RSS

Pola Pengembangan Paragraf

  1. Pola umum-khusus (deduktif)

Diawali dengan pernyataan yang sifatnya umum. Ditandai dengan kata-kata ‘umumnya’, ‘banyak’. Pernyataan tersebut kemudian dijelaskan dengan pernyataan berikutnya yang lebih khusus.

Contoh:

Memiliki server sendiri memiliki banyak keuntungan. Salah satunya kita dapat memanfaatkannya secara maksimal. Meskipun demikian biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar. Biaya untuk hardware saja sudah di atas Rp 10 juta, belum lagi biaya perbulan. Selain itu kita juga membutuhkan tenaga professional untuk menjadi operatornya.

  1. Pola khusus-umum (induktif)

Merupakan kebalikan dari pola deduktif.

Contoh:

Sebagian besar orang tampak berjejer di pinggir jalan masuk. Sebagian lagi duduk santai di atas motor dan mobil yang diparkir seenaknya di kiri dan kanan jalan masuk. Kawasan bandara sore ini memang benar-benar telah dibanjiri lautan manusia.

  1. Pola definisi luas

Definisi dalam pembentukan sebuah paragraf adalah usaha penulis untuk memberikan keterangan atau arti terhadap sebuah kata atau hal. Penulis dapat mengemukakan hal yang berupa definisi formal, definisi dengan contoh dan keterangan lain yang bersifat menjelaskan arti dari sutau kata.

Contoh:

Istilah Globalisasi adalah keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.Globalisasi adalah suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas Negara. Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.

  1. Pola proses

Merupakan suatu urutan dari tindakan atau perbuatan untuk  menciptakan atau menghasilkan suatu peristiwa.

Contoh:

Pohon anggur selain airnya dapat diminum, daunnya pun dapat digunakan sebagai pembersih wajah. Caranya, ambillah daun anggur secukupnya. Lalu tumbuk sampai halus. Masaklah hasil tumbukan itu dengan air secukupnya. Tunggu sampai mendidih. Setelah ramuan mendingin, ramuan siap digunakan. Oleskan ramuan pada wajah, tunggu beberapa saat, lalu bersihkan.

  1. Pola kausalitas (sebab-akibat; akibat sebab)

Dalam pola ini sebab bertindak sebagai gagasan utama, sedangkan akibat sebagai rincian pengembangannya. Namun demikian, susunan tersebut bias juga terbalik. Akibat dapat berperan sebagai gagasan utama, sedangkan sebab menjadi rincian pengembangannya.

Contoh:

Beberapa pohon di kebun tidak mau berbungan seperti tanaman yang lain. Padahal pohon tersebut sudah disiram dengan rutin. Pemberian pupuk juga dilakukan seminggu sekali. Setelah diperiksa ternyata pohon tersebut tidak mendapat cahaya matahari karena terhalang oleh pohon besar yang ada di sampingnya.

  1. Pola ilustrasi

Sebuah gagasan yang terlalu umum memerlukan ilustrasi atau contoh-contoh yang nyata. Ilustrasi tersebut dipakai untuk menjelaskan maksud penulis.

Contoh:

Sebelas tahun lalu Indonesia mengimpor gerbong kereta api dari Perancis. Gerbong tersebut tampak mentereng karena dilengkapi dengan alat-alat conditioning. Namun dimanakah sekarang gerbong-gerbong itu? Ternyata sudah banyak yang rusak. Gerbong-gerbong itu kini hanya dipakai dalam trayek tingkat tiga untuk mengangkut anak-anak sekolah dan para petani dari desa ke kota. Siapa yang salah? Penumpangnya atau pegawai PT KAI? Itulah contoh penggunaan teknologi yang tak dibarengi SDM yang memadai, sehingga teknologi pun lekas rusak sebelum waktunya.

  1. Pola pertentangan atau perbandingan

Pola ini digunakan ketika membahas dua hal berdasarkan persamaan dan perbedaannya.

Contoh:

Pemerintah telah menyediakan listrik dengan tarif yang murah. Setiap orang dapat menjadi pelanggan dengan tidak banyak mengeluarkan biaya. Berbeda halnya dengan petromaks. Meskipun sama-sama membutuhkan bahan bakar, tetapi energi yang dihasilkan petromaks sangat kecil jika dibandingkan dengan pembangkit listrik biasa. Petromaks hanya digunakan di desa-desa, sedangkan listrik terdapat di kota-kota.

  1. Pola analisis

Pola ini digunakan ketika menjelaskan suatu hal atau agagsan yang umum ke dalam perincian yang lebih logis. Dalam pola ini ada bagian yang dianalisis yang terletak di awal paragraf dan yang menganalisis terletak setelahnya.

