warna kedaerahan yang kuat sehingga dapat menghidupkan carita. Latar adalah lingkungan tempat berlangsungnya peristiwa yang dapat dilihat, termasuk di dalamnya aspek waktu, iklim, dan periode sejarah. Latar mendukung dan menguatkan tindakan tokoh-tokoh cerita. Latar memberikan pijakan cerita dan kesan realistis kepada pembaca untuk menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi (Nurgiyantoro, 1995).

Fungsi latar yaitu:

  1. menggambarkan situasi
  2. proyeksi keadaan batin para tokoh cerita
  3. menjadi metafor keadaan emosional dan spiritual tokoh cerita
  4. menciptakan suasana

Unsur-unsur latar yaitu:

  1. letak geografis
  2. kedudukan / pekerjaan sehari-hari tokoh cerita
  3. waktu terjadinya peristiwa
  4. lingkungan tokoh cerita

Aspek latar berdasarkan fungsinya mencakup:

  1. tempat terjadinya peristiwa
  2. lingkungan kehidupan
  3. sistem kehidupan
  4. alat-alat atau benda-benda
  5. waktu terjadinya peristiwa

2.3 Unsur Ekstrinsik

Menurut  Tjahyono (1985), unsur ekstrinsik karya sastra adalah hal-hal yang berada di luar struktur karya sastra, namun amat mempengaruhi karya sastra tersebut. Misalnya faktor-faktor sosial politik saat karya tersebut diciptakan, faktor ekonomi, faktor latar belakang kehidupan pengarang, dan sebagainya. Mengutip pernyataan Wellek dan Warren, Tjahyono menjelaskan pengkajian terhadap unsur ekstrinsik karya sastra mencakup empat hal. Salah satunya adalah mengkaji hubungan sastra dengan aspek-aspek politik, sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan. Bahwa situasi sosial politik ataupun realita budaya tertentu akan sangat berpengaruh terhadap karya sastra tersebut.

BAB III PEMBAHASAN

Dalam pembahasan ini, akan diuraikan analisis mengenai unsur-unsur intrinsik dan unsur ektrinsik naskah drama “Bapak” karya B. Soenarto. Unsur-unsur intrinsik yang akan dibahas yaitu: 1) judul; 2) tema; 3) plot atau alur ; 4) tokoh cerita dan perwatakan; 5) dialog; 6) konflik; dan 7) latar. Sedangkan unsur ekstrinsik yang akan dibahas mengenai faktor sosial politik pada naskah tersebut. Namun sebelum itu, akan diuraikan sinopsis naskah drama “Bapak”.

3.1 Sinopsis

BAPAK

Drama ini berlatar Kota Yogyakarta tahun 1949. Tokoh Bapak (51 tahun) adalah orang tua tunggal dari tokoh Si Sulung dan Si Bungsu. Drama ini diawali dengan tokoh Bapak yang terkejut oleh kedatangan Si sulung yang telah lama merantau. Situasi Republik saat itu sangat kacau karena tentara kolonial melancarkan agresi militer kedua. Si Sulung memohon Bapak untuk ikut serta dirinya mengungsi ke luar negeri. Akan tetapi Bapak menolak lantaran dalam dirinya timbul tanggung jawab untuk mempertahankan kemerdekaan tanah air dari tangan penjajah. Selain itu, Bapak juga beralasan, dengan hidup di luar negeri, itu sama artinya dengan tunduk pada penjajah. Ketegangan terus terjadi antara keduanya. Saat Bapak mendengar suara radio pemancar di kamar Si Sulung. Bapak segera mencari tahu ke kamar Si Sulung. Pada saat yang sama, Si Bungsu sedang kedatangan tamu, yaitu Perwira yang merupakan tunangan Si Bungsu. Mereka berdua terkejut mendengar bunyi ledakan pistol dari ruang dalam. Seketika Bapak keluar kamar dan menjelaskan pada Si Bungsu dan Perwira bahwa dirinya telah menembak Si Sulung. Bapak melakukan hal itu karena mengetahui Si Sulung adalah mata-mata tentara kolonial. Walaupun Bapak sungguh kecewa pada Si Sulung, namun demi menyelamatkan Negara, Bapak membunuh putra yang amat disayanginya itu. Akhir drama ditutup dengan keputusan Bapak  untuk tetap tinggal di rumah untuk melawan musuh. Sementara itu Bapak meminta Si Bungsu dan Perwira untuk pergi dari tempat itu.

