Pembelajaran Menulis Berita Melalui Pendekatan Keterampilan Proses

Hakikat Menulis

Menulis adalah kegiatan penyampaian pesan dengan menggunakan tulisan sebagai medianya. Sehingga pesan, gagasan, dan ide penulis dapat tersampaikan dengan baik. Keterampilan menulis digunakan untuk mencatat, meyakinkan, melaporkan, dan mempengaruhi sikap pembaca (Ningsih, dkk, 2007:121). Sedangkan menurut Widyamartaya (1990:9), menulis adalah salah satu kegiatan berbahasa kompleks sebagai rangkaian seseorang dalam mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa menulis adalah salah satu kegoatan berbahasa dan suatu proses kegiatan yang dapat mengekspresikan berbagai pikiran, pendapat, dan perasaan kepada orang lain dalam bentuk tulisan.

2.2 Proses Menulis

Hariyadi (1997:78), mengemukakan bahwa langkah atau proses penulisan terdiri atas beberapa tahap, yaitu:

  1. Pramenulis
    1. Pemilihan topik

Menurut Wahab dan Lestari (1991:1), tiga hal yang harus diperhatikan (1) penulis dapat memilih topik sesuai minatnya, (2) penulis dapat memilih topik yang diperkirakan dapat mengembangkan minatnya, dan (3) penulis dapat memilih topik yang akan mengundang keingintahuan pembaca.

  1. Menentukan topik

Semi (1995:203) mengemukakan hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan topik, yakni apakah topik itu disukai sebagian besar pembaca, apakah ada nilai didaktis di dalamnya, dan apakah topik itu aktual karena sesuai dengan situasi.

  1. Menentukan bentuk tulisan

Pada umumnya tulisan dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu narasi, deskripsi, eksposisi dan argumentasi.

  1. Menentukan sasaran pembaca

Dengan mengetahui calon pembaca, penulis lebih mudah mengembangkan gaya penulisannya dan menyesuaikan kata dan istilah dengan kondisi umum calon pembaca mengenai usia, tingkat pendidikan, dan jenis kelamin

  1. Menentukan dan mengatur ide

Ide yang akan disampaikan harus diorganisasikan dengan baik dan sebelumnya harus sudah terkumpul.

  1. Menulis
    1. Menulis kerangka dasar

Kerangka karangan atau outline adalah rencana kerja seorang penulis dalam menguraikan setiap topik untuk mempercepat proses penulisan dan kualitas bahasa yan tinggi.

  1. Menulis informasi penting

Ada empat cara dalam menulis informasi penting dari hasil bacaan, yaitu degan membuat parafrase, ringkasan, kutipan langsung, dan kombinasi antara ketiganya (Wahab dan Lestrai, 1999:26)

  1. Revisi
    1. Membaca ulang kerangka dasar berfungsi untuk mencari kata-kata yang tidak sesuai untuk diganti dengan yang lebih tepat.
    2. Perbaikan merupakan kegiatan kecermatan untuk memperbaiki tulisan agar menjadi lebih baik. Bantuan penelaahan dapat dengan meminta kawan dekat atau penulis yang lebih berpengalaman.
    3. Mengedit
      1. Pemberian jangka waktu pemeriksaan karangan yang dilakukan seorang editor atau penyunting naskah diperlukan sehingga karya tulis siap tampil tepat waktu dan penyunting harus mempunyai waktu, kemampuan, kemauan, dan disiplin kerja.
      2. Pemeriksaan perlu dilakukan seperti kelengkapan tabel, garfik, foto, identitas penulis, dan lain-lain apakah sudah layak dipublikasikan.
      3. Perbaikan penyuntingan dibagi dua, yaitu penyuntinagn makro dan mikro. Penyuntingan makro berkaitan dengan masalah komunikasi agar keseluruhan isi dapat dengan jelas diterima pembaca. Penyuntinagn mikro berkaitan dengan ketepatan penyajian tanpa menanyakan persetujuan pengarang seperti tata bahasa dan ejaan.
      4. Mempublikasikan

Naskah hasil suntingan dapat diserahkan kepada editor penerbitan. Dalam hal ini editor terlibat dalam pembuatan desain, iklan, pemasaran,dan lain-lain sampai pada kegiatan promosi kepada pembaca.

