Kepribadian Tokoh Nyonya Dermawan dalam Naskah Monolog Nyonya Dermawan Karya Agus R. Sarjono

Posted on

  1. I. Pendahuluan

Pendekatan psikologi mendapat perhatian dalam penelaahan dan penelitian sastra, hal ini terjadi karena timbulnya kesadaran bagi pengarang yang dengan sendirinya juga bagi kritikus sastra, bahwa perkembangan dan kemajuan masya-rakat di zaman modern ini tidaklah semata-mata dapat diukur dari segi material tetapi juga dari segi rohaniah atau kejiwaan (Semi, 1989:46).

Sampai saat ini teori yang paling banyak diacu dalam pendekatan psikologis adalah determinisme psikologi Sigmund Freud (Kutha Ratna, 2008:62). Menurut Sigmund Freud, semua gejala yang bersifat mental bersifat tak sadar yang tertutup oleh alam kesadaran pada umumnya teori kepribadian dibagi menjadi tiga yaitu:  id, ego, dan super ego.

Sesuai dengan teori yang dikemukakan di atas, dalam naskah monolog Nyonya Dermawan terdapat hal-hal yang menarik untuk dikritik. Hal-hal yang menarik tersebut yaitu kepribadian Nyonya Dermawan serta faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian Nyonya Dermawan.

Kemajuan-kemajuan teknologi serta modernisasi dalam segala sektor ke-hidupan tampaknya bermula dari sikap kepribadian tertentu serta bermuara pada permasalahan kepribadian. Hal inilah yang coba direpresentasikan dalam naskah monolog karya Agus R. Sarjono yang berjudul Nyonya Dermawan.

Naskah monolog Nyonya Dermawan berisi tentang seorang nyonya yang kaya raya dan mengatakan dirinya sebagai orang yang dermawan. Namun di tengah sikap dermawannya  ia pun bersikap arogan. Ternyata kearoganannya itu dipicu oleh satu hal yang berasal dari masa lalunya. Kemenarikan naskah monolog ini menjadi sesuatu yang patut diapresiasi terutama dari segi psikologi dan kepribadian tokoh Nyonya Dermawan.

  1. II. Tinjauan Pustaka

Atar Semi berpendapat bahwa pendekatan psikologis adalah pendekatan penelaahan sastra yang menekankan pada segi-segi psikologis yang terdapat dalam suatu karya sastra (1989:46). Menurut Nyoman Kutha Ratna pendekatan psikologis diarahkan pada individu, intensitas terhadap gejala-gejala individual di satu pihak, didominasi psike di pihak lain, menyebabkan pendekatan psikologis lebih banyak membicarakan aspek-aspek penokohan, kecenderungan timbulnya aliran-aliran seperti romantisme, ekspresionisme, absurditas dan sebagainya.

Rene Wellek dan Austin Werren (1989:81-82) menunjukkan empat model pendekatan psikologis yang dikaitkan dengan pengarang, karya sastra dan pem-baca dengan pertimbangan bahwa pendekatan psikologis lebih banyak ber-hubungan dengan karya sastra. Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan psikologis adalah penelaahan sastra yang menekankan  pada segi-segi psikologis, baik psikologi pengarang karya sastra maupun pembacanya.

Agustiani dalam psikologi perkembangan berpendapat bahwa kepribadian adalah istilah yang populer baik di masyarakat umum maupun di lingkungan psikologi kepribadian. Sebagaimana dipelajari di bidang ilmu psikologi, kepribadian diartikan sebagai karakteristik atau cara bertingkah laku yang menentukan penyesuaian dirinya yang khas terhadap lingkungannya.