Contoh:

APBN 2001 menghadapi tekanan yang berat. Tekanan itu pada dasarnya berkaitan dengan tiga faktor. Pertama, memburuknya lingkungan ekonomi makro. Kedua, tidak dapat dilaksanakannya secara optimal kebijakan fiscal di bidang perpajakan, bea cukai, dan pengurangan subsidi BBM. Ketiga, adanya pembatalan sebagian pencairan pinjaman untuk biaya pembangunan.

  1. Pola klasifikasi

Merupakan sebuah proses untuk mengelompokkan hal atau peistiwa atau benda yang dianggap punya kesamaan-kesamaan tertentu.

Contoh:

Ikan air tawar terbagi ke dalam tiga golongan, yakni ikan peliharaan, ikan buas, dan ikan liar. Ikan peliharaan terdiri atas ikan-ikan yang mudah diperbanyak. Contohnya: ikan bandeng, ikan mas, ikan gurami, dan lain-lain. Ikan buas memiliki sifat jahat terhadap ikan-ikan lain. Contohnya: ikan gabus dan ikan lele. Ikan liar, meskipun jarang dipelihara, tetapi memiliki keuntungan secara ekonomis. Contohnya: ikan paray, ikan bunter dan ikan ikan jeler.

  1. Pola seleksi

Penggambaran objek tidak dilakukan secara utuh, tetapi dipilih secara perbagian berdasarkan fungsi, kondisi, atau bentuk.

Contoh:

Sejak suaminya terpilih menjadi ketua partai politik, ia memutuskan untuk  mengubah penampilannya. Kini ia lebih banyak mengenakan busana panjang yang sopan. Namun demikian kesan modis tak pernah ditinggalkan. Untuk menghadiri jamuan makan malam, ia mengenakan busana bergaya Thailand. Untuk acara formal, atasan model jas berlengan panjang dan rok span menjadi favoritnya. Untuk santai, ia memilih busana model sackdress.

  1. Pola sudut pandang atau titik pandang

Merupakan tempat pengarang melihat atau menceritakan suatu hal. Sudut pandang diartikan sebagai penglihatan seseorang atas suatu barang. Misalnya dari samping, dari atas, atau dari bawah. Sebagai orang pertama, orang kedua, atau orang ketiga.

Contoh:

Dengan tersipu Imas dan Jaka menghalau kerbau mereka ke sungai. Bersama-sama mereka memandikan kerbaunya. Mereka pun sama-sama mandi. Namun hal itu tidak lama karena hari sudah senja. Ayah Imas melinting rokok di depan gubuk kecilnya semabrai  menunggu Imas pulang. Malam pun terasa mulai sunyi. Dari tepi hutan terdengar lolongan anjing.

  1. Pola dramatis

Dalam pola ini cerita tidak disampaikan secara langsung, tetapi dikemukakan melalui dialog-dialog. Hal yang membedakannya dengan pola sudut pandang adalah cara penyampaiannya.

Contoh:

Ayah Imas mengangguk. Diisapnya lagi sisa rokoknya dalam-dalam. “Ayo, silakan!” ujar Pak Somad semabri menyodorkan kotak tembakau. “Terima kasih, ini sudah cukup. Lagi pula hari sudah larut, saya mau pamit pulang.” ujar Ayah Imas.

[sumber: 1700 Bank Soal Bahasa Indonesia, E. Kosasih] Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada Februari 25, 2012 in Linguistik

 

Kaitkata: , ,

Pin Gado-gado

Waktu itu, saya dimintai tolong sepupu untuk membuat desain pinteman-temannya sekelas. Jadinya beberapa gambar di bawah ini saya berikan padanya untuk dipilih.Hasilnya, kalau menurut saya sih agak hancur, tapi syukur deh sepupu saya dan teman-temannya ternyata menyukai desain ‘gado-gado’ buatan saya. Hahaha…

 
Leave a comment

Posted by pada September 20, 2011 in Cerita Griya

 

Kaitkata:

Somalia, ‘ber-Ramadhan’ setiap hari

Sobat pernah mendengar kata Somalia? Siapapun yang mendengar nama ini bisa dipastikan ingatannya akan tertuju pada suatu Negara dengan 90% berpenduduk muslim berkulit hitam di pesisir pantai afrika. Negara beribu kota Mogadishu ini terkenal dengan kemiskinan dan kelaparan sepanjang tahun sehingga banyak anak-anak Somalia yang meninggal Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada September 20, 2011 in Islam

 

Kaitkata: ,

Abdurrahman bin ‘Auf

Abdurrahman bin ‘auf dilahirkan selang sepuluh tahun setelah tahun Gajah. Pada masa jahiliyah memiliki nama Abu Amru. Setelah masuk Islam, kemudian Rasulullah Saw menggantinya dengan nama Abdurrahman bin Auf bin Abdi bin Al Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’aiy. Beliau termasuk assabiqunalawwalun, yaitu tergolong diantara sepuluh orang yang dijanjikan Rasulullah masuk surga.