2.3 Pengertian Berita

Berita merupakan laporan peristiwa yang benar-benar terjadi dalam waktu yang baru sehingga memliki nilai kejutan dan dapat memenuhi hasrat keingintahuan orang banyak, serta peristiwa tersebut bukan suatu rutinitas, tetapi terjadi di luar kebiasaan dan di luar dugaan.

2.4 Bahasa Berita

Kriteria bahasa berita atau jurnalistik adalah singkat, jelas, dan sederhana; kalimat berita pendek, singkat dan berisi; dinamis sesuai masa; isi berita tetap memperhatikan kaidah yang baik dalam bahasa Indonesia. Intinya bersifat informatif, persusif dan tidak berele-tele.

2.5 Cara Menyusun Berita

Struktur penulisan sering disebut sebagai piramida terbalik, yaitu bagian atas merupakan bagian yang terpenting, kemudian disusul dengan bagian-bagian yang kurang penting. Struktur berita juga dapat dimulai dari judul berita, baris tanggal, teras berita (lead), dan tubuh berita. Pada umumnya isi berita dikenal dengan rumus 5 W + 1 H (Hasnun, 2006:120). Perinciannya What (apa); Who (siapa); Where (di mana); When (kapan); Why (mengapa); dan How (bagaimana).

  1. Pendekatan Keterampilan Proses

Proses belajar-mengajar dilaksanakan dengan lebih banyak mengacu kepada bagaimana seseorang belajar, selain kepada apa yang ia pelajari. Saliwangi (1989:17) mengatakan, keterampilan proses merupakan keterampilan siswa untuk mengelola perolehannya yang diperoleh melalui proses belajar mengajar yang member kesempatan lebih luas kepada siswa untuk mengemati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan, meneliti,dan mengkomunikasikannya.

Penyajian bahan pelajaran, terutama konsep-konsep esensial haruslah mengikutsertakan siswa secara aktif. Siswa seharusnya diberikan kesempatan untuk 1) mempelajarai materi dengan penuh pemahaman; 2)mengalami sendiri bagaimana memperoleh suatu pengetahuan; 3) merasakan sendiri kegunaan, berhatii terbuka, jujur, tekun, disiplin, rapi, estetiksdan keterikatan pada tugas yang diberkan; 4) belajar dalam suasana kebersamaan; 5) memikirkan dan mencoba sendiri; 6)menemukan dan mempelajari kejadian baru yang dapat membangun gagasan; 7) menampilkan kemampuannya dalam mengkomunikasikan cara berpikir, hasil penemuan, dan penghayatan nilai-nilai, baik secara lisan. tertulis,penampilan  maupun gambar; 8) mengembangkan kemampuannya untuk mengajukan pertanyaan, mengamati, menafsirkan, menerapkan, dan mengkomunikasikan hasil penemuannya.

  1. Tujuan dan lingkup kegiatan

Keterampilan proses bertujuan mengembangkan kreativitas siswa dalam belajar sehingga secara aktif mengembangkan dan menerapkan kemampuannya. Lingkup kegiatan bertolak pada kemampuan fisik dan mental yang mendasar sesuai dengan yang ada pada diri siswa.

IV.  Dasar pelaksanaan kegiatan

  1. Harus sesuai dan selalu berpegang teguh pada tujuan kurikulum dan tujuan instruksional
  2. Berpegang pada prinsip bahwa semua siswa mempunyai kempuan sesuai dengan kodratnya
  3. Memberi kesempatan, motivasi,dan penghargaanpada siswa untuk mengungkapkan perasaan perasaan dan pikirannya
  4. Semua pembinan harus berdasar pada pengalaman belajar siswa
  5. Perlu diupayakan agar pembinaan mengarah pada kemampuan siswa untuk mengolah hasil temuannya
  6. Berpegang pada prinsip Tut Wuri Handayani
  1. Langkah-langkah pendekatan keterampilan proses
  2. Pemanasan

Hal ini bertujuan mengarahkan siswa pada pokok permasalahnagar siswa siap secar mental maupun fisik (Suryosubroto: 73). Kegiatan ini dapat berupa:

  1. Pengulasan l;angsung pengalaman yang pernah dialami siswa atau guru
  2. Pengulasan bahan pelajaran yang telah dibahas pada waktu sebelumnya
  3. Kegiatan yang dapat mengarahkan perhatian siswa seperti meminta pendapat, menunjukkan gambar, dan lain-lain
  4. Proses belajar-mengajar dapat dilakukan secara individu ataupun kelompok.