Sigmund Freud dalam Samsunuwiyati (2006:69) menjelaskan, semua gejala yang bersifat mental bersifat tak sadar yang tertutup oleh alam kesadaran. Menurut Freud, teori kepribadian dibagi menjadi tiga yaitu: a) id, isi id adalah dorongan-dorongan primitif, sebab id adalah segi kepribadian tertua dan ada sejak lahir serta diturunkan secara genetis. Id bekerja berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle).; b) ego, berperan untuk mengontrol id. Sebab ego adalah segi kepribadian yang dapat membedakan antara khayalan dan kenyataan. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas (reality principle); dan  c) super ego, merupakan perwakilan dari berbagai nilai dan norma. Berbeda dengan ego berpegang prinsip realitas, super ego memungkinkan manusia memiliki pengendalian diri (self control). Dari ketiga tipe kepribadian tersebut, Freud membagi ketiganya dalam ketiga tipe berikutnya.

a)      Tipe Erotis

Elemen id menguasai, orang-orang yang bergabung dalam tipe ini ditandai dengan adanya suatu kehidupan dorongan yang sangat kuat yang tidak dapat ‘direm’. Baik oleh ego maupun super ego.

b)      Tipe Narcistis

Elemen ego yang menguasai. Kesadaran diri yang berada paling depan. Pertimbangan menjadi titik sentral atau pusat. Freud dalam K. Bertens (1979:35) mengatakan, pada mulanya ego adalah satu-satunya objek dalam hidup manusia. Dengan kata lain libido bersifat sama dengan narcistis. Narcistis (kata sifat) dimengerti sebagai ‘cinta diri’. Jadi, permulaan ego merupakan sumber libido. Kemudian haluannya berubah dan libido diarahkan kepada objek-objek. Arahan-arahan objek ini kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain.

c)      Tipe Dwang

Elemen super ego yang menguasai. Artinya, manusia sepenuhnya bergantung pada kultur. Norma-norma dan prinsip-prinsip akan mengarahkan perilaku dan ada pengaruh moralitas yang kuat.

Kepribadian merupakan suatu produk akhir dari potensi-potensi yang di-miliki manusia dan seluruh perjalanan hidupnya. Hal-hal yang mempengaruhi ke-pribadian antara lain: 1) potensi bawaan, 2) pengalaman dalam budaya dan lingkungan, 3) pengalaman yang unik. Teori-teori kepribadian yang dikemukakan oleh para ahli adalah suatu usaha yang runtut untuk menjelaskan kepribadian, agar orang dapat mengerti dan dapat diramalkan tingkah lakunya.

  1. III. PEMBAHASAN

Tokoh Nyonya Dermawan dalam naskah monolog ini digambarkan memiliki kepribadian kompleks. Kepribadian tersebut tergambar dalam tipe-tipe: 1) tipe erotis; 2) tipe narcistis; dan 3) tipe dwang.

  1. Tipe Erotis

Id tokoh Nyonya Dermawan dalam monolog ini tidak nampak. Terbukti dalam isi monolog dalam hal 26, ketika Nyonya Dermawan dipaksa oleh orang tuanya memutuskan hubungan dengan kekasihnya, Nyonya Dermawan berniat bunuh diri. Ternyata id dalam dirinya tidak menunjukkan hal itu.

Hati saya Jeng. Hati saya ibu-ibu seperti cermin murah yang jatuh dari tebing yang tinggi. Tak bisa diselamatkan lagi. Waktu itu saya putus asa. Tidak sudi lagi saya hidup. Tak mampu saya melihat sinar matahari. Matahari di hati saya sudah tenggelam unutk selama-lamanya. Say sudah bertekad unutk melonjat ke jurang. Saya ingin bunuh diri saja. Tapi, waktu saya melihat ke bawah. Ohh ngeriii.

(MND, 2008: 26)

  1. Tipe Narcistis

Nyonya Dermawan dalam monolog ini tidak mengarahkan egonya pada dirinya sendiri tetapi pada orang lain. Dalam hal ini ditunjukkan terhadap ibu-ibu arisan atau orang di sekitarnya. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan di bawah ini.

Imej on time

Lho. Belum dimulai ya arisannya? Belum diundi siapa pemenangnya tho? Wah kalau begitu saya belum terlamabat dong? Aduuuh, saya sudah takut imej yang saya jaga bertahun-tahun sebagai manusia on time akan runtuh hari ini.

(MND, 2008: 21)

Imej orang kaya

Suami saya itu lho, kok bisa-bisanya beli burung perkutut seharga dua puluh lima juta.

(MND, 2008: 21)

Tapi karena rumah saya luas sekali, tetap saja bikin  repot. Burung itu, coba bayangkan ibu-ibu, hinggap seenaknya di jambangan kristal yang dibawa suami dari Vienna, saya kejar, eh terbang dan menclok di sofa yang saya beli di Yunani. Anak saya dengan sergap mengejar burung itu yang kemudian hinggap di meja rias yang saya beli di Itali. Meja rias Versace je, ibu-ibu, coba bayngkan.