Beliau adalah sahabat yang kaya raya karena pandai berdagang dan sangat ulet. Keuletannya berdagang serta doa dari Rasulullah, menjadikan perdagangannya semakin berhasil, sehingga ia termasuk salah seorang sahabat yang kaya raya. Kekayaan yang dimilikinya, Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada September 20, 2011 in Islam

 

Kaitkata: ,

Walisongo

Sobat, pasti ada di antara kalian yang pernah melakukan ziarah walisongo. Bahkan mungkin beberapa dari kita menghafal siapa saja mereka. Namun, tahukah kita bagaimana kisah walisongo dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia? Selama ini kita dikenalkan bahwa walisongo hanyalah berjumlah 9 orang yaitu Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Namun, benarkah walisongo hanya sembilan orang itu saja?

Supaya tidak salah paham, ada baiknya kita tau apa makna kata walisongo itu sendiri. Adabeberapa pendapat mengenai arti Walisongo. Pertama adalah wali yang sembilan, yang menandakan jumlah wali yang ada sembilan, atau sanga dalam bahasa Jawa. Pendapat lain menyebutkan bahwa kata songo/sanga berasal dari kata tsana yang dalam bahasa Arab berarti mulia. Pendapat lain yang mengatakan bahwa Walisongo adalah sebuah majelis dakwah yang pertama kali didirikan oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 Masehi (808 Hijriah).

Memang banyak sekali versi yang beredar terkait sejarah walisongo. Namun sobat, keberadaan mereka untuk melakukan syiar Islam di Indonesia bukan sekedar dongeng atau mitos aja, tetapi nyata. Parawali itu memang utusan Khalifah sultan Muhammad I dari Turki sejak tahun 1404 M ke pulau Jawa. Setiap periode ada utusan yang tetap, tetapi ada juga yang diganti. Pengiriman ini dilakukan kholifah selama 5 periode. Dalam buku Kisah Walisongo; Para Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa karya Asnan Wahyudi dan Abu Khalid yang merujuk pada kitab Khanz Al ‘Ulum karya Ibnu Bathutah dijelaskan,lima periode itu adalah:

  1. Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq (Sunan Wali Lanang), Maulana Ahmad Jumadil Kubro (Sunan Kubrawi); Maulana Muhammad Al-Maghribi (Sunan Maghribi); Maulana Malik Isra’il (dari Champa), Maulana Muhammad Ali Akbar, Maulana Hasanuddin, Maulana ‘Aliyuddin, dan Syekh Subakir.
  2. Raden Rahmat (Sunan Ampel), Sunan Kudus, Syarif Hidayatullah, dan Sunan Bonang masuk  menggantikan Maulana Malik Ibrahim, Maulana Malik Isra’il, Maulana Muhammad Ali Akbar, dan Maulana Hasanuddin yang wafat.
  3. Sunan Giri menggantikan Maulana Ishaq yang pindah ke Aceh dan sunan kalijaga masuk menggantikan Syekh Subakir yang pindah kePersia.
  4. Raden Patah dan Fatullah Khan masuk menggantikan Maulana Ahmad Jumadil Kubro dan Maulana Muhammad Al-Maghrabi yang wafat.
  5. Sunan Muria masuk menggantikan Raden Patah yang diangkat menjadi raja Demak Bintoro.

Sobat, para walisongo ini tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting, yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat.

Mereka adalah intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Pengaruh mereka terasakan dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok-tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan.

Jadi keberadaan walisongo ini merupakan semacam duta/utusan dewan eksekutif di tingkat wilayah yang mendapatkan ‘lisensi’ dari khalifah melaui amilnya untuk mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. So, mereka bukan sekedar pedagang yang kemudian mampir keIndonesiatuk menyampaikan Islam, tapi benar-benar diutus sebagai para pembawa agama Islam di nusantara ini.

Perlu diketahui, sobat . Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid. Masa Walisongo adalah masa berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. [dari berbagai sumber]

 
Leave a comment

Posted by pada Agustus 25, 2011 in Islam

 

Kaitkata: ,

Teks MC Acara Perpisahan Sekolah

Assalamualaikum wr.wb.

bismillahirrohmairrohim…

(muqodimah dalam b.arabnya, buat sendiri)

Yth. almukarom KH. X

Yth. (jika ada pejabat yang lebih tinggi)

Yth. Kepala MI/Sd/SMP/Mts/SMA terserah…, Drs. X

Dewan guru, bapak2, ibu2 para undangan, serta anak2ku sekalian yang saya sayangi.