3.2 Judul

Drama ini diberi judul oleh pengarang dengan kata “Bapak”. Sebab seperti yang dijelaskan Sugiarta dalam Soedjarwadi (2004), judul pada karya fiksi bersifat manasuka, dapat diambil dari nama salah satu tempat atau tokoh dalam cerita, dengan syarat sebaiknya melambangkan isi cerita untuk menarik perhatian. Kata ‘’Bapak” menunjukkan tentang adanya kesesuaian judul dengan tokoh utama, serta objek yang dikemukakan dalam drama keseluruhan. Kata ‘Bapak” dapat diartikan sebagai pelindung dan penanggung jawab serta pemimpin dalam rumah tangga.

3.3 Tema

Setiap karya sastra tentu mengandung tema. Tema menjadi dasar pengembangan cerita dan merupakan makna keseluruhan yang tidak disampaikan langsung, namun secara implisit. Selain itu, tema mengikat pengembangan cerita atau sebaliknya (Nurgiyantoro, 1995).

Berikut ini dikemukakan analisis kajian tema, baik tema mayor ataupun tema minor pada naskah drama”Bapak”. Tema mayor drama ini diambil dari tokoh Bapak yang mengalami konflik dengan Si Sulung.

……

Sulung:            Menyesal ya Bapak, rupanya kita berbeda kutub dalam tafsir makna.

Bapak:             Namun kau nak, kau wajib untuk merenungkannya. Sebab aku yakin kau akan mampu menemukan titik simpul kebenaran ucapanku itu.

(Lima Drama,1985:107)

Bapak:             Kita sedang dalam keadaan darurat-perang, nak. Dan dalam keadaan begini   bagi seorang prajurit, kepentingan negara ada di atas segalanya.

(Lima Drama,1985:104)

…….

Bapak  :           Sesungguhnyalah nak, lebih karena itu.

Sulung :           Oo ya?!? Apa itu ya Bapak?

Bapak  :           Kemerdekaan.

Sulung :           Kemerdekaan!?! Kemerdekaan siapa!?

Bapak  :           Bangsa dan bumi pusaka.

Si Sulung ketawa.

……

(Lima Drama,1985:105)

Bapak              :[……] Tidak anakku! Kemerdekaan tidak ditentukan oleh semua itu. Kemerdekaan adalah soal harga diri dan kebagsaan. Ia ditentukan oleh kenyataan, apakah suatu bangsa menjadi yang dipertuan mutlak atas bumi pusakanya sendiri atau tidak. [……]

(Lima Drama,1985:107)

Bapak              :[……] pembangkanganku dulu, sekarang dan besok bukanlah karena sentimen, tetapi karena keyakinan. Ya, keyakinan bahwa mereka adalah penjajah. Keyakinan membangkang penjajah adalah tindakan mulia. Untuk itu aku rela menderita dan korbankan segalanya, nak. [……]

(Lima Drama,1985:108-109)

Dari banyaknya dialog antara Bapak dengan Sulung di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa Bapak ingin mempertahankan kemerdekaan bangsa walaupun Sulung menolak dan menertawakannya. Dengan demikian tema mayor drama ini adalah seorang patriot tentu memperjuangkan kemerdekaan bangsanya walaupun harus mengorbankan segalanya. Dan tema minor drama ini ialah seorang anak yang tidak mau membantu ayahnya memperjuangkan bangsa lantaran pemikiran yang berbeda.

3.4 Plot atau alur

Plot atau alur dalam drama dibagi dalam babak dan adegan. Babak dan adegan inilah yang membedakan drama dengan karya sastra lainnya. Drama ini berjalan maju. Dalam naskah drama”Bapak” ini, meskipun pada bawah judul tertera lakon dua babak, namun jika dianalisis lebih dalam, seluruh kejadian berlangsung pada satu tempat dan satu waktu. Sedangkan adegan pada drama ini, berlatar ruang tamu sebuah keluarga, awalnya diisi dengan Bapak yang berbicara sendiri mengenai putranya yang baru datang merantau, adegan kedua diisi dengan munculnya Bungsu yang menemani Bapak mengobrol. Adegan selanjutnya Sulung datang dan mulai beradu mulut dengan Bapak. Kemudian Bungsu pergi ke luar. Setelah adu mulut itu, Sulung pergi ke kamarnya, Bapak membuntuti karena curiga mendengar suara radio pemancar. Adegan selanjutnya Bungsu kembali ke ruang tamu karena Perwira datang. Kemudian mereka terkejut dengan suara tembakan. Adegan selanjutnya Bapak muncul dengan pistol dan map-map tebal di tangannya. Perwira pergi ke kamar Sulung dan mendapati Sulung mati. Perwira kembali ke ruang tamu membawa bukti-bukti penghianatan Sulung. Bapak sangat kecewa dan Bungsu menangis. Bapak meminta Perwira membawa pergi Bungsu sedangkan Bapak tetap di rumah dengan perasaan bangga sekaligus kecewa.