(MND, 2008: 22)

Imej dermawan

Kalian pasti menganggap suami saya pelit kan? Kalian pasti diam-diam bilang saya orang bachil kan? Tidak! Saya tegaskan sekali lagi, tidak! Saya itu orangnya yang pertama bergerak jika ada bencana. Sebut saja: banjir, tsunami, tanah longsor, gempa! Saya selalu ada di depan. Saya selalu sigap turun tangan, daya hubungi dan saya galang semua kenalan saya, saya kumpulkan bantuan. Dan saya sendiri, ingat, saya sendiri yang lansung membawa ke lokasi bencana.

(MND, 2008: 24)

Sebagai orang beragama, apalah yang lebih membahagiakan selain bisa membantu orang kesusahan. Tapi jangan gampang tertipu lho Jeng. Orang-orang kecil itu suka menipu kita dengan wajah susah mereka. Tidak! Saya tidak mudah tertipu.

(MND, 2008: 24)

Imej religius

Iya lho, naik haji kami sudah empat kali. Belum lagi umroh. Anak lulus kuliah, kami umroh, lolos proyek, kami umroh, Untuk merayakan lolosnya suami saya, karena tidak jadi ditangkap KPK, kami umroh. (MND, 2008: 23)

Imej kemampuan mengendalikan suami

Tapi, ingat, selama kita tidak membiarkan suami kita jadi kambing atau ngiler sama rumput tetangga, kita aman-aman saja. Lelaki itu Jeng, tergantung kita. Kalau saya, saya orang yang waspada. Begitu ada tanda-tanda dia mau main gila, saya cegat langsung pada langkah pertama.

(MND, 2008: 22)

Kutipan-kutipan di atas menunjukkan bahwa nyonya dermawan memiliki sifat narsis yang sangat besar namun di balik semua itu Nyonya Dermawan diketahui memiliki sifat yang buruk seperti kedermawanan yang ditunjukkan kepada ibu-ibu arisan, sebenarnya mengandung kesombongan, pelit dan ambisius dalam mencapai sesuatu.

  1. Tipe Dwang

Elemen super ego yang menguasai manusia sepenuhnya bergantung pada kultur, norma-norma dan prinsip-prinsip akan mengarahkan perilakunya. Pada tipe ini pengaruh moralitas sangat kuat.

Super ego Nyonya Dermawan ditunjukkan ketika dia tidak jadi bunuh diri dan mematuhi perintah orang tuanya untuk menikah dengan lelaki pilihan keluarga.

Saya sadar, mati sia-sia bukanlah pertanda keagungan cinta.

Akhirnya saya terima nasib saya dipisahkan dengan paksa dari lelaki dambaan kalbu saya. Saya akhirnya bersanding dengan lelaki prospektif itu. Dialah yang sekarang menjadi suami saya.

(MND, 2008: 26)

Kutipan di atas menunjukkan keharusan Nyonya Dermawan untuk menikah dengan orang yang bukan kekasihnya. Namun, keharusan ini mengakibatkan Nyonya Dermawan menjadi sosok yang ambisisus. Walaupun dia hidup dengan lelaki yang bukan pilihannya dan tidak dicintainya seperti kekasihnya dulu, Nyonya Dermawan berusaha mengharuskan dirinya mencintai kekayaan suaminya. Begitu juga dengan kutipan di bawah ini, yang membuat Nyonya Dermawan memutuskan untuk memilih kekayaan suaminya:

Memilih jodoh itu Jeng, seperti membeli mobil. Pilih yang betul-betul bagus dan mantap, jangan hanya tergoda sama modelnya tapi gampang mogok dan harganya terus jatuh. Lihat saja saya, kelihatan makmur dan bahagia kan? Cinta itu pendek, kemakmuran itu panjang dan abadi. Itulah sebabnya saya mencintai kemakmuran. Itulah sebabnya saya mencintai suami saya.