Pada kesempatan yang bahagia ini, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat allah Swt, yang telah memberikan rahmat dan berkahnya sehingga pada hari ini kita dapat berkumpul dalam rangka (X).

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad Saw.  Kepada keluarga beliau,  para sahabat serta kaum muslmin yang senantiasa beristiqomah dalam menjalankan syariat Islam hingga akhir zaman nanti.

Hadirin sekalian yang dirahmati Allah, adapun susunan acara pada pagi ini adalah sebagai berikut

  1. Pembukaan
  2. Pembacaan ayat suci Alquran
  3. Pembacaan sholawat nabi
  4. Sambutan2
  5. Prosesi wisuda
  6. Istirahat
  7. Mauidhoh hasanah
  8. Doa penutup

Hadirin sekalian, demi menghemat waktu marilah kita buka acara ini dengan bacaan basmallah bersama2.

Hadirin sekalian, berikutnya dalah pembacaan kalam Ilahi yakni QS… Ayat… yang akan dibawakan oleh ananda/saudara X. kepadanya dipersilakan.

Maha benar Allah atas segala firmanNya. Terimakasih disampaikan. Demikian tadi pembacaan ayat suci Alquran, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Beralih ke acara berikut, yakni pembacaan sholawat nabi yang akan dipimpin oleh ananda/saudara X… kepadanya dipersilakan. Dan kepada hadirin saya minta untuk berdiri sejenak.

Hadirin sekalian yang dirahmati Allah, acara selanjutnya adalah sambutan2. Sambutan pertama akan disampaikan oleh , ketua panitia. Kepada bapak X, dipersilakan.

Hadirin sekalian sambutan kedua akan disampaikan oleh perwakilan siswa kelas 5. Kepada ananda X, dipersilakan.

Selanjutnya adalah sambutan dari perwakilan wisudawan, kepada ananda X, dipersilakan.

Terimakasih saya sampaikan. Sambutan selanjutnya akan disampaikan oleh kepala MI, kepada bapak Drs. X, dipersilakan.

Terimakasih saya sampaikan. Hadirin sekalian. Kini kita memasuki acara inti, yakni prosesi wisuda siswa-siswi kelas 6 MI yang akan dipandu oleh bapak/ibu/saudara X dan akan dilanjutkan dengan acara istirahat. Kepadanya dipersilakan.

…………………………………………………………………………………….  (jika prosesi wisuda dipimpin MC secara langsung, kalimatnya silahkan disesuaikan sendiri sesuai kebutuhan)………………………..

Bapak2, ibu2 sekalian yang dirahmati Allah, kini tibalah kita pada acara mauidhoh hasanah yang akan disampaikan oleh almukarom KH. X. kepada beliau dipersilakan.

Hadirin rahimakumullah, demikian tadi mauidhoh hasanah yang telah kita ikuti bersama. Semoga bermanfaat bagi kita semua sebagai umat Islam. Amin ya robbal alamin.

Hadirin sekalian, tibalah kita dipenghujung acara yakni pembacaan doa penutup. Kepada bapak X, kami persilakan.

Hadirin yang saya hormati, acara demi acara telah kita lalui bersama. Semoga apa yang telah kita lalui diterima oleh Allah swt. Saya atas nama panitia dan selaku pembawa acara mengucapkan terimakasih atas perhatiannya. Dan mohon maaf apabila terdapat hal2 atau kata2 yang kurang berkenan di hati hadirin sekalian.

Terimakasih, wabillahi taufiq wal hidayah,

Wassalamualaikum wr.wb.

 
5 Comments

Posted by pada Juni 17, 2011 in retorika

 

Kaitkata: ,

Pengajaran Bahasa Komunikatif

Pendekatan komunikatif dalam pengajaran bermula dari teori yang berlandaskan bahasa sebagai komunikasi. Tujuan pengajaran bahasa ialah mengembangkan kompetensi komunikatif. Hymes (dalam Tarigan, 1991:267), menyatakan bahwa teori kompetensi komunuikatif merupakan suatu batasan apa yang perlu diketahui oleh seorang penutur atau pembicara agar dia mempunyai kompetensi secara komunikatif dalam masyarakat bahasa. Dalam pandangan Hymes, seorang insan yang memperoleh kompetensi komunikatif, sekaligus memperoleh pengetahuan dan kemampuan bagi penggunaan bahasa yang mengarah atau menaruh perhatian pada:

  1. apakah (dan sampai tingkat mana) sesuatu itu mungkin secara formal;
  2. apakah (dan sampai tingkat mana) sesuatu itu layak dalam kaitannya dengan sarana implementasi yang tersedia;
  3. apakah (dan sampai tingkat mana) sesuatu itu memadai (berhasil) dalam kaitannya pada konteks tempatnya dipakai dan dievaluasi;
  4. apakah (dan sampai tingkat mana) sesuatu itu sebenarnya dilakukan, ditampilkan secara aktual, dan apa yang dilaksanakan itu baik atau tepat.