3.5 Tokoh cerita dan perwatakan

Tokoh cerita dan perwatakan merupakan unsur intrinsik yang sangat penting. Selanjutnya dilakukan analisis dalam naskah drama “Bapak”. Dalam drama ini, Bapak menjadi dapat disebut sebagai tokoh utama, melihat keterkaitannya dengan lain yang sangat banyak, mulai awal hingga akhir adegan.

……

Sulung :           Menyesal ya Bapak, rupanya kita berbeda kutub dalam tafsir makna.

……

Bapak:             [……] nak, kaupun tahu aku tidak pernah memaksakan kehendakku pada anak-anakku. Bila ada anakku yang yakin masa depannya ada di daerah pendudukan, akan lebih membahagiakan hidupnya, silahkan pergi. Begitulah bila adikmu mantap untuk mengungsi kesana, silahkan pergi bersamamu. Tapi adikmu dibesarkan dalam alam kemerdekaan, jadi dia tentulah dapat menilai arti kemerdekaan…. Dan kurasa bukanlah soal pernikahannya dengan TNI yang menjadi dasar timbangrasa, timbang hatinya tapi pengertian cintanya pada bumi pusakanya!

(Lima Drama,1985:108)

Bapak  :           apa saja yang kau temukan di sana…………………………………….

Perwira:           sebuah alat pemancar-isyarat radio. Dan yang ku bawa ini……………

(Lima Drama,1985:112)

Bungsu:           Abang!

Bapak  :           tak perlu ia diratapi lagi, nak.

(Lima Drama,1985:113)

Bapak              :Tidak! Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini. Mereka pasti akan segera kemari. Mereka akan menjumpai jenazah abangmu. Dan, aku akan bikin perhitungan dengan mereka. Pistol ini akan memadailah untuk itu.

(Lima Drama,1985:115)

Dari uraian di atas selain Bapak disebut sebagai tokoh utama bapak juga merupakan tokoh protagonis dilihat dari sisi perjuangannya membela bangsa. Dan dari segi perwatakan Bapak termasuk flat character karena tidak mengalami perubahan nasib hingga akhir kisah. Sedangkan tokoh Sulung merupakan tokoh antagonis karena menjadi lawan Bapak dalam cerita ini. Sulung mengalami perubahan nasib, yaitu dia mati dibunuh Bapak. Karena itu, dia disebut juga sebagai round character. Selanjutnya tokoh Bungsu dan Perwira. Bungsu dan Perwira dikatakan sebagai tokoh pembantu. Bungsu adalah adik Sulung, sedangkan perwira adalah prajurit TNI merupakan tunangannya. Dari segi perwatakan, Bungsu dan Perwira mengalami flat character. Tidak ada perubahan nasib.

……

Bapak:             Ya anakku, terkadang orang lebih suka ngomong pada dirinya sendiri. Tapi, bukankah tadi kau…bersama abangmu?

Bungsu:           Ya. Sehari kami tamasya mengitari seluruh penjuru kota. Sayang sekali kami tidak ketemu mas……

Bapak:             Tunanganmu?

Bungsu:           Ah dia selalu sibuk dengan urusan kemiliteran melulu.[…]

(Lima Drama,1985:104)

3.6 Teknik Dialog

Dalam struktur lakon, dialog dapat ditinjau dari segi estetis dan segi teknis. Dari segi estetis, dialog merupakan faktor literer dan filosofis yang mempengaruhi struktur keindahan lakon. Dari segi teknis, dialog biasanya diberi catatan pengucapan yang ditulis dalam tanda kurung. Dialog melancarkan cerita atau lakon. Dalam cerita ini,  dialog antar tokoh lebih disoroti dari segi teknis. Meskipun ada juga sisi estetisnya, seperti pada percakapan Bapak dengan dirinya sendiri. Namun dialog yang dihadirkan tidak ditulis dalam tanda kurung.

……

Si Bungsu senyum mendatang.