(MND, 2008: 26-27)

Hal-hal yang mempengaruhi kepribadian seperti yang telah dijelaskan sebelumya ada tiga yaitu: 1) potensi bawaan, 2) pengalaman dalam budaya dan lingkungan, 3) pengalaman yang unik. Ketiga hal tersebut yang paling mempengaruhi Nyonya Dermawan adalah pengalaman dalam lingkungan, terutama lingkungan keluarga dan masa lalunya. Adanya pemaksaan dari orang tua agar dirinya menikah dengan pria yang kaya menyebabkan Nyonya Dermawan mengalihkan perasaan cintanya pada kekasihnya menjadi cinta terhadap kekayaan.

  1. IV. Penilaian Terhadap Monolog

Monolog ini apabila dipelajari secara tekstual maka akan sangat bagus sebab amanat yang disampaikan oleh pengarang lebih luas atau banyak dan lebih mudah dipahami pembaca. Dari segi isi dapat disimpulkan bahwa tidak semua orang yang memiliki sifat sombong, pelit dan lain sebagainya berasal dari bawaaan sejak lahir. Terbukti dalam monolog ini Nyonya Dermawan memiliki sifat tersebut karena latar belakang orang tua yang memaksanya untuk bersikap demikian

Salah satu hal yang membuat monolog ini menarik adalah perubahan nasib pada tokoh Nyonya Dermawan. Perubahan ini ditandai dari cerita-cerita yang dipaparkan oleh Nyonya Dermawan. Nyonya Dermawan pada mulanya memiliki sifat yang penurut, sebab dia mengikuti kemauan orang tuanya untuk menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya. Namun setelah menjalani kehidupan rumah tangga dia merubah sifatnya menjadi seseorang yang memiliki sifat narcistis. Sifat ini muncul akibat dari tekanan psikologi yang dialaminya.

Lho. Belum dimulai ya arisannya? Belum diundi siapa pemenangnya tho? Wah kalau begitu saya belum terlamabat dong? Aduuuh, saya sudah takut imej yang saya jaga bertahun-tahun sebagai manusia on time akan runtuh hari ini.

(MND, 2008: 21)

Tapi karena rumah saya luas sekali, tetap saja bikin  repot. Burung itu, coba bayangkan ibu-ibu, hinggap seenaknya di jambangan kristal yang dibawa suami dari Vienna, saya kejar, eh terbang dan menclok di sofa yang saya beli di Yunani. Anak saya dengan sergap mengejar burung itu yang kemudian hinggap di meja rias yang saya beli di Itali. Meja rias Versace je, ibu-ibu, coba bayangkan.

(MND, 2008: 22)

Kalian pasti menganggap suami saya pelit kan? Kalian pasti diam-diam bilang saya orang bachil kan? Tidak! Saya tegaskan sekali lagi, tidak! Saya itu orangnya yang pertama bergerak jika ada bencana. Sebut saja: banjir, tsunami, tanah longsor, gempa! Saya selalu ada di depan. Saya selalu sigap turun tangan, daya hubungi dan saya galang semua kenalan saya, saya kumpulkan bantuan. Dan saya sendiri, ingat, saya sendiri yang lansung membawa ke lokasi bencana.

( MND, 2008: 24)

Iya lho, naik haji kami sudah empat kali. Belum lagi umroh. Anak lulus kuliah, kami umroh, lolos proyek, kami umroh, Untuk merayakan lolosnya suami saya, karena tidak jadi ditangkap KPK, kami umroh.

(MND, 2008: 23)

Tapi, ingat, selama kita tidak membiarkan suami kita jadi kambing atau ngiler sama rumput tetangga, kita aman-aman saja. Lelaki itu Jeng, tergantung kita. Kalau saya, saya orang yang waspada. Begitu ada tanda-tanda dia mau main gila, saya cegat langsung pada langkah pertama.

(MND, 2008: 22)

Sifat-sifat narcistis itu muncul karena Nyonya Dermawan merasa rumah tangganya dibangun tanpa ada landasan cinta. Sehingga dia berusaha membangun imej yang baik-baik agar semua orang tahu bahwa dia hidup dalam kebahagiaan dan kemakmuran. Kadangkala sifat narcistis yang berlebihan dapat membuat seseorang terlihat sombong, sehingga dari kesan yang didapat Nyonya Dermawan adalah orang yang sombong.