Pada hakekatnya pengajaran bahasa komunikatif ini terlihat menarik dan dari beberapa contoh tersebut nantinya dapat diadopsi ke dalam situasi-situasi wadah para siswa harus berkesinambungan menempuh ujian-ujian yang berdasarkan tata bahasa. Aneka ragam masalah ini pasti akan menuntut perhatian dan pemecahan kalau gerakan komunikatif dalam pengajaran bahasa ingin memperoleh tempat yang layak, ingin memperoleh momentum yang baik pada masa depan (Tarigan,1991:265-266).

Daftar bacaan:

Tarigan, Henry Guntur. 1991. Metodologi Pengajaran Bahasa Indonesia. Bandung: Angkasa.

 
Leave a comment

Posted by pada Juni 6, 2011 in Linguistik

 

Kaitkata:

Penguasaan Bahasa

Sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan orang lain dalam hidupnya karena manusia tidak akan mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu, manusia memerlukan alat yaitu bahasa sebagai sarana komunikasi antar- manusia dalam menjalin kerja sama, menyampaikan pikiran dan gagasan untuk berhubungan dengan orang lain.

            Bahasa merupakan alat komunikasi bagi manusia untuk menyampaikan pikiran dan perasaan yang dilakukan melalui proses belajar. Seseorang berbahasa tidak dapat secara tiba-tiba memiliki tata bahasa dalam otaknya lengkap dengan kaidahnya, tetapi proses belajar bahasa bagi seseorang diperoleh melalui lembaga pendidikan dan lingkungan yang mempengaruhi seseorang untuk menggunakan bahasa yang dipakai sesuai dengan kaidah-kaidah atau aturan-aturan bahasa dilingkungan pemakai bahasa tersebut. Proses belajar penguasaan bahasa  dilakukan secara bertahap melalui pengenalan terhadap benda-benda yang ada di sekitar lingkungan untuk membentuk kosakata. Penguasaan bahasa adalah sistem lambang bunyi yang abitrer dipergunakan untuk menentukan bentuk fonologis suatu kata oleh kata lain (Harimurti, 1982:165).

            Penguasaan bahasa dapat dilakukan secara aktif dan pasif. Penguasaan bahasa secara aktif adalah kemampuan untuk mengungkapkan pikiran dan gagasan dengan menggunakan bahasa yang baik melalui lisan dan tulis. Seseorang berbahasa secara aktif yaitu seseorang mampu mengungkapkan gagasan dan pikiran kepada orang lain, serta mampu memahami dan mengerti bahasa orang lain baik secara lisan maupun tulisan.

            Tahap pengusaan bahasa pada anak dipengaruhi oleh perkembangan jiwa dan usia anak. Pada waktu anak belajar berbahasa ia harus mendengarkan lebih dahulu kata-kata atau kalimat yang diujarkan orang lain (Pateda, 1994:63). Kata-kata dan kalimat yang diujarkan orang lain dihubungannya dengan proses berpikir, kegiatan, benda yang disaksikan. Ini berarti anak menghubung-hubungkan apa yang ia dengar dan ia lihat melalui proses berpikir yang kemudian diungkapkan dalam bentuk kata atau kalimat yang sederhana. Proses penguasaan bahasa bagi anak murid kelas satu Sekolah Dasar dilakukan melalui permainan yaitu menerapkan suatu teknik pengajaran pada anak yang berupa belajar sambil bermain. Anak diperkenalkan sesuatu yang ada dilingkungan disekelilingnya baik berupa benda maupun suatu kegiatan yang dilakukan seseorang dengan harapan anak mampu mengenal benda dan kegiatan yang dilakukan seorang.anak bisa menyebutkan melalui bentuk kata atau kalimat untuk memperkaya kosakata yang dimiliki oleh anak. Penguasaan kosakata pada anak dipengaruhi kondisi anak dalam belajar berbicara dan status orang tua.

            Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada Juni 6, 2011 in Linguistik

 

Kaitkata: ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.