Bungsu:           Ah Bapak rupanya lagi ngomong seorang diri

……

Si Sulung mendatang dengan mencangklong pesawat potret, mengenakan kaca mata hitam. Terus duduk, melepas kaca mata dan meletakkan pesawat potret di meja.

Sulung:            Hu…uh, kota tercintaku ini sudah berubah wajah. Dipenuhi penghuni berbaju seragam menyandang senapan. Dipagari lingkaran kawat berduri. Dan wajahnya kini menjadi garang berhiaskan laras-laras senapan mesin. Tapi di atas segalanya, kota tercintaku ini masih tetap memperlihatkan kejelitaanya.

(Lima Drama,1985:104)

Dalam drama ini juga terdapat prolog, yaitu

Drama ini terjadi pada tanggal 19 Januari 1949, sebulan sesudah tentara kolonial Belanda melancarkan aksi agresinya yang kedua dengan meerbut kota Republik Indonesia, Yogyakarta.

Tentara kolonia telah pulang siap siaga untuk melancarkan serangan kilat hendak merebut sebuah kota strategis yang hanya dipertahankan oleh satu batalyon TNI.

Di kota itulah SI BAPAK dikagetkan kedatangan putra sulungnya yang mendadak muncul setelah bertahun merantau tanpa kabar berita.

SI SULUNG telah kembali pulang dengan membawa usul yang amat sangat mengagetkan SI  BAPAK.

Waktu itu seputar jam 10.00, SI BAPAK yang sudah lanjut usia jalan hilir mudik dengan membawa beban persoalan yang terus menerus merongrong pikirannya.

(Lima Drama,1985:103)

Pada drama ini juga terdapat monolog yaitu ketika Bapak berbicara pada dirinya sendiri tentang si Sulung.

Bapak:             Dia, putra sulungku. Si anak hilang telah kembali pulang. Dan sebuah usul diajukan; segera mengungsi ke daerah pendudukan yang serba aman tenteram. Hem, ya-ya usulnya dapat kumengerti. Karena ia sudah terbiasa hidup di sana. Dalam sangkar. Jauh dari deru prahara. Bertahun mata hatinya digelap-butakan oleh nina bobo, lela-buai si penjajah.[……]

(Lima Drama,1985:103)

3.7 Konflik

Ada pendapat yang menyatakan bahwa konflik dibagi menjadi dua bagian, yaitu konflik eksternal, meliputi manusia, dengan manusia, masyarakat dan denagn alam sekitarnya. Sedang konflik internal meliputi satu ide dengan ide yang yang lain. Atau yang terjadi dalam batin (Tarigan, 1984:134). Ada juga pendapat lain yang menyatakan bahwa konflik ada tiga macam, yaitu konflik mental (batin), konflik sosial, dan konflik fisik. Konflik mental (batin) adalah konflik atau pertentangan antara seseorang dengan batin atau wataknya. Konflik sosial adalah konflik antara seseorang dengan masyarakatnya, atau dengan orang atau pihak lain (Nurgiyantoro, 1995).

Konflik dalam drama ini adalah konflik eksternal dan konflik sosial-dalam hal ini keluarga- yang terjadi antara Bapak dengan Sulung.

……

Bapak:             Sayang sekali nak, kita tegak pada dua kutub yang bertentangan secara asasi. Tetapi adalah keliru bila kau menimpakan kesalahan dan tanggung jawab segala duka cita pada pihak kami, nak. [……]

Sulung:            Itu pendapat Bapak? Memang Bapak ada hak penuh untuk berpendapat demikian itu.

Bapak:             Nak, keyakinanmu salah. Sadarlah!

Sulung:            Salah bagi Bapak benar bagiku. Dan, aku sadar benar akan itu. Dan dengan penuh kesadaran pula, aku bersedia menganggung segala resikonya.

(Lima Drama,1985:110)

Sulung:            Menyesal ya Bapak, rupanya kita berbeda kutub dalam tafsir makna.

Bapak:             Namun kau nak, kau wajib untuk merenungkannya. Sebab aku yakin kau akan mampu menemukan titik simpul kebenaran ucapanku itu.

(Lima Drama,1985:107)

…….

Bungsu:           Tapi, kenapa mesti Bapak sendiri yang menghakimi.