Enak saja! Jangan seenaknya mikir gaji tidak cukup. Pikirkan berapa banyak orang lain yang tidak kerja! Sudah untung dia kerja di kantor saya dan tidak jadi pengengguran. Cukup tidak cukup gajinya tidak bisa dijadikan alasan!

(MND, 2008: 24)

Memilih jodoh itu, Jeng, seperti membeli mobil. Pilih yang betul-betul bagus dan mantap, jangan hanya tergoda sama modelnya tapi gampang mogok dan harganya terus jatuh. Lihat saja saya, kelihatan makmur dan bahagia kan? Cinta itu pendek, kemakmuran itu panjang dan abadi. Itulah sebabnya saya mencintai kemakmuran. Itulah sebabnya saya mencintai suami saya.

(MND, 2008: 26-27)

Tidak, tidak apa-apa kok. Lihat, saya makmur begini, mana mungkin orang makmur dilanda duka. Betul. Sungguh. Sumpah. Swer! Enggak ada apa-apa. Saya baik-baik saja kok. Hampir saja saya lupa, bukankah saya bahagia?

(MND, 2008: 27)

Perubahan kepribadian Tokoh Nyonya Dermawan dalam kutipan di atas adalah hal yang membuat naskah monolog ini menarik untuk dikaji. Tokoh Nyonya Dermawan awalnya penurut terhadap orang tua, menjadi narcistis setelah menikah dengan suami pilihan orang tuanya.

  1. V. KESIMPULAN

Dari segi isi dapat disimpulkan bahwa tidak semua orang yang memiliki sifat sombong, pelit dan lain sebagainya berasal dari bawaaan sejak lahir. Terbukti dalam monolog ini Nyonya Dermawan memiliki sifat tersebut karena latar belakang orang tua yang memaksanya untuk bersikap demikian. Selain itu sifat ini muncul karena untuk memberikan kesan bahwa Nyonya Dermawan adalah seorang wanita yang hidup bahagia bersama suami pilihan orang tuanya.

Kejiwaan tokoh utama dalam monolog Nyonya Dermawan terbagi dalam tiga tipe: 1) Tipe Erotis, 2) Tipe Narcistis dan 3) Tipe Dwang. Dari ketiga tipe tersebut tipe yang paling menonjol dari tokoh utama adalah tipe narcistis yang ditunjukkannya dengan menyatakan bahwa dirinya yang paling baik di antara orang lain. Sedangkan kepribadian Nyonya Dermawan lebih dipengaruhi faktor lingkungan, terutama lingkungan keluarga dan pengalaman masa lalu.

Sementara itu perubahan watak yang dialami oleh Nyonya Dermawan dilatar belakangi oleh kondisi psikologinya. Dia berusaha agar hidupnya terlihat sempurna, sehingga dia membangun segala macam imej yang baik. Imej yang dibangun itu juga agar suaminya terlihat sebagai suami yang perhatian dan penuh cinta. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kehidupan yang terlihat sempurna belum tentu bahagia.

DAFTAR PUSTAKA

Agustiani, Hendrianti. 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung:  Refika Aditama.

Bertens. 1987. Memperkenalkan Psikoanalisa Lima Ceramah. Jakarta: Gramedia.

Mar’at, Samsunuwiyati. 2006. Perilaku Manusia. Bandung: Refika Aditama.

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada

University Pers.

Ratna, Nyoman Kutha. 2008. Penelitin Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sarjono, Agus R. Nyonya Dermawan-Monolog. Dalam Horison edisi Oktober 2008.

Semi, Atar. 1989. Kritik Sastra. Bandung:  Penerbit Angkara

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Diindonesiakan oleh Melanie Budianta. Jakarta: Gramedia.

About these ads

2 pemikiran pada “Kepribadian Tokoh Nyonya Dermawan dalam Naskah Monolog Nyonya Dermawan Karya Agus R. Sarjono

    sahlan bahuy berkata:
    Mei 10, 2011 pukul 7:29 pm

    Bolehkah saya minta naskah monolognya?

      Dian responded:
      Mei 11, 2011 pukul 6:22 am

      Boleh, tapi mungkin tidak sekarang karena saya belum mengetiknya ulang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s