2.1   Mengamati

Tujuannya adalah penggunaaan indra secara optimal untuk memperoleh informasi yang memadai. Untuk itu, sebaiknya menggunakan alat peraga atau bagan dari pada kata-kata. Kegiatannya dapat berupa: melihat, mendengar, meraba, mencicipi, mengukur, atau mengumpulkan data.

2.2   Mengklasifikasi

Kegiatannya dapat berupa:mencari perbedaan, mencari persamaan, membandingkan, mengontraskan, menggolongkan dan mengelompokkan.

2.3   Menafsirkan

Tujuannya adalah menyimpulkan hasil pengamatan. Kegiatannya dapat berupa: menaksir, memberi arti, menarik kesimpulan, membuat inferensi, menggeneralisasikan, mencari hubungan atau menemukan pola.

2.4   Meramalkan

Hasil interpretasi dipakai untuk kejadian yang akan datang. Bedanya dengan terkaan adalah, dalam ramalan terdapat hubungan logis dari hasil pengamatan yang diketahui.

2.5   Menerapkan

Kegiatannya dapat berupa: menggunakan konsep, kesimpulan, sikap dan nilai dalam situasi baru untuk menyelesaikan masalah, menghitung, mendeteksi, memfokuskan pertanyaan penelitian, menyusun hipotesis dan membuat model.

2.6   merencanakan penelitian

Kegiatannya dapat berupa: menentukan objek yang akan diteliti, menentukan tujuan penelitian, menentukan ruang lingkup penelitian, menentukan sumber data, menentukan cara analisis, menentukan cara memeperoleh data, menentukan bahan dan sumber kepustakaan,

2.7   mengkomunikasikan

Kegiatannya dapat berupa: berdiskusi, mendramakan, bertanya, mengarang, meragakan, mengekspeimenkan, dan melaporkan dalam bentuk tulisan, lisan atau penampilan dan gambar.

VI.  Pembelajaran Menulis Berita di SMP

Salah satu kompetensi dasar menulis pada mata pelajaran bahasa Indonesia jenjang SMP yang tercantum dalam kurikulum berbasis kompetensi 2004 adalah siswa mampu menulis berita. Kompetensi dasar tersebut dimaksudkan memberikan pengetahuan dasar tentang bagaimana caranya menyusun berita dengan baik. Indikator yang harus dicapai adalah siswa mampu mencatat peristiwa yang terdiri dari 5W + 1H, siswa mampu menulis berita, dan siswa mampu memperbaiki kesalahan penggunaan ejaan dalam berita.

Kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan dalam menulis berita di SMP melalui pendekatan keterampilan proses ini antara lain sebagai berikut:

  1. Siswa mengamati  teks-teks berita dalam koran
  2. Siswa mengelompokkan tulisan dalam koran
  3. Siswa mencari pola dalam masing-masing tulisan yang telah dikelompokkan
  4. Siswa merencanakan membuat tulisan berita
  5. Siswa menulis pokok-pokok berita
  6. Siswa mengembangkan pokok-pokok berita
  7. Siswa merevisi hasil tulisan
  8. Siswa mempresentasikan hasil tulisan

DAFTAR PUSTAKA

Jannah, Fitriatul. 2008. Skripsi: Peningkatan Hasil Belajar Menulis Berita Melalui Pembelajaran Model KUASAI.

Saliwangi, Basennang. 1989. Pengantar Strategi Belajar-Mengajar Bahasa Indonesia.malang: IKIP Malang Press.

Suryosubroto, B. 1997. Proses Belajar-Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Tarigan, Djago. 1990. Pragmatik. Bandung: Angkasa.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s