Bapak:             Karena, dia anak kandungku pribadi. Karena aku cinta padanya. Ya, karena cintaku itulah, aku tidak rela ia meneruskan langkah sesatnya. Langkah khianatnya, harus ya, wajib dihentikan. Meskipun dengan jalan membunuhnya. Tapi dengan kematiannya aku telah menyelamatkan jiwanya dari kesesatan hanya sampai sekian. Dengan kematiannya, berakhirlah pula kerja nistanya sebagai penghianat.

(Lima Drama,1985:114)

Dalam dialog di atas dapat dipahami bahwa konflik yang dialami Bapak sangat keras. Setelah bapak beradu mulut dengan anaknya, Bapak dihadapkan pada kondisi untuk memilih membunuh anaknya atau berkhianat pada bangsanya. Apalagi setelah mengetahui ternyata anaknya adalah seorang mata-mata musuh. Akhirnya Bapak memutuskan untuk membunuh Sulung. Bapak merasa kecewa namun juga bangga.

3.8 Latar

Latar mendukung atau menguatkan tindakan para tokoh cerita. Latar memantapkan peristiwa-peristiwa di dalam cerita atau lakon drama. Latar memberikan pijakan cerita dan kesan realistis kepada pembaca untuk menciptakan suasana tertentu, yang seolah-olah sungguh –sungguh ada dan terjadi (Nurgiyantoro, 1995:17).

Latar pada drama ini adalah sebuah rumah di kota Yogyakarta. Di saat kondisi Negara kacau karena serangan tentara kolonial tahun 1949. Latar percakapan tokoh secara keseluruhan terjadi di ruang tamu. Berikut analisis latar secara umum yang terdapat pada prolog.

Drama ini terjadi pada tanggal 19 Januari 1949, sebulan sesudah tentara kolonial Belanda melancarkan aksi agresinya yang kedua dengan meerbut kota Republik Indonesia, Yogyakarta.

Tentara kolonial telah pulang siap siaga untuk melancarkan serangan kilat hendak merebut sebuah kota strategis yang hanya dipertahankan oleh satu batalyon TNI.

Di kota itulah SI BAPAK dikagetkan kedatangan putra sulungnya yang mendadak muncul setelah bertahun merantau tanpa kabar berita.

Pada bagian lain dijelaskan suasana kota yang dipenuhi aktivitas militer

Sulung:            Hu…uh, kota tercintaku ini sudah berubah wajah. Dipenuhi penghuni berbaju seragam menyandang senapan. Dipagari lingkaran kawat berduri. Dan wajahnya kini menjadi garang berhiaskan laras-laras senapan mesin. Tapi di atas segalanya, kota tercintaku ini masih tetap memperlihatkan kejelitaanya.

Bapak:             begitulah nak, suasana kota sedang dicekam darurat-perang.

(Lima Drama,1985:104-105)

Dengan suasana demikian, juga mendukung konflik dramatik yang berujung pada keputusan Bapak menembak anaknya yang mata-mata musuh. Serta keinginan Bapak untuk tinggal di rumahnya.

……

Bapak              :Tidak! Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini. Mereka pasti akan segera kemari. Mereka akan menjumpai jenazah abangmu. Dan, aku akan bikin perhitungan dengan mereka. Pistol ini akan memadailah untuk itu.

(Lima Drama,1985:115)

Terdengar ledakan bom-bom menggemuruh, bersusul tembakan meriam-meriam.

Bapak  :           Cepat pergilah! Cepat!

Perwira yang telah mengambil barang-barang sitaan, cepat-cepat menarik tangan Si Bungsu. Keduanya berlari keluar, tapi henti sejenak di ambang.

(Lima Drama,1985:116)

3.9 Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik pada karya sastra sebenarnya merupakan wujud murni pesan yang ingin disampaikan pengarang pada pembaca. Untuk menganalisis unsure ekstrinsik pada darama ini dapat diguanakan metode sosiologi sastra. Metode ini berdasarkan prinsip bahwa kesustraan merupakan refleksi masyarakat pada zaman karya sastra itu ditulis. Yaitu masyarakat yang melingkungi penulis sebab sebagai anggotanya, penulis tidak dapat lepas dari dirinya sendiri. Istilah sosiologi sastra digunakan pada tulisan-tulisan para kritikus dan ahli sejarah sastra yang perhatian utamanya ditujukan pada cara-cara pengarang dipengaruhi oleh status kelasnya, ideologi masyarakat, keadaan-keadaan ekonomi dan jenis pembaca yang dituju. Demikian pendapat Abrams yang dikutip Rachmat Djoko P.

Drama ini banyak bercerita tentang kehidupan sosial-politik di Indonesia pasca kemerdekaan. Jika dilihat latar pembuatannya, drama ini merupakan satu dari lima drama yang ditulis B. Soetarto pada tahun 1985. Tidak diketahui secara pasti latar belakang pengarang. Namun dalam hal ini, lebih utama dibahas permasalahan yang diangkat pengarang dalam drama tersebut.

Permasalahan yang diangkat pengarang dalam drama ini adalah adanya perbedaan ideologi antara Bapak dengan Sulung. Bapak dengan kukuh berusaha meyakinkan Sulung untuk kembali mempertahankan kemerdekaan bangsa. Namun karena Sulung telah hidup lama di luar negeri, sulung berpikir praktis dengan mengambil keputusan berdasarkan asas manfaat. Dirinya tidak peduli walaupun menjadi kaki tangan musuh, dan bangsanya musnah asalkan dirinya sendiri selamat.

……

Bapak:             Tapi nak, ijinkan aku tanya. Bagaimana sikapmu dalam perjuangan pembangkangan kita melawan penjajah?

Sulung:            Sudah kunyatakan tadi, bahwa antara kita kita ada perbedaan kutub, perbedaan dalam merumuskan tafsir makna. Kita menempuh jalan yang beda. Bapak memilih jalan pembangkangan, aku sebaliknya. Konsekuensinya, memang berat amat. Satu tragedi. Dan menurut tanggapanku, tragedi yang terjadi dan bakal terjadi di sini menjadi tanggung jawab kaum ekstrimis, dari pihak yang sekeyakinan dengan Bapak.

(Lima Drama,1985:109-110)

Sulung:            Ah, Bapak terpanggang oleh api sentimen patriotisme. Ya..ya aku memang dapat mengerti, lantaran dulu Bapak pernah jadi buronan pemerintah Hindia-Belanda. Bahkan, sampai-sampai marhumah bunda wafat dalam siksa kesepian dan kegelisahan karena Bapak selalu keluar masuk penjara.

(Lima Drama,1985:108)

Bapak:             Tengoklah sejarah, lihatlah betapa satria muslim syahid dalam membela dan meneguhi keyakinannya. Betapa kaum Nasrani begitu pasrah mati dikoyak-koyak singa di zaman Nero. Ya..mereka, yang Muslim, yang Nasrani, sama tulus ikhlas, mati syahid menurut anggapannya, dari pada mengorbankan keyakinan yang mereka teguhi.

(Lima Drama,1985:109)

Bapak:             Nak, sejarah membuktiakn bahwa sejak kaum penjajah menjangkahi bumi pusaka kita, merekalah yang menciptakan segala sengketa berdarah antara sesama kita.Politik penjajahan merekalah yang menghasilkan duka cerita di tanah air. Ya, dimana saja.

(Lima Drama,1985:110)

Dari percakapan di atas kita dapat mengetahui bahwa pengarang ingin menunjukkan adanya sejarah pertentangan-pertentangan yang dialami bangsa-bangsa di setiap Negara, termasuk Indonesia pada masa penjajahan. Pertentangan tersebut, dicontohkan pengarang, dialami Bapak dengan Sulung. Bapak dengan keyakinan timur, dan sulung denagn pemikiran barat. Bahkan hingga saat ini, mungkin penjajah tidak lagi melakukan serangan fisik, namun sebenarnya adalah melalui perang pemikiran. Dan penjajahan tersebut telah ada sejak pemerintahan Hindia-Belanda menduduki Indonesia.

BAB IV PENUTUP

Simpulan yang dapat diambil dari naskah drama “Bapak” ini antara lain,

  1. untuk mengetahui dan mengapresiasi suatu karya sastra dibutuhkan pengetahuan serta analisis mengenai unsur-unsur pembangun karya tersebut. Unsur pembangun dalaman karya sastra tersebut disebut dengan unsur intrinsik. Dalam drama ini, unsur-unsur intrinsiknya adalah 1) judul; 2) tema; 3) plot atau alur ; 4) tokoh cerita dan perwatakan; 5) dialog; 6) konflik; dan 7) latar.
  2. sedangkan untuk mengetahui makna keseluruhan karya tersebut digunakan analisis unsur luaran yang disebut unsur ekstrinsik. Unsur ekstrinsik yang dianalisis dalam naskah ini adalah faktor sosial-politik Indonesia pada masa pasca penjajahan Belanda.
About these ads

5 thoughts on “Unsur Intrinsik Drama “BAPAK”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s